Bab 19 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 


Sejak pemakaman almarhumah ibu Andrian, tanpa dirancang, Lydia dan Andrian selalu saja bertemu. Entah kebetulan atau memang sudah digariskan, pertemuan itu selalu datang tanpa diduga.


Kadang mereka berpapasan di rumah Pak Andika saat kenduri tahlil, sekadar bertegur sapa singkat. Pernah juga mereka tak sengaja bertemu saat Lydia membawa Dani dan Tika makan di restoran KFC yang terletak di hujung komplek perumahan Pak Harun. Waktu itu, Andrian kebetulan sedang membeli kopi di kedai bersebelahan.


Bahkan, beberapa kali mereka bertemu secara tak sengaja di pusat perbelanjaan saat Lydia keluar berbelanja bersama ibunya.


Namun malam ini, pertemuan itu bukan lagi kebetulan.


Tante Jasmine dan Om Bobby mengajak Lydia makan malam di salah satu restoran terkenal di Jakarta, Plataran Menteng, sebuah tempat makan mewah yang memadukan cita rasa klasik Indonesia dengan sentuhan masakan Barat, terletak di bangunan kolonial bersejarah.


Jam menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka tiba di restoran Plataran Menteng.


Pelayan restoran itu mengiringi mereka ke sudut eksklusif yang telah dipesan sebelumnya — sebuah ruang makan peribadi dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke taman hijau di luar.


Di sekeliling taman, lampu-lampu kecil berwarna kuning keemasan menghiasi pohon-pohon, menciptakan bayangan samar yang memantul di permukaan kaca. Cahaya lampu kristal gantung di atas meja menambah kesan mewah, memantul di atas set pinggan porselen putih dan gelas-gelas kristal yang tertata rapi.


Tirai beludru berwarna maroon tua disematkan ke sisi, membiarkan pemandangan taman yang tenang tetap terlihat jelas. Di luar, pepohonan besar dan rimbun itu berayun perlahan ditiup angin malam Jakarta. Aroma bunga dari taman sesekali terbawa masuk, berpadu dengan aroma rempah hidangan khas Indonesia yang terhidang dari meja-meja di sudut ruang makan yang lain.


Meja kayu klasik dengan empat kerusi elegan itu tampak sempurna — sederhana namun berkelas. Di tengah meja, terdapat lilin-lilin tinggi yang sudah dinyalakan, cahayanya bergoyang lembut, menambah nuansa intim dan romantis malam itu.


Suasana di sudut restoran itu terasa lebih sunyi, jauh dari hiruk-pikuk meja-meja lain di ruangan utama. Hanya terdengar gemerincing halus peralatan makan dan alunan instrumental gamelan modern yang mengalun perlahan di latar belakang.


Lydia sedikit terkejut ketika melihat Andrian sudah ada di sana, duduk di meja yang tampaknya memang sudah dipesan khusus.

Wajah Andrian tampak tenang dengan senyuman kecil dan dia segera berdiri ketika melihat mereka masuk ke ruangan itu. Namun sorot matanya memancarkan sesuatu yang sulit ditebak.


Pandangan Andrian tidak lepas dari wajah wanita anggun yang berjalan menuju ke ruangan itu. Penampilan Lydia malam itu benar-benar berbeza. Rambutnya ditata cantik seperti puteri — disanggul rapi dengan beberapa helaian rambut dibiarkan tergerai lembut mengapit wajahnya. Dia mengenakan gaun chiffon warna sage green, sederhana namun anggun, potongan bahunya terbuka manis, menampakkan leher jenjangnya dengan sepasang anting mutiara kecil bergantung di telinganya.


Lydia sendiri turut terpaku. Jantungnya berdetak sedikit laju. Lelaki itu — Andrian — kelihatan sungguh tampan di bawah cahaya lampu malam itu. Senyum tipis yang tergantung di bibir lelaki itu seakan-akan mampu membuat hatinya bergetar.

Lelaki itu, yang mengenakan t-shirt polo kasual berwarna putih dan jeans biru gelap, berdiri di sisi meja yang sudah ditempah khas untuk mereka. Cahaya lampu temaram jatuh tepat di wajahnya, menambah ketampanan Andrian malam itu.


Lydia berpaling ke arah Bobby, mengangkat alis penuh tanda tanya.

Bobby tersenyum kecil.


"Dinner malam ini untuk Andrian," kata Bobby sambil menepuk bahu Andrian. "Dia akan kembali ke Amerika minggu depan setelah berada di bumi Indonesia.....berapa lama Yan?" Tanya Bobby sambil tersenyum.

"Hampir dua tahun Om....setahun lapan bulan" kata Andrian perlahan. Dia menunduk.


Hati Lydia tiba-tiba terasa hampa. Entah mengapa, ada rasa kecewa yang perlahan menyusup ke dalam hatinya. Namun cepat-cepat dia menepis perasaan itu. Wajah Hisham terbayang jelas di benaknya, mengingatkannya pada cinta yang masih bersisa di sudut hatinya.

Setelah mereka duduk, Lydia Dan Andrian berpandangan agak lama. Ada sesuatu yang tak terucap, seolah waktu seketika terhenti di antara mereka.


"Ehem…" dehaman Bobby memecah keheningan kecil itu, membuat Lydia tersentak pelan. Pipi Lydia merona kemerahan, matanya cepat-cepat mengalih ke arah lain.


Andrian juga menarik nafas dalam, berusaha menyembunyikan getaran hatinya. Namun tatapan matanya tetap tak bisa membohongi rasa kagum yang jelas tergambar.


Malam itu, dua hati saling terpaut dalam diam — meski masing-masing masih terikat pada masa lalu yang belum selesai.

Mereka menikmati makan malam itu dalam suasana yang nyaman. Hidangan khas Indonesia seperti nasi bakar, ayam goreng kremes, dan sate maranggi tersaji di meja, diselingi dengan hidangan Barat pilihan seperti steak sirloin dan salad Caesar.


Suasana di sekitar tampak santai, tawa dan perbualan ringan mengisi ruangan.


Namun, di balik senyuman dan kata-kata ramah, ada dua hati yang sukar ditebak — hati Lydia yang masih terpenjara bayang-bayang masa lalu, dan hati Andrian yang menyimpan rahsia perasaan yang tak pernah sempat terucap.

------


Malam itu berjalan lebih cepat dari yang mereka duga. Suasana makan malam yang hangat di sudut eksklusif Plataran Menteng, disertai tawa ringan dan perbualan sederhana, perlahan mengalir seperti air.


Ketika makanan terakhir selesai disantap dan teh hangat habis di cangkir mereka, Bobby melihat jam tangannya.


"Jas, kita harus pulang lebih awal. Besok pagi kita ke bandara," ucap Bobby sambil melirik ke arah Tante Jasmine.


"Iya," angguk Jasmine lembut. "Besok aku harus berangkat ke Singapura. Seminar kedokteran itu nggak bisa aku tinggal."


"Seminar apa, Tante?" tanya Lydia penasaran.


"Asia Pacific Medical Congress. Dokter-dokter dari seluruh Asia hadir. Kalau aku nggak hadir, sayang sekali," jelas Jasmine sambil tersenyum.


Bobby lalu memandang Lydia.


"Kamu ikut sama kita, Lydia? Kita pulang bareng."


Namun Jasmine cepat memotong dengan senyum menggoda.


"Malam masih muda, Mas. Lagian, Andrian pasti masih mau menikmati udara malam Jakarta. Lydia juga kan belum sering keluar malam."


Lydia terpaku sejenak, lalu sekilas menatap Andrian. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, anggukan kecil terukir di kepalanya.


"Kalau begitu, aku titip Lydia ya, Rian," ujar Bobby saat mereka sampai di area parkir.


Bobby menepuk ringan bahu Andrian, lalu dengan nada bergurau dia menambahkan, "Tapi jangan dibawa lari ke Amerika."


Lydia spontan tertawa kecil, wajahnya sedikit memerah menahan malu. Andrian hanya mengangkat alis sambil tersenyum santai, lalu mengangguk pelan.


"Tenang aja, Mas. Aman," balas Andrian singkat.


Tante Jasmine hanya tersenyum simpul, matanya bergulir sebentar ke arah Lydia, seolah memberi isyarat penuh makna sebelum dia dan Bobby masuk ke mobil mereka.


Tak lama kemudian, mobil mereka meluncur meninggalkan area parkir, meninggalkan Lydia dan Andrian berdiri berdua dalam temaram cahaya lampu taman yang redup.


Udara malam Jakarta terasa sejuk, dihiasi semerbak wangi bunga dari taman sekitar restoran.


Malam itu, tanpa banyak kata, keduanya melangkah menuju mobil Andrian, memulai perjalanan kecil yang entah akan mengarah ke mana.






Salah satu ruangan di restoran Plataran Menteng 

Di sudut eksklusif restoran mewah itu, terlihat sebuah ruang makan kecil yang terpisah — seperti oasis rahsia di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta. Itulah salah satu sudut istimewa di Plataran Menteng, sebuah restoran bergaya kolonial yang menjadi pilihan golongan atasan untuk menikmati makan malam atau jamuan keluarga.


Ruangan itu dikelilingi kaca jernih dari lantai hingga ke langit-langit, memberikan pemandangan hijau taman tropika yang rimbun di luar. Pepohonan besar, bunga-bunga berwarna-warni, dan dedaunan segar seolah menjadi bingkai hidup yang menyempurnakan suasana.


Langsir baldu berwarna merah marun tergantung anggun di kedua sisi, siap ditarik bila diperlukan privasi penuh. Di tengah ruangan, meja makan elegan dengan alas coklat muda sudah siap menyambut tetamu. Kain putih yang melilit meja, set peralatan makan perak, dan lipatan serbet yang rapi menunjukkan perhatian restoran ini pada setiap perincian.


Dari langit-langit kaca, lampu kristal antik bergantung megah, memancarkan cahaya hangat yang menambah nuansa romantis dan klasik.


Plataran Menteng bukan sekadar restoran — ia adalah tempat di mana kenangan tercipta, di mana setiap sudutnya bercerita tentang keanggunan masa lalu yang bertemu dengan kemewahan masa kini.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini