Bab 15 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Pak Harun berdiri tegak di tengah ruang tamu. Sorot matanya dingin, keras, dan tak bisa digoyahkan.


Di lantai, Lydia berlutut sambil memegang kedua kaki ayahnya. Tubuhnya gemetar, air matanya mengalir tanpa henti. Suara tangisnya memenuhi ruangan.


Di sudut lain, Ibu Marini dan Tante Jasmine ikut menangis, hati mereka hancur melihat penderitaan Lydia. Jasmine menggenggam erat tangan Marini, berusaha memberi kekuatan, meski dirinya sendiri nyaris roboh.


Sementara itu, Bobby Sugara duduk di sofa, wajahnya kaku, matanya tertunduk. Pandangannya dialihkan dari tubuh Lydia yang kurus dan menderita. Dia tak sanggup melihat adegan itu, tak sanggup menyaksikan putri yang selama ini begitu disayangi Pak Harun diperlakukan sebegitu kejam oleh ayah kandungnya sendiri.


Berdosakah Lydia hanya karena mencintai lelaki yang tak setara dengannya? Bisikan hati itu menusuk dada Bobby.


Pak Harun menatap tajam ke bawah, ke arah Lydia yang terisak.


"Aku mau dengar sekali lagi pengakuan dari mulutmu," suaranya keras dan tegas.


Lydia masih menunduk, suaranya serak, lemah di sela isak tangisnya.


"Pa…" suaranya nyaris tak terdengar. "Aku janji…" katanya, lalu terhenti sejenak, berusaha menarik napas di tengah tangisnya. "Aku akan lupakan Hisham… aku tidak akan berhubung lagi dengannya… aku akan lupakan Hisham… selama-lamanya…"


Tubuh Lydia tiba-tiba melemah, lalu rebah ke lantai, terkulai tak berdaya.


Marini dan Jasmine cepat-cepat menghampirinya, mengangkat tubuh Lydia yang lemah. Namun Lydia masih sempat mengangkat tangannya, memohon kepada ayahnya, wajahnya penuh air mata.


"Tolong, Ayah… tolong… selamatkan Daniel…" suaranya nyaris tak terdengar.


Bobby dan Pak Andika hanya diam membisu menyaksikan peristiwa itu. Tak ada kata-kata yang bisa diucapkan.


Pak Harun berdiri lebih tegap. Suaranya menggema di ruangan itu.


"Dengar semua yang ada di sini. Lydia sudah membuat pengakuan dari mulutnya sendiri… dia tidak akan lagi berhubungan dengan lelaki gembel itu. Artinya… dia tidak lagi punya hubungan apa pun dengan lelaki itu!"


Selesai berkata demikian, Pak Harun melangkah tegas menuju tangga spiral yang menghubungkan ruang tamu dengan lantai atas.


Sebelum kakinya menginjak anak tangga pertama, dia berpaling ke belakang.


"Bobby… temui aku di kamar kerja."


Bobby hanya mengangguk perlahan, lalu mengikuti instruksi itu.



---


Babak di Kamar Kerja


Bobby mengetuk pintu kamar kerja Pak Harun, lalu mendorong daun pintu yang tidak terkunci. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menerpa wajahnya.


Pak Harun mengangkat wajah dari berkas-berkas yang tersusun rapi di mejanya.


"Masuk, Bob," ucapnya tenang namun tegas.


Bobby melangkah masuk dan duduk di hadapan Pak Harun. Ruangan itu sudah begitu familiar baginya. Dia sudah terlalu sering masuk ke kamar kerja itu. Setiap sudut ruangan itu… dia hafal.


Pak Harun meletakkan berkas, lalu bersandar.


"Nanti jam tujuh malam, kamu dan Jasmine keluar. Bilang ke Lydia, kalian akan menyerahkan uang tebusan dan membawa Daniel pulang."


Bobby mengangguk. "Baik, Mas."


Pak Harun menarik napas, lalu menyambung.


"Tika dan Daniel ada di restoran KFC di ujung komplek ini… sesuai yang sudah kita bicarakan. Nanti kamu pulang lewat jalan blok. Turunkan Tika di situ. Dia bisa jalan kaki ke rumah."


Bobby hanya mengangguk lagi. Suaranya pelan. "Baik, Mas."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Bobby berdiri, memberi hormat singkat, lalu melangkah keluar dari kamar kerja itu.


Namun, hatinya… penuh sesak dan rasa bersalah yang tak mampu dia sembunyikan.

------


Jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Udara malam di komplek perumahan elit itu terasa dingin, namun hati Bobby Sugara dan Jasmine terasa jauh lebih dingin daripada cuaca di luar.


Di ruang tamu, Lydia duduk di sofa, tubuhnya masih lemah. Ibu Marini memegang tangannya erat, berusaha menenangkan putrinya yang masih menangis sesekali.


Bobby dan Jasmine melangkah ke arah mereka. Bobby berjongkok di depan Lydia, sorot matanya lembut meski hatinya remuk.


"Lydia… aku dan Tante Jasmine akan keluar sebentar. Kami akan serahkan uang tebusan itu. InsyaAllah… Daniel akan segera kembali," ucap Bobby perlahan.


Lydia memandang Bobby dengan mata merah dan sembap.

"Bawa pulang Daniel Om… tolong bawa pulang anakku Tante… aku mohon…" suaranya bergetar, penuh harapan.


Jasmine yang berdiri di samping Bobby menyentuh bahu Lydia lembut.

"Tenang ya, Sayang… kami akan pastikan Daniel selamat."


Tanpa berkata apa-apa lagi, Bobby bangkit, lalu bersama Jasmine berjalan keluar rumah. Suasana sepi menyelimuti halaman depan bungalow mewah itu.


Mereka masuk ke dalam mobil hitam yang sudah terparkir di depan. Bobby yang memandu, Jasmine duduk di kursi penumpang, wajahnya dingin menatap keluar jendela.


Mobil meluncur pelan keluar komplek perumahan.


Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam. Tak ada kata-kata yang keluar. Beban di dada mereka terlalu berat untuk diungkapkan.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di restoran KFC di ujung komplek. Restoran itu sudah mulai sepi, hanya beberapa meja yang terisi.


Dari kejauhan, Bobby melihat Tika duduk di sudut ruangan, memangku seorang anak kecil yang tertidur lelap di bahunya.


Bobby dan Jasmine masuk. Tika segera berdiri, wajahnya tegang.


"Daniel baru saja lelap Non....," ucap Tika lirih. "Daniel suka sekali mkn kentang hancur itu" Dia menyerahkan bocah itu kepada Jasmine. Jasmine segera memeluk bocah itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Bobby mengangguk. Dia melihat ke wajah kecil Daniel yang tertidur. Hatinya bergetar. Bocah itu terlalu polos untuk menjadi korban permainan orang dewasa.


"Kau pulang lewat jalan blok, seperti biasa. Turun di tikungan dekat taman. Jalan kaki ke rumah," ucap Bobby tegas.


Tika mengangguk. Dia mengambil tas kecil yang berisi botol Susu dan tuala kecil kepunyaan Daniel kemudian mengikuti Bobby Dan Jasmine Dari belakang.


"Anak sekecil ini… harus menanggung rencana kotor keluarganya sendiri…" bisik Jasmine dalam hati.


Tanpa buang waktu, mereka keluar dari restoran. Jasmine memeluk Daniel erat, Bobby memandu mobil menuju jalan belakang sesuai arahan Pak Harun.


Tika turun di tikungan taman. Sambil membawa tas kecilnya, dia berjalan kaki pulang ke bungalow keluarga Pak Harun, seolah-olah dia baru saja menerima Daniel dari tangan penculik.


Sementara itu, Bobby dan Jasmine meneruskan perjalanan mengitari blok sebelum kembali ke rumah besar itu.


Di dalam hatinya, Bobby hanya bisa berharap… semoga semua ini segera berakhir… sebelum semuanya benar-benar hancur.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini