Bab 11 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Malam itu, suasana di ruang tamu rumah besar itu terasa tegang. Lampu gantung kristal yang tergantung megah di langit-langit pun seakan redup cahayanya, seolah turut merasakan ketegangan yang menggantung di udara.


Pak Harun, Ibu Marini, dan Bobby Sugara duduk di sofa panjang. Wajah mereka serius, nada suara mereka rendah namun penuh tekanan.


Sesekali terdengar suara Pak Harun membentak, nada suaranya keras, bergetar penuh emosi.

Di sela perbincangan itu, suara tinggi Ibu Marini terdengar, diiringi isakan tangis yang ia cuba tahan.


Bobby duduk tenang, sesekali menunduk, sesekali tangannya terangkat, menepuk perlahan bahu Pak Harun, mencoba menenangkan lelaki yang telah ia anggap seperti abang kandung sendiri itu.


Perbincangan mereka berlangsung lama, penuh bisikan dan keputusan-keputusan penting yang tak boleh diketahui sembarangan orang.


Akhirnya, setelah beberapa saat, mereka tampak mencapai kata sepakat.


Bobby mengangguk pelan, wajahnya tegas.

"Baik, Mas Harun… saya mengerti. Semua akan saya atur."


Pak Harun menghembuskan napas berat, lalu berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia melangkah meninggalkan ruang tamu, menaiki tangga menuju lantai atas rumah.


Saat Bobby ikut berdiri, bersiap untuk pamit, Ibu Marini menahan lengannya. Wanita itu memegang lengan Bobby dengan lembut, matanya masih berkaca-kaca.


"Bobby… rancangan ini harus segera dilaksanakan dengan sebaik mungkin," ucap Ibu Marini pelan, namun nadanya tegas. "Jangan sampai Lydia tahu atau curiga. Kalau dia tahu… dia pasti akan membenci aku… membenci ayahnya."


Bobby mengangguk, wajahnya tenang namun serius.


"Baik, Mbak… saya akan laksanakan sesuai perintah Mas Harun."


Dia sempat melirik ke arah tangga, memastikan tak ada siapa-siapa yang menguping.


"Kebetulan hari Minggu nanti, saya dan Mas Harun ke Kuala Lumpur… hadiri forum bisnis. Itu waktu yang tepat untuk jalankan semua ini."


Ibu Marini menarik napas dalam, lalu mengusap lengannya perlahan.


"Terima kasih, Bob… dari dulu kamu memang harapan keluarga ini… hanya kamu yang kami percaya."


Bobby tak menjawab. Dia hanya menunduk hormat, lalu perlahan melangkah pergi meninggalkan ruang tamu.

Marini perlahan-lahan menaiki tangga menuju ke lantai atas. Hatinya terasa lega. Tiada lagi sesak di dadanya. Langkahnya dipercepatkan bila dia tiba2 di lantai atas. Kelihatan lampu di kamar kerja suaminya menyala. Dia mengetuk pintu kamar itu Dan menjenguk ke dalam. Kelihatan Pak Harun sedang berbicara dengan seseorang melalui telefon tangannya. Dia melambai tangan memberi isyarat kepada isterinya untuk masuk ke dalam.

"Mama tunggu papa di kamar....." Kata Ibu Marini Dan menutup semula pintu kamar itu lalu melangkah ke kamar tidur.

Tidak lama kemudian Pak Harun masuk ke kamar tidur. Dengan langkah perlahan dia menuju ke katil Dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Papa telefon Jasmine. Tanya Khabar ibu. Katanya ibu baik-baik saja".

"Alhamdulillah. Mudah-mudahan Ibu akan terus sihat dan bisa bertemu Lydia dan cucunya". Kata Ibu Marini sambil tangannya diangkat untuk berdoa.

"Aamiin.....Aamiin" Sambung Pak Harun.

Sementara rahasia besar mereka malam itu tetap terkunci rapat di antara dinding rumah mewah itu.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini