Bab 10 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 

Malam mulai larut. Lampu kamar tidur utama rumah besar itu sudah diredupkan. Di atas ranjang king size berwarna krem, Marini dan Pak Harun duduk bersandar di sandaran kayu ukiran jati, masing-masing dengan pikiran sendiri. Di tangan Pak Harun tergenggam sebuah buku yang sejak tadi tak kunjung dibacanya. Pandangannya kosong menatap lembaran terbuka, pikirannya melayang jauh.


Marini duduk di sampingnya, wajahnya muram, matanya sembab akibat tangisan siang tadi yang belum juga surut.


"Bagaimana keadaan Daniel?" tanya Pak Harun tiba-tiba, suaranya datar, nyaris tanpa ekspresi. "Dia suka Tika merawatnya?"


Marini menarik napas panjang, matanya memandang kosong ke depan sebelum menjawab.


"Dia suka... Tika memang pandai mengambil hati anak-anak," jawabnya perlahan. "Tapi... bukankah lebih baik kalau Lydia sendiri yang merawat anaknya?"


Pak Harun hanya mendengus kecil. Matanya tetap tertuju ke buku yang sedari tadi tak berpindah halaman.


"Sampai kapan kita harus kurung dan sakiti anak kita, Pa? Sampai kapan?" suara Marini mulai meninggi, nadanya penuh luka dan protes. Tatapannya tajam mengarah ke suaminya.


Pak Harun menghela napas, jemarinya mengetuk perlahan sampul buku yang digenggamnya.


"Aku sengaja tak letakkan kipas atau pendingin udara di tempat itu." Suaranya datar, tenang tapi penuh perhitungan. "Biar dia rasa panas. Biar dia rasa betapa teruknya dunia kerana lelaki gembel itu."


Ibu Marini tersenyum sinis, matanya tajam memandang suaminya di sebalik sedu sedannya 


"Pa..." Suara Marini kedengaran pahit. "Lydia itu seorang ibu. Seorang ibu yang Papa sendiri pisahkan dari anaknya" Dia pusingkan badanya menghadap suaminya. "Walau Papa beri dia istana sebesar mana, dinding bertatah emas sekalipun... selama anak yang satu-satunya Papa rampas itu tak ada di sisi dia......."


Dia berhenti..... suaranya menurun, namun lebih menikam.


"...Dia tetap akan menderita."


Pak Harun tidak membalas. Dia memandang isterinya seketika, kemudian berpaling ke hadapan.


"Biar dia menderita." Ucapnya perlahan, tapi tegas. "Lebih baik dia menderita sekarang daripada dia terus hidup dalam bayang lelaki tak guna tu."


Ibu Marini menggenggam tangan sendiri, cuba menahan air mata yang hampir jatuh. Dia tahu suaminya keras hati. Dia tahu lelaki itu terlalu takut kehilangan anak mereka pada lelaki lain. Tapi sebagai seorang ibu... hatinya tetap remuk melihat Lydia diperlakukan begitu.

"Sampai kapan Pa....?"


"Sampai dia benar-benar mahu melupakan lelaki itu," jawab Pak Harun, tegas dan dingin.


Marini menggeleng, suaranya bergetar. "Itu suaminya, Pa... ayah dari anaknya... tidak mungkin dia bisa melupakan begitu saja."


Pak Harun mendongak, sorot matanya tajam, dingin. "Jadi? Kita biarkan dia terus dalam pelukan lelaki itu? Terus melawan kita? Melupakan segalanya demi cinta buta?"


"Berdosa, Pa..." bisik Marini, matanya berkaca-kaca. "Berdosa memisahkan istri dari suaminya... memisahkan anak dari ibunya..."


Pak Harun mengetap rahangnya, suaranya sedikit meninggi, meski tetap bernada rendah dan menekan. "Dia lebih berdosa, Ma... melawan orang tuanya yang sudah melahirkan, membesarkan, dan menjaga dia selama dua puluh tiga tahun... hanya demi lelaki penjual sate jalanan yang baru dia temui!"


Air mata Marini akhirnya tak terbendung. Dia menangis tersedu-sedu, tubuhnya berguncang menahan isak.


Pak Harun diam sejenak, lalu mengembuskan napas berat. "Hari ini... Ririn kata dia merusak pintu kamar. Mungkin cuba mau keluar "ucapnya lirih, tapi jelas.


Marini terkejut, menoleh ke arah suaminya. "Apa?"


"Dia menggedor-gedor pintu, katanya sakit perut... minta dibawa ke rumah sakit. Agus dan Tris panik, buka pintu. Tapi ternyata dia cuma akal-akalan. Dia coba kabur... tapi mereka sempat menghalangnya."


Marini mengesat air matanya dengan punggung tangan. Dadanya semakin sesak.


"Jangan dikurung lagi Pa?" Rayu isterinya diselangi sedu sedan.


Pak Harun meletakkan bukunya di atas meja samping tempat tidur. "Kamar itu bagus, Ma. Papa sudah minta Bobby siapkan sebaik mungkin."

Kata Pak Harun sambil meletak buku yang dipegangnya di atas meja tepi katilnya.

"Tapi... tak perlu terlalu nyaman, kan? Cukup untuk tahanan."


Tubuh Marini menegang. Dia memutar badannya, memandang suaminya dengan mata merah berair. "Papa... Papa anggap anak kita tahanan? Hanya karena dia mencintai lelaki yang buat dia bahagia?"


Pak Harun tak menjawab. Hanya matanya yang menatap lurus ke depan, dingin dan keras.


"Atau... Papa mau pindahkan dia ke gubuk di lembah?" sambung lelaki itu, suaranya tegas, penuh ancaman.


"Jangan, Pa... jangan..." suara Marini nyaris seperti raungan tertahan. Tubuhnya bergetar. Dia tahu betul bagaimana keadaan rumah tua di lembah itu.


Rumah terpencil, jauh dari jalan utama, jauh dari pasar desa. Jalan tanah yang becek dan berlumpur bila hujan, jangkrik yang tak henti bersuara tak kenal waktu, dan deru air terjun di malam hari yang mencekam.


Belum lagi pohon-pohon besar yang mengelilingi rumah tua itu. Saat malam tiba, bayangan pepohonan itu tampak seperti sosok-sosok menakutkan. Ketika angin kencang bertiup, suara daun-daun yang saling bergesekan terdengar seperti deru sayap Garuda yang menggetarkan jiwa.


"Jangan, Pa... tempat itu... menyeramkan... Lydia bisa sakit jiwa di sana..." isak Marini lirih, tubuhnya semakin lemah oleh tangis dan keputusasaan.


Pak Harun masih diam, wajahnya dingin, matanya menerawang. Keputusannya bulat. Cinta, dendam, dan ego bercampur jadi satu di hatinya yang keras.


Namun dia juga tidak sanggup menghantar puteri kesayangannya itu ke gubuk di lembah. Tempat itu bahaya untuk sesiapa saja yang tinggal di situ seorang diri apa lagi bagi seorang perempuan seperti Lydia.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini