Bab 13 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Malam itu sunyi. Ruang bawah tanah yang gelap itu hanya diterangi cahaya samar dari lampu di sudut ruangan. Lydia tertidur di atas ranjang, tubuhnya lelah, pikirannya terus diliputi keresahan tentang anaknya, Daniel.
Entah sudah jam berapa, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang dingin menyentuh wajahnya.
Lydia mengerutkan kening, setengah sadar. Ada tangan… meraba pipinya perlahan. Lembut, tapi dingin dan asing.
Matanya terbuka cepat, dan sebelum sempat dia bergerak, tangan itu menekan kuat ke hidung dan mulutnya. Bau menyengat langsung menusuk inderanya.
"Mmmhh…!" Lydia meronta, tangannya mencakar ke udara, tubuhnya memberontak. Namun, jeritannya tertahan oleh tangan kasar yang menutup rapat hidung dan mulutnya. Bau kloroform itu semakin kuat, menghantam paru-parunya.
Tubuhnya perlahan melemas… pandangannya mengabur… dunia di sekitarnya perlahan-lahan menghitam… hingga akhirnya segalanya lenyap.
-------
Cahaya lampu kamar menerpa matanya. Aroma lembut pewangi ruangan tercium samar. Dia terbaring di atas ranjang empuk dengan seprai putih bersih. Terasa dingin dari ac menerpa tubuhnya. Kepalanya masih pening, tubuhnya lemas.
Di sisinya, Ibu Marini duduk sambil menggenggam tangannya. Di dekat pintu, terlihat Tika berdiri dengan wajah tegang Dan ditangannya Ada segelas air putih.
Lydia mengerjap-ngerjap. Dadanya sesak, pikirannya kacau.
"Di… di mana aku…?" suaranya parau.
Ibu Marini langsung memeluknya erat. "Kamu sudah di rumah, sayang… di kamarmu…"
Lydia menarik napas dalam, matanya membesar. "Daniel… mana Daniel? Mana anakku, Bu?!" suaranya meninggi, panik.
Ibu Marini menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. "Sayang… penculik… mereka… mereka cuma ninggalin kamu di depan gerbang rumah… setelah Ayahmu bayar uang tebusan…"
Lydia ternganga, jantungnya berdegup kencang. "Tebusan? Siapa… siapa yang nyulik aku Bu…?"
Ibu Marini mengusap rambut Lydia, suaranya bergetar.
"Mereka minta 1,5 miliar rupiah… Papa kamu sudah bayar… mereka cuma taruh tubuh kamu di depan pagar… lalu pergi begitu saja…"
Lydia merasa dunia berputar. Dadanya sesak, pikirannya makin kacau. Ya Allah apakah nasib anaknya?
"Daniel… gimana dengan Daniel? Apa mereka bawa dia? Apa mereka kasih kabar…? Daniel Masih hidup kan Bu?" air matanya mengalir deras.
Ibu Marini memeluknya erat, suaranya serak menahan tangis.
"Belum ada kabar tentang Daniel… mereka belum bilang apa-apa… tapi kita akan cari, Sayang… Papa kamu nggak akan diam… percayalah…"
Lydia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Hatinya hancur. Anaknya masih hilang… dan dia sendiri terjebak dalam permainan kejam yang belum dia tahu ujungnya.
Comments
Post a Comment