Bab 22 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Sore itu, suasana di halaman rumah begitu tenang. Angin sepoi-sepoi meniup lembut langsir gazebo, tempat Lydia dan Ibu Marini duduk santai menikmati minum petang. Di taman, Dani dan Tika bermain lempar bola. Sesekali terdengar tawa ceria mereka berdua, kadang-kadang terdengar suara bocah kecil itu memanggil ibunya.


Ibu Marini menghirup teh panas perlahan sambil melirik ke arah Lydia yang asyik tersenyum sendiri memandang layar ponselnya.


"Kenapa senyum-senyum dari tadi, Lydia? Ada yang lucu?" tegur Ibu Marini, separuh ingin tahu, separuh mengusik.


Lydia tersenyum, mengangkat ponselnya, lalu menunjukkan ke arah ibunya. "Ini, Ma… Rian hantar foto lucu ke aku."


Ibu Marini membetulkan posisi duduknya, melihat ke layar. Terpampang gambar kartun lucu — seorang wanita gemuk berwajah manis sedang menggendong seorang bocah lelaki. Di samping mereka, seorang lelaki kurus berdiri memegang sejambak bunga ros merah. Wajah ketiganya begitu menggelikan.


Ibu Marini tertawa kecil. "Lucu juga. Rian sering hubungi kamu, ya?"


Lydia mengangguk. "Iya, Ma… cuma sekadar tanya tentang Dani."


"Hmm… dia nggak tanya soal kamu?"


Lydia mengangguk perlahan. "Tanya juga…"


Ibu Marini tersenyum kecil, matanya memandang penuh makna ke arah puterinya.


"Apa pendapat kamu tentang Rian?"


Lydia menoleh, mengernyitkan dahi. "Maksudnya… pendapat apa?"


"Ayahmu senang sama Rian…" ujar Ibu Marini tenang.


Lydia tertawa kecil. "Terus, hubungannya sama Lydia apa, Ma?" Namun hatinya mulai berdebar tanpa sebab.


Ibu Marini tersenyum tipis. "Ibu juga senang sama Rian. Dia anak baik. Waktu ibunya dirawat di rumah sakit… dia terus di sana, walaupun nggak boleh masuk ke kamar ICU. Dia nggak pulang-pulang. Teman-temannya yang bawain baju dan keperluan dia ke rumah sakit."


Lydia mengangguk-angguk perlahan. Pantas saja dia sering bertemu Andrian di taman rumah sakit itu, setiap kali dia menjenguk Tante Ratna.


"Iya… dia akan balik ke Amerika dua hari lagi," ujar Ibu Marini tiba-tiba.


Lydia terkejut. Dia memperbaiki duduknya, matanya memandang lurus ke arah ibunya, seakan meminta kepastian. "Dia nggak bilang apa-apa ke aku, Ma… waktu dinner sama Om Bobby dan Tante Jasmine, Om Bobby bilang dia baru balik seminggu lagi…"


"Papamu dapat kabar dari Paman Andika kamu," balas Ibu Marini santai, matanya pura-pura melirik ke arah Dani dan Tika yang masih asyik bermain bola. Namun dari ekor matanya, dia memperhatikan raut wajah Lydia yang tiba-tiba diam membisu.


Beberapa detik hening berlalu.


"Ayo… masuk ke dalam. Sebentar lagi Maghrib," ajak Ibu Marini, sambil menepuk lembut lengan anaknya.


"Tika… bawa Dani masuk, sudah mau Maghrib," teriak Ibu Marini ke arah Tika yang sedang tertawa-tawa menyambut bola dari Dani.


Lydia berdiri, menyambut tangan anaknya yang berlari ke arahnya. Ibu Marini sempat memandang wajah Lydia — ada sesuatu di sana. Entah sedih, entah bingung.


Tika mengangkat talam berisi gelas, piring sisa kue, dan teko teh yang masih hangat.


"Tika… nanti bersihkan badan sebelum salat Maghrib. Kamu udah terlalu lama main sama Dani, tuh keringatan semua," tegur Ibu Marini sambil menyeka rambut gadis itu.


"Iya, Bu," jawab Tika patuh, lalu masuk ke dalam rumah membawa talam.


Lydia langsung menuju ke kamar, memandikan Dani, lalu menggantikan pakaiannya dengan baju tidur bersih.


----


Lydia duduk di sisi katil sambil mengusap kepala Dani yang lena tidur. Nafas anak kecil itu teratur, penat bermain petang tadi bersama Tika jelas kelihatan di wajahnya yang polos. Lydia mengelus rambut Dani perlahan, fikirannya masih kacau dengan segala yang berlaku sejak dia kembali ke Indonesia.

Telefon bimbit di meja sisi bergetar perlahan. Lydia capai dan melihat nama yang tertera di skrin.

Andrian.

Dia teragak-agak seketika sebelum menjawab.

“Hallo...”

Suara Lydia kedengaran perlahan.

“Lydia...” suara Andrian tenang. “Aku dekat area sini. Boleh aku ajak kamu keluar makan? Cuma kita berdua... Kalau Dani ikut pasti lebih seru, tapi aku rasa dia udah tidur ya?”
Nada suara Andrian seperti dapat meneka.

Lydia pandang Dani yang terbaring nyenyak. “Iya... Dani udah tidur. Capek betul tadi...”Dia termenung sejenak. “Aku... nggak pasti, Andrian... Mungkin lain kali saja...”

Sebelum sempat Andrian jawab, pintu kamar diketuk perlahan. Ibu Marini muncul, berdiri di ambang pintu. Wajahnya lembut, tapi jelas dia dengar perbualan Lydia.

“Siapa?” tanya Ibu Marini perlahan.

“Andrian...” balas Lydia. "Mau bawa Lydia keluar Ma....tapi ....."

Ibu Marini tersenyum kecil. “Pergilah... Sekali-sekala keluar, angin-angin sikit. Ibu tengok Dani, nggak apa-apa.”

Lydia serba salah. “Tapi...”

“Sudahlah, kamu pun perlu tenangin fikiran. Ibu ada di sini,” Ibu Marini meyakinkan.

Lydia menghela nafas dan kembali ke telefon. “Baiklah, Andrian. Kamu boleh jemput aku.”

“Tunggu di luar ya,” balas Andrian, kedengaran lega.


---


Beberapa minit kemudian, bunyi loceng pagar berbunyi. Pak Harun sendiri yang membuka pintu utama. Andrian melangkah masuk, segak dengan kemeja lengan panjang berwarna gelap, wajahnya tampak tenang tapi ada bayang-bayang kegelisahan.

“Selamat malam, Om...” sapa Andrian sambil menghulurkan tangan.

Pak Harun menyambut salam itu, senyumnya ramah tapi ada ketegasan terpancar. “Mau bawa Lydia keluar, ya?”

Andrian mengangguk sopan. “Iya, Om... Kalau nggak keberatan.”

Pak Harun mengangguk perlahan. “Bukan keberatan, aku malah senang kamu luangkan waktu buat dia...”
Dia menatap Andrian lebih dalam. “Tapi aku dengar kamu mau balik ke Amerika?”

Andrian tersenyum hambar. “Belum pasti, Pak. Ada urusan kerja juga...”

Pak Harun memandang Andrian dengan tenang, suaranya merendah tapi penuh makna.
“Amerika itu luas, masa depan memang di mana-mana... Tapi ayah kamu itu nggak sihat, Andrian... Aku cuma nasihat. Fikirkan baik-baik... Indonesia ini tanah air kamu juga.”

Andrian terdiam sejenak, ada riak resah di wajahnya.
“Iya, Om... Aku fikirkan lagi.”

Dari dalam rumah, Lydia muncul perlahan. Penampilannya ringkas tapi tetap manis di mata Andrian. Pak Harun memandang kedua-duanya, kemudian melontar senyuman kecil.

“Pulang jangan terlalu larut.”

Lydia mengangguk, Andrian sekadar tersenyum. Mereka melangkah keluar bersama, meninggalkan Pak Harun yang berdiri di anjung rumah, merenung jauh, fikirannya seperti penuh dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar makan malam itu.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini