Bab 16 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Hari-hari berlalu, waktu seolah mencoba menghapus semua luka yang pernah menggores hati keluarga itu.
Lydia kini tampak bahagia. Senyum menghiasi wajah cantiknya. Tubuhnya semakin segar, penampilannya anggun dan rapi, layaknya seorang wanita muda yang sedang menikmati peran sebagai ibu tunggal yang kuat.
Dia gigih membesarkan Daniel, memberikan kasih sayang yang tak terbatas. Hari-harinya sibuk mengurus putranya, meladeni keluarga, dan sesekali menemani ayah dan ibunya di meja makan, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Hubungannya dengan Pak Harun juga terlihat membaik. Mereka sering berbicara, duduk bersama, bahkan sesekali tertawa kecil, seolah luka lama telah sirna.
Sementara itu, kabar bahagia juga datang dari Bobby dan Jasmine. Mereka akhirnya menikah, setelah sekian lama terhalang restu dan keadaan.
Pernikahan mereka disambut penuh suka cita oleh keluarga besar. Pak Harun menghadiahkan mereka sebuah rumah mewah di kawasan elit Pondok Indah sebagai hadiah pernikahan.
Pak Andika turut senang melihat kebahagiaan itu. Semua seolah sempurna… di mata orang luar.
Namun, di balik senyum Lydia, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Cinta di hatinya belum mati… bayang-bayang Hisham masih setia bertahta di ruang terdalam hatinya.
Hanya dia dan Tuhan yang tahu… setiap malam, atau setiap kali dia masuk ke kamar mandi, berdiri di bawah pancuran air yang mengalir deras, dia akan menangis sepuas-puasnya.
Air mata itu mengalir bersama air dari shower, membawa semua rindu, sakit hati, dan penyesalan yang tak pernah mampu dia ucapkan.
Di sela isak tangisnya, hanya satu nama yang terus terucap dalam hatinya…
Hisham…
Comments
Post a Comment