Bab 17 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Rumah sakit itu terasa dingin dengan dinding putih dan bau obat-obatan yang begitu kuat. Lydia menggenggam erat tangan kecil Daniel sambil berjalan perlahan di lorong menuju taman kecil di sisi gedung rumah sakit.
Dia tahu, dia tak diizinkan masuk ke dalam ruang rawat Tante Ratna, isteri Pak Andika, kerana kanak-kanak tidak dibenarkan masuk ke area tersebut. Pak Harun dan Ibu Marini yang pergi menjenguk Tante Ratna, sementara Lydia menunggu di luar bersama Daniel.
"Mama, kapan kita boleh pulang?" tanya Daniel manja, memeluk lengan ibunya.
"Sebentar lagi, Sayang. Kita tunggu Nenek dan Kakek selesai menjenguk, ya."
Mereka berjalan perlahan di lorong rumah sakit. Saat melintasi satu selekoh, tiba-tiba dari arah berlawanan, seorang lelaki bergegas keluar dari ruang rawat. Bahu mereka berlanggar tanpa sengaja.
"Maaf…" Lelaki itu segera menoleh.
"Maaf…" Lydia juga reflek menunduk sopan, lalu menarik Daniel ke sisi.
Mereka bertatapan sejenak. Lelaki itu — tampak letih, matanya merah seperti habis menangis, namun dia tetap membalas pandangan Lydia dengan tatapan ramah. Daniel memegang erat tangan ibunya, sedikit bersembunyi di balik tubuh Lydia.
Pria itu tersenyum kecil kepada anak itu, namun tidak berkata apa-apa lagi.
Lydia segera melangkah menjauh, hatinya tiba-tiba terasa berdebar tanpa alasan. Dia menarik Daniel agar cepat-cepat meninggalkan lorong itu.
"Ayo, Sayang. Kita tunggu di taman saja."
Pria itu menoleh ke arah mereka yang semakin jauh. Entah kenapa....hatinya berdetak dan reflek dia memandang ke arah wanita dan bocah kecil yang kian menjauh dan hilang di sebalik selekohan.
-----
Keesokkan harinya, Lydia pergi lagi besuk ke rumah sakit menjenguk Ratna isteri Pak Andika. Kali ini dia pergi bersama Dani dan Tika kerana ibu dan ayahnya menghadiri peresmian pembukaan showroom Mobil milik sahabat Pak Harun. Ketika dia masuk ke ruang ICU, Tika membawa Dani bermain di taman kecil rumah sakit yang ada di sisi gedung rumah sakit.
Setelah selesai menjenguk Tante Ratna di ruang ICU, Lydia melangkah keluar dari rumah sakit. Udara pagi masih terasa segar, namun hatinya diliputi rasa berat kerana kasihan melihat keadaan wanita yang dia kenal sebagai wanita gigih dan mandiri.
Matanya tertuju ke arah taman kecil di sebelah gedung rumah sakit. Dari kejauhan, dia melihat Tika sedang duduk di ayunan, kakinya diayun perlahan seperti anak kecil. Senyum tipis terukir di wajah gadis itu, menikmati waktu luang setelah sekian lama berada di rumah sakit.
Namun… Dani tidak terlihat di mana-mana.
Jantung Lydia berdegup kencang. Wajahnya seketika berubah pucat. Kenangan hitam tentang penculikan Daniel setahun lalu tiba-tiba menerpa fikirannya.
Tanpa membuang waktu, Lydia mempercepat langkahnya ke arah Tika.
"Tika! Mana Dani?!" suara Lydia terdengar panik, nadanya meninggi tak dapat dia kawal.
Tika terkejut mendengar nada suara majikannya. Cepat-cepat dia menghentikan ayunan dan berdiri tegak.
"Main sama Om itu, Bu," jawab Tika polos, menunjuk ke sudut taman di balik pohon besar.
Langkah Lydia terhenti seketika. Kata-kata "Om itu" bergema di telinganya.
Om siapa? Siapa lelaki itu?
Tubuh Lydia mulai gemetar. Rasa takut menghantui fikirannya. Dia tak sanggup kehilangan anaknya lagi.
"Om? Om siapa? Kamu kenal orang itu?!" suara Lydia meninggi, hampir saja dia menangis.
Tika gelagapan, wajahnya ikut panik. "Saya… saya nggak kenal, Bu… Tapi Dani tadi main di situ… saya kira Om itu kenalan Ibu…"
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Lydia melangkah cepat menuju sudut taman yang dimaksud. Detak jantungnya berdegup kencang. Tangannya bergetar. Bayangan Daniel kembali diculik membuat kakinya nyaris lemas.
Di balik pohon besar itu, matanya langsung mencari-cari.
Dan di sana… dia melihat Dani sedang duduk di bangku taman…
Bermain mobil-mobilan kecil sambil tertawa pelan.
Di sampingnya, seorang lelaki muda, tinggi, berkulit sawo matang dengan wajah serius namun teduh. Lelaki itu tengah jongkok di depan Daniel, mengelus kepala bocah kecil itu sambil berbicara lembut.
Lydia menahan nafas. Matanya terbelalak.
Itu… lelaki yang sama… lelaki yang ditemuinya beberapa kali di rumah sakit… mungkin kah lelaki ini.......
Pria yang sejak tadi memang menjaga Daniel, menoleh saat melihat Lydia berdiri di situ dengan wajah cemas.
"Jangan khawatir, Bu… anak Ibu aman kok sama saya," ucapnya dengan nada tenang, seolah mengerti ketakutan Lydia.
Lydia menarik nafas panjang, masih memeluk dadanya yang berdebar. Dia merasa lega… namun perasaan cemas itu masih belum sepenuhnya hilang.
"Tolong… lain kali kasih tahu saya dulu… saya kira Dani hilang…," bisiknya perlahan, nadanya masih bergetar.
Maaf, Bu…" suara lelaki itu akhirnya memecah keheningan. Nada suaranya dalam dan tenang, tapi jelas ada rasa bersalah di situ.
"Tadi saya lihat anak Ibu main ayunan sama kakaknya. Pas saya tegur, anak Ibu ini langsung ikut saya ke sini…"
Pria itu melirik ke arah Dani yang masih berdiri di samping Lydia.
"Kakaknya sempat melarang, tapi saya bilang nggak apa-apa… saya kenal sama Dani dan… saya kenal juga sama Ibu," tambahnya pelan, senyum tipis terukir di sudut bibirnya.
Lydia terdiam, hatinya masih berperang antara lega dan marah. Dia memandang lelaki itu lebih teliti. Tatapan matanya… wajahnya… lelaki ini… lelaki yang dia temui beberapa kali di rumah sakit.
"Maaf kalau saya buat Ibu panik… saya cuma pengen nemenin Dani sebentar aja. Dia tadi bilang lagi bosan main dengan kakaknya," ucap lelaki itu lagi, nada suaranya jujur.
Dani mengangguk polos. "Mama… Om ini baik kok… Om tadi kasih aku permen…"
Lydia menarik nafas panjang. Rasa paniknya perlahan mereda, digantikan kelegaan yang sukar dijelaskan. Dia mengusap kepala Daniel dan kembali memandang lelaki itu.
"Terima kasih, Mas… tapi lain kali… tolong tanya saya dulu, ya…" katanya perlahan, cuba mengawal emosinya.
Lelaki itu mengangguk sopan. "Pasti, Bu… maaf sekali lagi…"
Lydia hanya mengangguk kecil, masih memeluk Daniel erat. Hatinya masih berdebar… bukan cuma kerana cemas… tapi entah mengapa, ada rasa aneh di dadanya setiap kali bertemu lelaki ini.
Pria itu hanya tersenyum kecil, menatap Lydia dalam-dalam. Di matanya, dia melihat seorang ibu yang begitu melindungi anaknya… dan entah mengapa, rasa kagum itu semakin tumbuh.
----
Keesokkan harinya, saat berjalan masuk ke lobi rumah sakit, Lydia berpapasan dengan Andrian yang sedang keluar dari kedai kopi di sudut lobi, membawa dua gelas kopi kertas.
Mereka bertatapan. Andrian tersenyum kecil.
"Kita sering bertemu ya," ucap Andrian ringan.
Lydia mengangguk sopan. "Sepertinya begitu."
"Putra kecil Ibu tidak ikut kali ini?"
Lydia tersenyum tipis. "Tertidur di mobil dengan kakaknya"
Andrian hanya mengangguk, lalu menyerahkan salah satu gelas kopi kepadanya.
"Untuk Ibu. Wajah Ibu kelihatan letih."
Lydia terkejut sejenak, lalu menolak halus. "Terima kasih… saya nggak biasa minum kopi pagi-pagi."
Andrian hanya tertawa kecil, lalu berlalu. Hati Lydia sedikit bergetar. Ada sesuatu pada lelaki itu — ketenangan… dan mungkin… sedikit rasa kasihan yang dia cuba sembunyikan.
---
Dua hari kemudian, Lydia kembali ke rumah sakit. Kali ini, dia pergi bersama Ibu Marini. Seperti biasa, tujuan mereka adalah menjenguk Tante Ratna, yang masih dirawat di ruang ICU.
Namun Lydia memilih untuk tidak masuk ke ruang rawatan. Dia tidak sanggup melihat suasana itu lagi, apalagi membawa Dani ke sana.
Anak kecil tidak diizinkan masuk ke ruangan ICU, dan Lydia juga tidak mahu Daniel berada di tempat ada orang sakit.
"Mama saja yang besuk Tante Ratna, aku tunggu di taman sama Dani," katanya pada Ibu Marini.
Ibu Marini mengangguk. "Jangan ke mana-mana ya, Lydia…"
"Iya, Ma," jawab Lydia sambil menggenggam tangan Dani erat.
Mereka pun melangkah ke taman kecil di samping rumah sakit. Suasana taman masih seperti biasa, beberapa keluarga pesakit duduk berbual atau sekadar melepas lelah.
Lydia duduk di bangku panjang, memangku Dani yang asyik memegang mobil-mobilan kecil di tangannya. Matanya sesekali melirik ke arah gedung rumah sakit, menunggu ibunya kembali.
Tiba-tiba, sosok seorang lelaki muncul di hadapannya. Lelaki berkulit sawo matang, tinggi, berwajah tegas namun teduh, dengan senyum tipis di bibirnya. Di tangannya dia membawa sebungkus cokelat.
Lelaki itu duduk di samping Lydia, jaraknya masih sopan.
"Kemarin Ibu nggak kelihatan di sini," katanya pelan, suaranya dalam dan tenang.
Lydia terkejut. Dia tidak menyangka lelaki itu muncul lagi, dan seolah sudah biasa berbual dengannya.
"Mas… buat apa di sini tiap hari? Ada keluarga yang sakit?" tanya Lydia, nadanya masih hati-hati, namun rasa ingin tahu jelas tergambar di wajahnya.
Lelaki itu tersenyum kecil, sorot matanya dalam memandang Lydia.
"Ada… Ibu saya…" jawabnya pelan.
Lydia mengangguk perlahan, rasa simpati mulai muncul di hatinya.
"Maaf ya kalau saya ganggu. Tapi… kayaknya anak Ibu betah main di sini," tambah lelaki itu, melirik ke arah Daniel yang sedang tertawa kecil sambil memainkan mobil-mobilannya. Pria itu memberi cokelat yang dibawanya kepada Dani.
"Terima kasih Om" kata Dani dengan gembira.
"Terima kasih Mas..." Ucap Lydia perlahan. Lydia tersenyum tipis, namun dalam hatinya, dia masih penasaran… siapa sebenarnya lelaki ini?
Lydia hanya mengangguk. "Tante saya dirawat di sini."
"Ibu saya juga…sudah dua minggu" ucap Andrian pelan. Ada nada duka yang tak mampu dia sembunyikan.
Lydia memandangnya sejenak, hatinya tersentuh.
"Saya doakan ibunya segera sembuh."
Andrian tersenyum pahit. "Terima kasih… meski saya nggak yakin… dia sudah tak sedarkan diri lama."
Hati Lydia bagai ditusuk perasaan simpati. Dia kenal rasa itu… rasa kehilangan, rasa takut kehilangan orang tersayang.
Comments
Post a Comment