Bab 20 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Setelah makan malam itu, Lydia dan Andrian memutuskan untuk tidak langsung pulang. Malam masih muda, dan entah mengapa, ada rasa di hati Lydia yang ingin sekali menikmati udara malam Jakarta, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.
Mobil yang mereka naiki meluncur tenang melewati jalanan ibu kota yang mulai sepi. Lampu kota berpendar indah, memantulkan cahaya ke kaca mobil, sementara Lydia hanya terdiam memandang keluar jendela.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka berhenti di sebuah kawasan terbuka yang ramai dan penuh dengan warna-warni lampu. Di sana, terbentang Jakarta Night Carnival, sebuah funfair malam yang meriah dengan permainan, musik, dan gelak tawa pengunjung.
Lydia membulatkan matanya, nyaris tak percaya. “Andrian… ini?” tanyanya, seolah masih ragu.
Andrian tersenyum kecil, mengangguk. “Aku dengar carnival ini cuma buka sampai akhir pekan. Kupikir… kau butuh hiburan malam ini.”
Lydia terdiam sejenak. Rasanya sudah bertahun-tahun dia tidak menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Sejak hidupnya terpenjara dengan masalah keluarga, sejak rasa bahagianya perlahan-lahan terkubur.
Malam itu, semuanya terasa berbeda. Bersama Andrian, dia berjalan menyusuri deretan permainan. Ada stand tembak-tembakan, balap mobil mini, lempar gelang, hingga roda ferris yang berputar perlahan di ujung sana.
Lydia mencoba satu per satu permainan, tertawa lepas setiap kali dia gagal. Andrian ikut tertawa, bahkan sesekali ikut bermain, hanya untuk melihat ekspresi polos dan bahagia di wajah wanita itu.
Di sebuah stand permainan baling anak panah ke arah balon, Lydia mengerutkan kening, serius sekali menargetkan anak panah ke arah balon berwarna merah.
"Kalau kau berhasil, bisa bawa pulang boneka besar itu," goda Andrian, menunjuk ke arah boneka teddy bear putih berukuran besar yang tergantung di atas.
Lydia menggigit bibir, matanya fokus. Dengan hati-hati, dia melepaskan anak panah namun tidak mengenai balon itu.
"Owhhh" keluhan kecewa keluar Dari mulutnya. Dia memandang ke arah Andrian dan serentak mereka tertawa.
"Aku coba...." Kata Andrian kepada petugas di situ. Petugas itu memberikan satu anak panah kepada Andrian.
Andrian dengan berhati-hati melepaskan anak panah dan tepat mengenai balon merah itu.
“Yaaay!” seru Lydia spontan, kedua tangannya terangkat ke udara, sementara Andrian terkekeh.
Tak lama, petugas stand memberikan hadiah boneka besar itu ke Andrian. Andrian menyerahkan boneka besar itu kepada Lydia. "Untuk mu" kata Andrian sambil tersenyum.
" Ohhhh.....thanks Yan....." Wanita itu memeluk boneka itu erat-erat, wajahnya berseri-seri.
“Aku enggak ingat kapan terakhir kali aku tertawa kayak gini…” bisik Lydia perlahan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Andrian menatapnya dalam-dalam, senyumnya melunak. “Mungkin… malam ini adalah awalnya.”
Lydia menunduk, hatinya hangat oleh perhatian sederhana itu. Malam itu, dia merasa seperti seorang gadis yang lepas dari beban hidup, yang bebas menikmati detik demi detik kebahagiaan kecil bersama seorang pria… yang tanpa dia sadari, mulai mengisi ruang kosong di hatinya.
Langkah mereka terhenti di salah satu gerai yang menjual cotton candy raksasa berwarna merah jambu lembut. Lydia tersenyum kecil melihat ukuran gulali itu, mengingatkannya pada masa kecil—masa di mana semuanya masih sederhana dan bahagia.
Andrian membeli satu, lalu tanpa banyak bicara, dia menawarkan cotton candy itu ke Lydia. “Kita makan bareng… dari dua sisi, gimana?” tawarnya sambil mengangkat sebelah alis.
Lydia terkekeh kecil. “Kau ini… seperti anak kecil saja.”
“Tapi anak kecil yang bisa bikin kau ketawa malam ini,” balas Andrian santai.
Lydia akhirnya mengangguk setuju. Mereka berdiri saling berhadapan, masing-masing memakan cotton candy itu dari sisi berlawanan. Sedikit demi sedikit, jarak wajah mereka semakin dekat… semakin dekat… hingga hanya tinggal beberapa sentimeter saja antara wajah Andrian dan Lydia.
Mata mereka saling bertemu. Lydia tercekat. Aroma tubuh Andrian, tatapan matanya… semuanya membuat jantung Lydia berdetak tak beraturan. Hanya satu gerakan kecil, dan mungkin bibir mereka akan bersentuhan.
Tapi tiba-tiba, Lydia memalingkan wajah dan menolak tubuh Andrian dengan lembut. Ekspresi wajahnya berubah. Pucat. Gugup.
Andrian tertegun. “Kenapa…?” tanyanya cemas, melihat perubahan drastis di wajah Lydia.
Lydia menunduk, hatinya bergemuruh tak menentu. Hisham… Wajah suaminya melintas jelas di benaknya. Senyum Hisham, tatapannya… Segala kenangan itu menghentak keras ke relung hatinya. Dia masih istri Hisham. Dia tidak boleh… dia tidak boleh mengkhianati cinta itu, walau sebesar apapun hatinya terluka.
“Dani…” bisik Lydia, mencari-cari alasan untuk menghindar. “Tadi… dia tidak begitu sehat. Antar aku pulang ya?” katanya, menyerahkan sisa cotton candy itu ke tangan Andrian.
Andrian masih kebingungan, tapi dia memilih untuk tidak memaksa. “Oke… Nanti… kita bawa Dani ke sini lagi ya?” ucapnya pelan.
Lydia hanya mengangguk kecil, tanpa menatap wajah pria itu.
Mereka berjalan ke arah mobil dalam diam. Suasana hening menyelimuti sepanjang perjalanan pulang.
Lydia menatap kosong ke luar jendela. Fikirannya melayang jauh ke Hisham. Bayangan wajah suaminya, kata-kata janji mereka, kenangan cinta mereka… semuanya seperti duri yang mencucuk-cucuk hatinya. Dia masih istri Hisham… Dia rasa berdosa… berdosa karena sempat membiarkan hatinya sedikit terbuka untuk orang lain.
Di sisi lain, Andrian yang duduk di belakang kemudi juga terdiam membisu. Tiba-tiba saja, wajah seseorang terlintas di kepalanya. Dia… gadis yang selama ini mengisi hatinya, gadis yang entah mengapa, baru beberapa jam tadi dia berhasil lupakan… hanya tiga jam saat dia bersama Lydia, saat senyum Lydia dan suara tawanya mengisi malam itu.
Andrian menghela napas panjang, berat. Apa yang terjadi pada dirinya? Dia bahkan nyaris lupa pada rasa sakit hatinya… hanya karena wanita itu.
Mobil terus melaju, membawa mereka pulang… namun hati masing-masing, masih terjebak di persimpangan rasa yang belum terjawab.
Comments
Post a Comment