Bab 2 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Bandara Soekarno–Hatta, Jakarta, Indonesia
Pesawat mendarat dengan sedikit gegaran. Di luar tingkap, landasan kelihatan basah — Jakarta disambut gerimis senja. Lydia memeluk erat anak kecil di pangkuannya, tubuh kecil yang sejak tadi lena dalam dakapan. Nafasnya berat, tapi ditahan dengan sabar.
Pengumuman kedengaran perlahan dari pembesar suara pesawat: "Selamat datang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Waktu setempat menunjukkan pukul lima lewat sepuluh petang. Harap tetap duduk dengan sabuk pengaman terpasang hingga lampu tanda sabuk dipadamkan. Terima kasih telah terbang bersama kami."
Lydia tunduk memandang anak kecil yang masih lena — Muhammad Daniel, usianya baru dua tahun. Kulitnya hangat, kepalanya terbenam di bahu ibunya.
“Daniel… kita dah sampai, sayang,” bisik Lydia perlahan.
Daniel menggeliat kecil, tapi tidak menangis. Lydia mengusap belakangnya dan memeluk lebih erat. Dia tahu, penerbangan ini terlalu panjang untuk tubuh kecil itu.
---
Ruang ketibaan sesak dengan manusia. Bau kopi, peluh, dan minyak wangi bercampur dalam udara berhawa dingin. Lydia melangkah perlahan sambil mendukung Daniel, beg sandangnya disangkut ke bahu. Dia tidak kisah tentang penat, tidak kisah tentang pandangan orang. Dia cuma ingin segera sampai ke tempat yang dijanjikan.
Dia datang kerana satu berita — neneknya sedang sakit tenat. Itulah alasan yang diberikan oleh ayahnya, Pak Harun, setelah 3 tahun mereka tidak bertemu. Panggilan dari Indonesia tempoh hari begitu mengejutkan, dan suara ayahnya… seperti merayu.
---
Di luar pintu kaca terminal, seorang lelaki bertubuh sederhana, berbaju batik dan berseluar hitam, memegang kertas bertulis:
> "LYDIA & MUHAMMAD DANIEL"
Lelaki itu nampak tersenyum sebaik Lydia menghampiri. “Selamat sore, Ibu Lydia,” ucapnya lembut. “Saya Hendra, utusan dari Pak Harun. Mobil sudah siap. Mari ikut saya.” kata pemandu itu sambil mengambil bagasi Dari tangan Lydia.
Lydia angguk perlahan. Dia tidak mampu berkata apa-apa selain menguatkan pelukannya pada Daniel yang sudah kembali tertidur di bahunya.
Jalan pulangnya telah bermula… tetapi ini bukan pulang yang dia rancang.
Lydia berjalan perlahan di belakang pemandu itu, langkahnya longlai namun teratur, mendukung erat Muhammad Daniel yang setia bersandar di bahunya. Mereka melangkah keluar dari pintu balai ketibaan, deretan manusia bersilih ganti melintasi mereka.
Setibanya di luar, pemandu itu berhenti, tepat di belakang seorang lelaki yang berdiri membelakangi mereka. Lelaki itu tinggi, berkulit putih bersih, tubuhnya tegap dalam balutan kemeja biru muda yang lengan bajunya dilipat kemas hingga ke paras siku.
"Pak Bobby..." sapa pemandu itu perlahan.
Lelaki itu segera memusingkan badannya. Pandangan matanya terhenti tepat pada wajah Lydia, lalu seulas senyum menghiasi bibirnya.
"Om Bobby!" Seru Lydia spontan. Dia terus mendekat dan mencium tangan lelaki itu, seperti kebiasaan yang diajar sejak kecil. Muhammad Daniel memeluk leher ibunya erat-erat, terkejut dengan situasi sekeliling yang asing baginya.
"Lydia... apa kabar? Kamu baik-baik saja?" tanya lelaki itu lembut sambil mengelus rambut Lydia dan Daniel silih berganti.
"Alhamdulillah, Om... Lydia baik-baik saja," jawab Lydia sambil mereka sama-sama duduk di bangku yang tersedia berhampiran pintu balai, menunggu pemandu mengambil kenderaan.
"Tadi ya... Lydia hampir tak mengenali Om Bobby," ujar Lydia berseloroh, cuba mencairkan suasana. "Soalnya, Om Bobby makin ganteng!"
Bobby tersenyum kecil, namun ada bayang kelelahan terpancar di wajahnya. "Ahh... biasa saja. Cuma Om sedikit kurus. Sibuk dengan pekerjaan... Lagian... Tante Sara sudah meninggal... dua bulan yang lalu."
Lydia terdiam sejenak. "Ohh... maaf, Om. Lydia tak tahu... Sakit kanker darah itu juga?"
Bobby mengangguk perlahan, wajahnya jelas berbalut kesedihan.
Lelaki itu, Bobby Sugara, bukan orang asing dalam hidup Lydia. Dialah orang kepercayaan Pak Harun — ayah Lydia — sejak Lydia masih kecil. Sejak dia belum mengerti apa-apa tentang politik keluarga, tentang permainan kuasa dan paksaan.
Hanya setelah Lydia dewasa, dia tahu kisah sebenar. Om Bobby, lelaki itu, sebenarnya pernah bercinta dengan Tante Jasmine — adik kandung ayahnya sendiri. Namun cinta mereka dipisahkan oleh kehendak keluarga. Bobby dipaksa menikah dengan Tante Maisara— anak sepupu ayahnya — kerana Tante Maisara tergila-gilakan Bobby, dan lebih memilukan, kerana Maisara mengidap leukemia sejak usia tujuh belas tahun.
Comments
Post a Comment