Bab 18 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Pagi itu, suasana ruang makan keluarga Pak Harun dipenuhi aroma kopi dan roti bakar. Ibu Marini sibuk menyendukkan bubur ke dalam mangkuk kecil untuk Daniel, sementara Lydia duduk di sisi anaknya, sesekali membelai rambut si kecil itu yang sedang asyik mengaduk susu di gelasnya.
Pak Harun duduk di kepala meja, membuka surat khabar sambil menyeruput kopi hitamnya. Suasana rumah tenang, hanya terdengar suara televisi di ruang keluarga yang menyiarkan berita pagi.
Tiba-tiba, dering telefon genggam memecah keheningan. Pak Harun melirik layar, terlihat nama Pak Andika tertera di sana.
Tanpa berlengah, dia mengangkat panggilan itu. "Halo, Dik…"
Suara di seberang sana terdengar berat dan lemah. Hanya beberapa detik, wajah Pak Harun berubah tegang.
Matanya meredup, tangan yang memegang cawan kopi perlahan diletakkan ke meja.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un…," bisik Pak Harun, nadanya rendah namun jelas menggambarkan duka yang mendalam.
Ibu Marini yang mendengar itu langsung berhenti menyuap Daniel, memandang suaminya dengan dahi berkerut. Lydia juga ikut terdiam, firasatnya tidak enak.
Pak Harun menutup panggilan itu dan menatap isteri serta anaknya.
"Ratna… isteri Pak Andika… baru saja meninggal dunia," ucapnya perlahan, suara berat menahan emosi.
Ibu Marini menutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca. Lydia memeluk Daniel erat, rasa simpati menyelubungi hatinya, meski dia belum begitu mengenali keluarga sepupu ayahnya itu.
Pak Harun menarik nafas dalam-dalam, cuba menenangkan diri sebelum bangun dari tempat duduknya.
"Aku harus hubungi Bobby dan Jasmine," katanya tegas, langkahnya terus menuju ke ruang tamu.
Tak lama, dia menghubungi Bobby dan Jasmine, memberitahu berita duka itu. Suaranya tegas dan jelas, namun jelas ada nada sedih yang tidak dapat disembunyikan.
Kemudian, dia menelefon pejabatnya, menyampaikan berita duka kepada para staf. Dia meminta beberapa urusan rasmi dihentikan seketika, sebagai tanda penghormatan kepada keluarga besar mereka yang sedang berduka.
------
Suasana rumah Pak Andika pagi itu dipenuhi wajah-wajah muram. Bau kemenyan dan bunga melati samar tercium di udara, menambah suasana duka yang menyelimuti seluruh rumah besar itu.
Lydia melangkah perlahan di belakang Ibu Marini dan Pak Harun. Tubuhnya sedikit menggigil, bukan hanya kerana dinginnya hawa pagi, tetapi juga rasa simpati yang mengalir untuk keluarga besar mereka yang sedang berduka.
Di ruang tamu yang luas itu, jenazah Tante Ratna sudah terbaring kaku di atas dipan yang ditutupi kain putih. Beberapa kerabat dan tetangga duduk bersimpuh, sebagian membaca doa, sebagian lagi terdiam menunduk dengan mata sembab.
Langkah Lydia terhenti seketika.
Matanya membulat… jantungnya seperti tersentak.
Di sisi jenazah, duduk berlutut seorang lelaki berkulit sawo matang, mengenakan kemeja putih bersih, songkok hitam terpasang rapi di kepalanya. Wajahnya tertunduk, kedua tangan terlipat di pangkuannya, sesekali mengusap wajah menahan duka.
Meski wajah lelaki itu sedikit berbeza — lebih formal, lebih serius, diselimuti bayang duka — namun Lydia tidak mungkin salah mengenali sosok itu.
Pria itu… adalah pria yang selalu dia temui di taman rumah sakit.
Pria yang membuat hatinya berdebar tanpa dia sendiri faham kenapa.
Lydia tercekat.
Beberapa saat dia hanya berdiri mematung, memandang lelaki itu tanpa berkedip.
Lelaki itu perlahan mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu — sejenak, hanya beberapa detik, namun cukup membuat waktu seakan berhenti.
Tatapan mata pria itu redup, sayu, namun masih ada sinar ketegasan yang Lydia ingat dengan jelas.
Dia di sini…
Siapa sebenarnya lelaki ini?
Lydia melangkah perlahan ke arah jenazah. Langkahnya terhenti tepat di sisi pria itu. Dengan sopan, dia duduk di lantai di samping pria itu.
Dia menghela napas perlahan, lalu menundukkan kepala. Bibirnya bergerak pelan, membaca surah Al-Fatihah, menghadiahkan doa buat arwah Tante Ratna.
"Al-Fatihah…"
Selesai membaca, Lydia memejamkan mata sejenak. Dalam hatinya dia berdoa,
"Semoga roh Almarhumah Tante Ratna ditempatkan bersama roh orang-orang beriman… dan semoga Allah memberi ketenangan untuk keluarga yang ditinggalkan…"
Dia membuka matanya perlahan. Pria di sampingnya masih diam, namun tatapannya sayu memandang ke arah jenazah. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua, hanya doa dan keheningan yang berbicara.
Selesai melayat jenazah Tante Ratna, Lydia bangun mengikuti langkah kedua orang tuanya yang bergerak menuju ke sebuah ruangan di sisi rumah itu. Di ruangan tersebut, kelihatan Jasmine dan Bobby sedang berbincang perlahan bersama Pak Andika Prasetyo.
Lydia mengambil tempat duduk di samping ibunya dan Tante Jasmine. Mereka bertiga berbual dengan nada perlahan, menghormati suasana rumah yang masih diselubungi rasa duka.
Di sudut lain, Pak Harun, Bobby, dan Pak Andika juga berbincang sesuatu, suara mereka cukup rendah, hanya sesekali terdengar potongan kalimat yang tidak jelas.
Beberapa minit kemudian, sosok seorang pria muncul di ambang pintu ruangan itu. Wajahnya sugul, langkahnya perlahan, kopiah hitam di kepalanya dia betulkan sedikit dengan tangan.
Semua mata di ruangan itu tertuju ke arahnya. Lydia turut memandang lelaki itu, hatinya bergetar kecil. Wajah itu… dia kenal… dia pria yang tadi duduk di sampingnya ketika dia membaca Al-Fatihah untuk jenazah Tante Ratna.
Siapa dia…? bisik hati Lydia, sedikit gugup.
Pak Andika segera berdiri dan mendekati lelaki itu, tangannya menepuk lengan si pria dengan lembut.
"Perkenalkan… ini Andrian, anak saya… adik kandung dari almarhumah Jennisa," ucap Pak Andika memperkenalkan lelaki itu kepada keluarga Pak Harun.
Bobby turut bangun dari duduknya, langkahnya cepat menghampiri Andrian.
"Rian… takziah buat kamu. Semoga tabah dan ikhlas menerima kehilangan ini," kata Bobby sambil meraih bahu Andrian, lalu memeluknya dengan erat.
Pak Andika menoleh ke arah keluarga yang lain.
"Bobby memang sudah lama kenal Rian. Mereka selalu berhubungan… baik di Jakarta maupun waktu Rian masih di Amerika."
Andrian mengangguk perlahan. Selepas itu, dia menyalami satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Sampai di hadapan Lydia, tangannya terulur.
Saat bersalaman, mata Andrian menatap Lydia dengan lembut.
"Dani nggak ikut, Bu?" tanyanya tiba-tiba.
Lydia sedikit tersentak.
"Err… Dani di rumah… sama kakaknya," jawab Lydia gugup, berusaha menyembunyikan keresahan dalam suaranya.
Pak Andika memandang ke arah mereka berdua.
"Kalian sudah kenal sebelumnya?"
Andrian mengangguk ringan.
"Kami kebetulan sering ketemu di taman rumah sakit," jawabnya.
Pak Andika menambah, suaranya perlahan, "Andrian baru tiga minggu balik dari Amerika. Dulu waktu kakaknya sakit parah… dia nggak sempat pulang."
Andrian kemudian mengambil tempat duduk di samping Bobby.
Sorot matanya masih redup, wajahnya jelas menunjukkan kesedihan yang dalam.
"Maaf, Mas… aku nggak bisa datang waktu Mbak Jen pergi," ucap Andrian perlahan kepada Bobby.
Bobby menepuk bahu Andrian perlahan, matanya penuh pengertian.
"Nggak apa-apa, Mas ngerti… semua ada waktunya."
Ruangan kembali sunyi. Hanya sisa-sisa tangisan keluarga yang masih kedengaran samar-samar, menemani malam penuh duka itu.
Comments
Post a Comment