Bab 21 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Pak Andika duduk termenung di meja kerjanya yang luas di lantai 20 gedung perusahaannya. Pandangan matanya kosong, fikirannya kusut memikirkan Andrian—puteranya yang sebentar lagi akan kembali ke Amerika.


Sudah berkali-kali dia membujuk Andrian agar tidak kembali ke sana. Dia memerlukan puteranya untuk membantunya mengurus perusahaan keluarga ini. Dulu, semasa almarhumah putrinya, Jennisa, masih hidup, meski dalam keadaan sakit-sakitan, Jennisa tetap setia membantu di kantor ini. Bahkan Bobby Sugara, suami Jennisa, meski sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan Pak Harun, tetap meluangkan waktu untuk datang membantu.


Tapi sekarang? Jennisa sudah tiada. Bobby masih setia membantu, tapi bukankah seharusnya Andrian yang mengisi tempat itu? Seharusnya, Andrian yang menjadi penerus perusahaan ini. Bukannya keras kepala, tetap memilih untuk kembali ke Amerika, bekerja dengan orang asing, menjadi karyawan mereka.


Pak Andika tahu, Andrian adalah seorang interior decorator yang berbakat. Bekerja di perusahaan desain ternama di Manhattan, digaji besar, disediakan apartemen mewah dan mobil, bergaul dengan orang-orang elit. Tapi, apa semua itu tidak bisa dia dapatkan di Indonesia? Di sini, Andrian bisa memiliki semuanya, malah lebih. Gaji yang lebih tinggi, rumah, mobil, bahkan perusahaan ini pun hak mutlak Andrian suatu hari nanti. Di sini juga dia bisa bergaul dengan orang-orang terkenal, selebritas, pengusaha besar, dan yang terpenting… dekat dengan keluarganya.


Pak Andika menghela napas panjang. Lamunannya buyar saat suara telepon dari meja sekretaris berbunyi.


“Ya, Winda?” sapanya tegas.


“Pak, Pak Andrian sudah datang,” jawab suara di seberang.


“Suruh dia masuk.”


“Baik, Pak.”


Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Winda, sekretarisnya yang setia, membuka pintu dan mempersilakan Andrian masuk.


“Thanks, Win…” ucap Andrian santai, melangkah masuk. Winda hanya tersenyum, lalu menutup kembali pintu itu.


Andrian duduk di hadapan ayahnya, meletakkan ponsel dan kunci mobil di atas meja. Pak Andika menatap wajah puteranya lekat-lekat, ekspresinya berat.


“Kamu benar-benar mau kembali ke Amerika?” suara Pak Andika dalam, nyaris seperti keluhan.


Andrian mengangguk perlahan, matanya menyapu sekeliling ruangan kantor ayahnya.


“Kenapa harus kembali ke sana? Perusahaan Ayah butuh kamu, Rian.”


“Aku masih punya tanggung jawab besar di sana, Yah…”


“Di sini juga ada tanggung jawab kamu,” tegas Pak Andika.


Andrian terdiam. Pandangannya kembali menyapu ruangan itu. Lalu dia berdiri, berjalan pelan ke jendela besar yang ditutupi tirai tebal. Dengan sekali sentakan, tirai itu terbuka, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta dari lantai 20 yang begitu megah.


“Kantor Ayah ini… butuh sentuhan baru,” ucap Andrian, menatap jendela. “Tirai ini, rak-rak dokumen, perabot, karpet… semuanya harus diganti. AC juga ganti ke merek yang lebih bagus, yang dinginnya bisa bikin Ayah nyaman. Supaya Ayah betah kerja di sini… supaya Ayah kelihatan keren, bahagia, elegan.”


Pak Andika menggeleng pelan. “Itu bisa diatur… kalau itu yang kamu mau. Tapi yang penting, kamu kerja dengan Ayah. Jadi pengganti Ayah di perusahaan ini.”


“Interior kantor ini… buat Ayah, bukan buat aku. Kalau Ayah mau, aku bisa kenalin Ayah ke temanku, interior decorator juga. Kami dulu sama-sama kuliah di Amerika.”


Pak Andika bangkit dari kursinya, menghampiri Andrian. Tangannya menggenggam lengan puteranya erat-erat.


“Ayah mohon, Rian… kerja sama Ayah. Ayah nggak punya siapa-siapa lagi.”


Andrian memandang wajah ayahnya. Ada rasa bersalah menggelayuti hatinya, namun dia tetap kukuh pada keputusannya.


“Nanti aku pikirkan lagi, Yah…” katanya, melirik arloji di pergelangan tangan. “Aku pamit dulu. Ada janji sama teman.”


Dia mengambil ponsel dan kunci mobilnya, lalu membungkuk, mengambil tangan ayahnya, dan menciumnya dengan hormat.


“Kita ketemu di rumah ya. Bi Tari masak ikan bakar kecap sama sambal udang petai, kan?” senyum tipis mengembang di wajahnya sebelum dia melangkah keluar.


Andrian singgah sebentar di meja Winda.


“Win, aku pamit ya. Mau ketemu Yudhi. Kamu mau aku bawain apa?” tawarnya ramah.


Winda, teman sekelasnya sewaktu SMA, tersenyum. “Biasa aja, Rian… gorengan sama nasi bakar.”


Andrian menggeleng pelan, pura-pura menghela napas. “Tuker-tuker lah menu kamu, Win… tiap hari aja gorengan.”


“Itu buat Adikku, Yan. Dia suka gorengan.”


“Ya udah, aku tambahin ayam goreng ya?”


Winda tertawa kecil, mengacungkan jari telunjuk membentuk gestur ‘oke’. “Tapi jangan lupa jus jeruk.”


“Beres!” sahut Andrian sambil berlalu.


Pak Andika memerhatikan adegan itu dari balik kaca ruangannya. Dia tahu, Winda, Andrian, dan Yudhi adalah tiga sahabat lama semasa SMA. Dia bangga dengan puteranya yang tidak pernah melupakan teman-temannya, meski sudah lama tinggal di luar negeri dan berkarier di perusahaan besar.


Namun, jauh di dalam hatinya, rasa khawatir tetap mengusik. Kalau Andrian benar-benar kembali ke Amerika, siapa yang akan menggantikannya di perusahaan ini?


Pak Andika menarik napas dalam, lalu kembali ke meja kerjanya, menyambung tumpukan pekerjaan yang menanti… dengan hati yang masih berat.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini