Bab 12 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Pak Andika Prasetyo melangkah masuk ke ruang kerja Pak Harun. Mereka berjabat tangan, lalu Pak Harun mempersilakan sepupunya itu duduk.


“Penyakit kanker Ratna sudah masuk tahap kritikal,” ujar Pak Andika dengan suara berat. “Aku sudah menghubungi Andrian, minta dia segera kembali ke Indonesia.”


Pak Harun mengangguk perlahan. Ada gurat kelelahan di wajahnya, namun dia tetap kelihatan tenang.


“Aku turut prihatin, Dik.” Pak Harun menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan “Bagaimana dengan perusahaanmu di Bandung? Sudah ada pengganti Pak Trisno?” tanya Pak Harun sambil menatap wajah Andika yang terlihat penat.


“Itu yang masih membuatku bingung, Mas. Akhir bulan ini, masa pensiun Pak Trisno sudah tiba, tapi aku belum menemukan calon pengganti yang tepat,” jawab Andika sambil menghela napas panjang.


“Bobby bisa saja menggantikan untuk sementara waktu... sampai kau temukan orang yang benar-benar cocok,” usul Pak Harun dengan tenang.


Andika tersenyum lelah. “Aku kasihan sama Bobby, Mas. Dia harus bolak-balik Jakarta–Bandung. Itu bukan hal yang ringan.”


“Dulu juga dia begitu waktu almarhumah istrinya masih bekerja di cabang Bandung, kan?” sahut Pak Harun, mengingatkan.


“Iya, Mas... tapi waktu itu dia ke Bandung hanya untuk menemui istrinya, bukan untuk bekerja,” jawab Andika perlahan.


“Lalu apa bedanya sekarang? Istrinya sudah tiada. Jadi kalau dia harus ke Bandung sekarang, tak ada lagi yang ditinggalkan. Dia bisa fokus menggantikan posisi Pak Trisno sampai kau dapatkan pengganti tetap,” ujar Pak Harun dengan nada meyakinkan.


Andika terdiam sejenak, lalu berkata, “Mas… memegang dua tanggung jawab di dua perusahaan besar bukan perkara mudah. Aku sendiri sudah merasa kelelahan hanya dengan mengurus satu cabang.”


Pak Harun tertawa kecil. “Itu karena kita sudah tua, Dik. Tapi Bobby… dia masih muda, tenaganya masih penuh. Biarkan dia bantu, paling tidak untuk sementara waktu.”


Pak Andika terdiam. Tiada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia tahu, membantah kata-kata Mas Harun hanyalah perbuatan sia-sia. Sejak dulu, Harun memang begitu. Apa pun yang berkaitan dengan Bobby, dia selalu menganggap lelaki itu sanggup melakukan segalanya. Seolah-olah Bobby tidak pernah lelah. Seolah-olah Bobby itu manusia setengah dewa yang tak pernah punya batas.


Yang lebih menyakitkan, Mas Harun tak pernah peduli akan perasaan Bobby. Tak pernah sekalipun bertanya, apakah Bobby setuju atau tidak. Baginya, Bobby hanya perlu menurut—tak lebih dari sekadar boneka hidup yang bisa diatur sesuka hati.


Begitu juga dulu, ketika Harun memutuskan untuk melamar Jennisa bagi pihak Bobby. Tanpa berbincang, tanpa bertanya, tanpa memberi ruang untuk Bobby bersuara. Hanya satu yang dikatakannya, “Jennisa itu tergila-gila padamu. Nikahilah dia. Lagi pula, dokter bilang usianya paling lama dua atau tiga tahun saja.”


Andika masih ingat bagaimana Harun menyeretnya ke dalam permainan kotor itu—berbohong pada Bobby tentang usia sebenar puterinya, hanya untuk memastikan rancangannya berjalan lancar. Bobby dijebak dalam pernikahan yang bukan pilihannya. Dan Jennisa… anaknya sendiri… menjadi alat dalam permainan itu.


Tapi yang lebih tidak masuk akal, Harun langsung menutup mata pada perasaan adiknya satu-satunya, Jasmine. Wanita itu telah lama mencintai Bobby dalam diam. Namun perasaan itu tidak pernah dianggap. Harun seolah lupa, adiknya pun manusia… yang punya hati, yang tahu mencinta… dan tahu luka.

 “Aku harus menghadiri World Economic & Business Forum di Kuala Lumpur minggu depan. Jadi, selama aku tidak ada di sini, aku ingin kamu yang urus semua urusan kantor. Aku percayakan semuanya kepadamu.”

Pak Andika hanya mengangguk.


“Aku akan pergi bersama Bobby Sugara. Dia lebih mahir berbahasa Inggris, Jepang, bahkan Arab. Lebih mudah nanti untuk urusan di sana,” tambah Pak Harun.


Tanpa menunggu lama, Pak Harun menghubungi Bobby melalui telepon dan memintanya masuk ke ruang kerja.


Tidak lama kemudian, Bobby masuk. Lelaki itu langsung menghampiri mereka dan berjabat tangan dengan Pak Harun serta Pak Andika.


Pandangan Pak Andika tertuju pada menantu sekaligus keponakannya itu. Ada rasa simpati yang tidak mampu dia sembunyikan. Dia tahu betul, Bobby tidak pernah bahagia selama pernikahannya dengan almahrum Jennisa, putrinya sendiri.


Diam-diam Pak Andika mengamati wajah lelaki itu. Usia Bobby memang sudah menginjak 45 tahun, namun pesona ketampanannya masih jelas terlihat. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya tajam. Jelas, dia bukan berdarah Indonesia sepenuhnya.


Sampai hari ini, keluarga mereka masih tidak tahu asal-usul pasti Bobby. Yang mereka tahu, Bobby adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Pihak panti hanya memberitahu kemungkinan besar ayah Bobby berasal dari Uzbekistan, sedangkan ibunya adalah orang Indonesia. Hanya itu yang mereka ketahui.


Wajar saja kalau dulu Jennisa begitu tergila-gila pada Bobby, meskipun dia tahu lelaki itu sebenarnya menyintai Jasmine — sepupu Jennesia sendiri, anak kandung Pak Harun.


Kini, setelah Jennisa pergi, Pak Andika tahu cepat atau lambat Bobby pasti akan menikahi Jasmine, wanita yang memang selalu ada di hati Bobby.


Ada penyesalan yang perlahan menjalar di hati Pak Andika. Selama ini, dia dan Pak Harun memaksa Bobby menikahi Jennisa, semata-mata kerana penyakit kanker darah yang dihidap putrinya itu. Mereka mohon agar Bobby dapat membuat Jennisa bahagia di sisa hidupnya.


Namun ternyata, mereka salah besar.


Jennisa tidak pergi dalam waktu singkat seperti yang mereka sangka. Setelah 20 tahun pernikahan tanpa cinta, barulah maut menjemputnya. Dan selama 20 tahun itu pula, Bobby dan Jennisa hidup dalam rumah tangga yang hambar, penuh kepura-puraan.


Pak Andika menarik nafas panjang. Semua sudah terjadi. Sekarang, dia hanya bisa berharap, hidup Bobby setelah ini akan lebih baik — meski luka lama di hati lelaki itu mungkin belum benar-benar sembuh.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini