Yang Hilang Bukan Cinta
Udara malam Jakarta masih terasa hangat, namun hembusan angin di atas rooftop restoran itu cukup membuatkan suasana nyaman. Di sekeliling mereka, kota Jakarta memancar gemerlapan di bawah langit hitam bertabur bintang. Lampu-lampu kota bagaikan lautan cahaya yang tidak pernah tidur.
Restoran itu sunyi dari hiruk-pikuk. Hanya alunan muzik instrumental perlahan yang mengisi ruang. Piano dan gesekan violin bergabung mencipta melodi yang syahdu, seolah-olah mengerti ada jiwa yang sedang kacau di meja itu.
Andrian duduk di hadapan Lydia, diam membisu. Makanan di atas pinggan masing-masing sudah lama tidak terusik. Lydia memandangnya, lama. Suasana itu terlalu senyap bagi hatinya yang penuh persoalan.
Akhirnya, Lydia bersuara, suaranya lirih namun cukup jelas menembusi ruang itu.
"Betulkah kamu mau balik ke Amerika?" soalnya, mengumpul keberanian walau hatinya sendiri takut akan jawapannya.
Andrian hanya menggeleng perlahan. Dia mengeluh berat, seolah-olah menanggung sesuatu yang tidak mampu diluah. Kemudian, tanpa berkata apa-apa lagi, dia menutup wajahnya dengan kedua tapak tangannya. Lama dia demikian, membiarkan fikirannya bergelut dengan perasaan sendiri.
Lydia serba salah. Jari-jemarinya di atas meja menggigil halus, berbelah bahagi antara ingin menyentuh atau membiarkan lelaki itu larut dalam keresahannya. Namun akhirnya, dia memberanikan diri. Perlahan-lahan, dia meraih tangan Andrian, menariknya menjauhi wajah itu.
"Andrian… cerita saja pada aku… aku sedia dengar," kata Lydia, suaranya nyaris berbisik, penuh rasa simpati dan kejujuran.
Andrian membiarkan tangannya dalam genggaman Lydia. Matanya mencari mata wanita itu. Di situ, dia menemukan apa yang selama ini dia perlukan — ketenangan. Dalam redup mata Lydia, ada sinar yang menyejukkan jiwanya yang luka. Ada sesuatu yang tidak mampu dia dustakan.
Tanpa sedar, Andrian mengangkat jari-jemari halus itu ke bibirnya. Dia mengucup hujung jari Lydia perlahan, seolah-olah jari itu terlalu berharga untuk disentuh, apatah lagi disakiti.
Lydia membiarkan, namun di hatinya terasa pedih yang mencengkam. Dada yang sesak cuba dia tahan sebaik mungkin. Air mata bergenang di tubir mata. Dia rasa dia sudah mengkhianati… mengkhianati lelaki yang selama ini menyayanginya sepenuh hati — Hisham. Tetapi di sudut yang lain, dia perlukan Andrian. Dia perlukan kekuatan itu, perlukan bahu itu, perlukan lelaki itu untuk menampung dinding hatinya yang retak.
Dia tidak mengalihkan pandangannya. Namun, butiran jernih yang tidak mampu ditahan lagi jatuh perlahan ke pipinya.
Andrian tersentak. Cepat-cepat dia melepaskan tangan Lydia. Suaranya kedengaran cemas, penuh kelembutan yang sukar digambarkan.
"Lydia… kamu menangis…" bisiknya.
Jari-jemari Andrian yang hangat menyentuh pipi Lydia, menyeka air mata itu dengan cermat, seolah-olah setiap titisan itu terlalu berharga untuk dibiarkan pergi.
Lydia tunduk. Cepat-cepat dia mencapai tisu dari tas tangannya. Dia mengesat sisa air mata, cuba menyembunyikan gelora hatinya, namun dia tahu, segalanya sudah terlalu jelas di mata lelaki itu.
Malam itu, di bawah langit kota Jakarta yang bersinar, dua jiwa yang terluka saling berpaut tanpa kata. Hanya hati yang berbicara… dan hati mereka sama-sama belum menemukan jawapan.
-----
Malam itu, setelah makan malam di restoran rooftop yang mewah, Andrian menghantar Lydia kembali ke rumah. Lydia kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tak menentu. Angin malam Jakarta yang sejuk seakan tak mampu menenangkan hatinya yang sedang berkecamuk. Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri — wajah yang kebingungan, mata yang sembab karena air mata yang nyaris tumpah, dan dada yang sesak menahan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Apa sebenarnya yang aku rasakan? batinnya berbisik lirih.
Ada sesuatu dalam diri Andrian yang mengusik hatinya. Tatapan pria itu, sentuhan hangat jemarinya, kata-kata lembutnya… semua itu membuat hatinya goyah. Tapi bayangan Hisham… lelaki yang masih sah menjadi suaminya, terus menghuni benaknya. Ia bimbang, hatinya diliputi rasa bersalah.
Lydia menghela napas panjang. Malam itu ia sulit memejamkan mata. Tubuhnya lelah, namun pikirannya terus berkelana.
Tiba-tiba, ponsel di atas nakas bergetar pelan. Sekilas ia melirik layar ponselnya.
Andrian.
Lydia menatap nama itu lama, sebelum akhirnya ia beranikan diri untuk menjawab.
"Halo…" suaranya nyaris berbisik, serak, terdengar lemah.
Dari seberang sana, suara Andrian terdengar dalam dan berat.
"Lydia… maaf aku ganggu tidur kamu."
Lydia menggeleng perlahan, meski pria itu tak bisa melihatnya.
"Ahh… nggak kok, Yan… aku belum tidur…" jawabnya lirih.
"Aku juga… nggak bisa tidur…" balas Andrian, suaranya terdengar letih, seperti menyimpan beban.
Lydia terdiam sejenak, lalu mengaku dengan nada pelan.
"Aku juga…"
Hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di antara keheningan malam.
"Kenapa?" tanya Andrian, suaranya lembut, nyaris seperti bisikan.
Lydia menggigit bibir bawahnya. Lidahnya kelu. Kata-kata seolah tersangkut di tenggorokan.
"Aku… aku…"
"Kamu ingat aku?" potong Andrian, suaranya lirih namun begitu jelas menusuk ke hatinya.
Dada Lydia berdebar hebat. Ia terpaku. Bagaimana dia tahu? batinnya bergumam panik.
"Lydia…" panggil Andrian lagi, lembut, penuh perasaan. "Aku juga ingat kamu…"
Kata-kata itu… seolah menyelinap masuk ke dalam hatinya, mengoyak benteng perasaannya. Lydia memejamkan mata. Perlahan, ia membawa ponselnya ke dada, seolah ingin menenangkan degup jantungnya yang makin menggila.
"Kamu juga ingat aku… kan?" tanya Andrian lagi, suaranya begitu pelan, seperti bisikan yang membelai jiwa.
Lydia menahan napas. Suara itu… kehadiran pria itu… semua membuat hatinya semakin rapuh. Perlahan, ia mengangguk, meski tahu Andrian tak dapat melihatnya. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia menjawab.
"Iya…"
Hening kembali tercipta. Tapi kali ini, hening itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tak terucap namun begitu kuat terasa di antara mereka.
Lalu, Andrian kembali bersuara, nada suaranya sedikit berubah, lebih dalam, lebih hangat.
"Dani pasti sudah terlelap… dibuai mimpi."
Lydia tersenyum tipis, membayangkan wajah kecil putranya.
"Iya… waktu aku pulang tadi, dia sudah tidur… sama Mama."
Andrian terkekeh kecil, namun terdengar getir di balik tawanya.
"Enak ya… kalau ada Mama…"
Lydia terdiam. Ia tahu, Andrian baru saja kehilangan sosok ibu yang sangat ia cintai. Luka itu pasti masih segar, dan ia bisa merasakan betapa dalamnya rasa rindu pria itu.
"Boleh nggak… Mama kamu jadi Mama aku juga?" tanya Andrian tiba-tiba, suaranya rendah, seakan menyimpan kerinduan yang dalam dan mungkin makna lain yang tersirat.
Lydia tercekat. Kata-kata itu membuat dadanya makin sesak. Ia paham… itu bukan sekadar gurauan. Itu adalah kerinduan seorang anak yang kehilangan ibu, dan kini mencoba menemukan kehangatan itu di tempat lain.
"Yan… kamu kangen sama Mama kamu?" tanya Lydia lembut.
"Iya…" jawab Andrian singkat. Kemudian, suaranya makin pelan, penuh makna. "Sama kamu juga…"
Jantung Lydia berdebar kencang. Tenggorokannya tercekat. Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa terdiam, menahan gejolak yang meletup dalam dadanya.
"Lydia…" panggil Andrian, suaranya pelan, seolah membelai telinga dan hati wanita itu.
Lydia buru-buru mencari alasan, tak sanggup berlama-lama terperangkap dalam suasana yang makin dalam ini.
"Yan… aku haus… aku mau ambil air dulu… kita sambung besok aja ya…"
Andrian tertawa kecil, seperti mengerti kegugupan Lydia.
"Oke… mimpi indah ya…"
Lydia menutup panggilan. Ia meletakkan ponselnya di sisi ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Namun, jantungnya masih berdebar kencang. Perasaannya masih berkecamuk, dan pikirannya… entah kenapa, terus dipenuhi bayangan pria bernama Andrian itu.
Comments
Post a Comment