Bab 25 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 


Sore itu di Manhattan terasa lebih dingin dari biasa. Langit sudah condong, sinar mentari yang keemasan menyoroti dinding bata merah bangunan apartemen tua itu. Andrian berdiri kaku di depan pagar besi kecil, memandang jendela unit yang pernah dia kenali — jendela milik keluarga Sophie.


Tangannya menggoyang pagar perlahan.


“Sophie…?” panggilnya pelan.


Tiada balasan.


Dia mengetuk pintu unit itu, tiga kali. Tidak terlalu kuat. Hanya harapan yang menggugah.


Tiba-tiba, pintu unit sebelah terbuka. Seorang wanita berambut perak yang digulung rapi muncul, sambil membawa mug teh di tangan. Dia menoleh dan tersenyum begitu melihat Andrian.


"Hi, handsome boy... you’re looking for Sophie?" sapanya hangat.


Andrian menoleh perlahan dan mengangguk.


"Yes... I am." suaranya lembut, nyaris seperti bisikan.


Mrs. Greg menarik nafas perlahan.


“Oh, sweetheart… you didn’t know?” Wajahnya berubah sedikit muram. “They’ve been gone nearly two weeks now. The whole family left for Malaysia.”


Andrian diam seketika. Malaysia…? Dadanya bergetar perlahan.


“I heard she’s getting married,” sambung Mrs. Greg. “To her cousin, I think. That’s what her mother told me.”


Andrian menunduk, menahan gelombang aneh yang menyerbu dadanya — bukan cemburu, bukan marah… tapi rasa kehilangan yang tidak dia sangka masih ada.


“Why didn’t she tell me…” bisiknya perlahan.


Mrs. Greg mengerutkan kening. “You haven’t been around in a while, dear. I thought maybe you moved away.”


Andrian tersenyum tawar. “I went back to Indonesia. My mother was sick…”

Dia terhenti sebentar.

“…she passed away not long ago.”


Mrs. Greg terdiam seketika, sebelum perlahan-lahan meletakkan mugnya ke dinding dan memeluk Andrian dengan erat.


“Oh sweetheart… I’m so sorry to hear that.”

Pelukannya hangat. Tanpa prasangka. Penuh simpati — seperti seorang ibu kepada anak tetangganya yang pernah dia kenal baik.


Andrian hanya memejamkan mata. Untuk seketika, pelukan itu seperti membawa dia kembali ke masa lalu. Masa di mana segalanya terasa lebih mudah. Lebih jelas. Masa di mana Sophie masih di sini — dan hatinya tidak sekeliru sekarang.


Mrs. Greg melepaskan pelukannya perlahan dan memandang wajah lelaki itu dengan lembut.


“You used to come here every weekend. Just standing outside, waiting. You never even went in.”

Dia tersenyum kecil. “But she always looked for you from that window. You two… there was something there.”


Andrian hanya mampu membalas dengan senyuman tipis. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan. Segalanya sudah terlambat.


“Thanks, Mrs. Greg…” ucapnya perlahan.


“I hope you find peace, dear. And maybe… forgiveness, too.”


Andrian hanya mengangguk sebelum perlahan-lahan berundur dari tangga. Dia melangkah pergi tanpa berpaling, membiarkan kenangan itu tertinggal di antara pintu-pintu bisu dan jendela yang tidak lagi terbuka untuknya.

-----


Langit Manhattan mulai berwarna jingga tua. Sore menjalar perlahan di antara bangunan-bangunan batu tua yang menyimpan ribuan cerita. Di seberang jalan apartemen keluarga Sophie, sebuah kedai bunga berdiri manis dengan jendela kayu putih dan papan nama bertuliskan “Chloe’s Bloom”.

Andrian melangkah masuk perlahan. Loceng kecil berdenting saat daun pintu ditolak, menyambutnya dengan aroma mawar dan eucalyptus.

Di balik rak bunga yang penuh warna, seorang wanita muda bermata cerah menoleh. Rambut perang keritingnya terikat tinggi, dan apron hijaunya penuh debu serbuk sari.

Ketika matanya menangkap sosok lelaki yang berdiri di pintu, dia membelalak sedikit.

"Oh my God… look who’s here." katanya dengan tawa terkejut.
"Andrian freakin’ Prasetyo. I thought you died or somethin’."

Andrian tersenyum kecil, menurunkan hoodie-nya.

"Hey Chloe… nah, just vanished off the grid."

"Damn right you did." Chloe melangkah keluar dari belakang kaunter. "What brings you here, huh? It’s been ages since you last showed up... feels like it’s been years. Don’t tell me you want daffodils or some Valentine's bouquet."

Andrian menggeleng.
"Nah… no flowers. I just wanted to ask you something."

Chloe memicingkan mata, lalu bersandar pada kaunter, menyilangkan tangan.

"Shoot."

"Sophie. Where is she?"

Sejenak suasana hening. Hanya bunyi kipas angin dan suara muzik jazz pelan dari radio kecil di sudut kedai.

Chloe menarik nafas dan menjawab, suaranya lebih perlahan.

"She’s in Malaysia, bro. Been gone almost two weeks now."

Andrian menatap Chloe, menunggu lanjutannya.

"Family trip?"

Chloe mengangkat bahu.
"I mean… yeah. But it’s more like… she lives there now."
"She’s married. Got a daughter. Cute little thing."

Andrian menunduk. Seolah-olah udara dalam kedai itu tiba-tiba menjadi lebih berat.

Chloe menatap wajah lelaki itu — masih sama seperti dulu, hanya kali ini matanya kelihatan lebih lelah.

"Look, I didn’t know you didn’t know." katanya pelan.
"I figured y’all just… y’know, moved on. You never came back."

Andrian menjawab lirih.
"I had to. My mom… she got sick. And… she passed."

Chloe terdiam. Wajahnya melunak.
"Oh… Andy… I’m real sorry."

Dia melangkah mendekat dan, tanpa ragu, memeluk Andrian.
Pelukan hangat, seperti yang sering dilakukan ibu-ibu Amerika — penuh empati, tanpa perlu banyak kata.

Andrian hanya berdiri, memejamkan mata sejenak. Pelukan itu seperti membuka pintu kenangan — tawa Sophie, musim panas di Central Park, dan janji-janji yang tidak pernah sempat ditepati.

Chloe melepaskan pelukan perlahan, lalu kembali bersandar pada kaunter.

"Her husband… he’s Malaysian. Real polite guy. Kinda charming, too. Always buys orchids from me for his restaurant."
Dia tersenyum kecil.
"Not gonna lie, he’s kinda hot. But you… you were the moody mysterious type. Soph loved that."

Andrian tertawa kecil.
"Guess I wasn’t mysterious enough to stay."

Chloe menatapnya dengan lembut.
"Nah… you were just… too late."

Andrian diam. Hatinya terasa ditarik ke masa lalu, tapi kakinya terpaku di bumi hari ini.

"They comin’ back tomorrow, I think. That’s what her husband told me last week."

Andrian mengangguk.

"Thanks, Chloe."

Chloe memandangnya saat dia melangkah keluar.

"Hey, Andy…" panggilnya.

Andrian menoleh perlahan.

"Don’t go ghostin’ again. People move on, yeah… but some wounds? They don’t. They just wait."

Andrian hanya mengangguk, lalu melangkah pergi — meninggalkan harum mawar dan bunga kenangan yang tak lagi mekar untuknya.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini