Bab 24 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Hari itu, sore di hari Minggu. Matahari telah condong, menyinari kamar Lydia dengan cahaya keemasan yang suram. Namun kamar itu sunyi, seperti jiwanya — kosong dan lelah.
Lydia masih duduk di atas ranjang, memeluk lutut dengan tatapan kosong ke arah jendela. Sudah dua hari ia mencoba menghubungi Andrian, namun tak ada jawaban. Pesan-pesan yang ia kirim hanya dibaca tanpa balasan. Hari ini seharusnya lelaki itu kembali ke Amerika. Namun... dia pergi tanpa pamit. Tanpa kata perpisahan.
Lydia menghela napas panjang. Ia ingin menghubungi Om Andika, tapi rasa segan menahannya. Berkali-kali ia mendail nombor pria itu, namun selalu ia matikan sebelum sempat tersambung.
Ia terus menanti panggilan. Entah untuk apa — penjelasan? atau harapan? Ia sendiri tak pasti.
“Rindu? Ah… tidak mungkin. Aku lebih rindu pada Hisham…” bisiknya, cuba menyangkal perasaannya sendiri.
Ia memejamkan mata, berharap bisa menghapus bayangan dua lelaki yang terus silih berganti hadir dalam benaknya. Ia ingin sendiri. Ingin melepaskan diri dari segala kerumitan yang menyekat jiwanya. Namun semakin ia menolak, semakin kuat bayangan mereka menghantui.
“Ya Allah… ya Rabb… bantu aku…” keluhnya dalam diam.
Tiba-tiba, suara klakson dari luar rumah mengganggu lamunannya. Lydia bergegas ke jendela dan menyibak tirai. Sebuah mobil berhenti di halaman.
Andrian…? bisik hatinya penuh harap.
Tapi mobil itu segera melaju lagi ke arah garasi, dan pandangannya terhalang oleh atap teras.
Lydia kecewa. Namun cepat-cepat ia membetulkan rambutnya, mengoleskan sedikit lipstik merah muda di bibir, lalu menuju pintu.
Belum sempat ia memutar tombol pintu, Ririn sudah muncul.
“Non… Ibu menyuruh Non ke bawah. Om Bobby sama Tante Jasmine mau bicara.”
Lydia mengangguk perlahan. Ada rasa kecewa yang sukar disembunyikan. Orang yang ditunggu… tak kunjung tiba.
“Dani di mana, Rin?”
“Sama Tika, Non… di kamar.”
Lydia hanya mengangguk sebelum menuruni tangga spiral menuju ruang tamu.
Sesampainya di bawah, Lydia menyalami Bobby dan Jasmine.
“Om… Tante… apa kabar?”
“Kami baik, baru sampai dari Bandung. Tadi malam kami tidur di rumah Ibu,” kata Tante Jasmine sambil tersenyum.
“Eyang sehat?”
“Lebih sehat dari saat kamu menjenguknya,” jawab Jasmine.
“Mestinya Eyang selalu sehat. Eyang punya dokter spesialis. Coba lihat Om Bobby kamu… makin sehat, makin macho…” gurau Jasmine.
Semua tertawa kecil.
Setelah disuguhkan teh dan kue-kue kecil, suasana mulai berubah. Bobby memanggil Lydia dengan nada yang lebih serius. Wajahnya tegang, dan sorot matanya sendu saat memandang Lydia.
Pak Harun, Ibu Marini dan Jasmine duduk diam menanti.
“Om mau kasih tahu kamu sesuatu…”
“Tentang Andrian, Om?” potong Lydia, cepat.
Semua yang duduk di ruang itu menoleh ke arahnya. Terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Lydia.
“Bukan… bukan Andrian. Dia sudah kembali ke Amerika semalam,” jawab Bobby perlahan.
Wajah Lydia langsung berubah. Kekecewaan itu jelas terbaca di matanya.
“Dia nggak pamit?” tanya Ibu Marini, lembut.
Lydia hanya mengangguk pelan dan menundukkan kepala. Ia tahu, semua orang di ruangan itu melihat betapa wajahnya telah muram, menggambarkan luka yang dia simpan.
“Om sempat bicara dengan dia di bandara… beberapa menit sebelum berangkat. Om kira dia sudah pamit dengan semua di sini.”
Lydia tetap tertunduk.
Pak Harun berdehem. Bobby mengerti isyarat itu dan memperbaiki posisi duduknya.
“Lydia… Om juga mau sampaikan kabar tentang suamimu… Hisham.”
Lydia langsung mengangkat kepala.
“Hisham? Om ketemu Hisham?” tanyanya cepat. Ia hampir lupa akan perjanjian lamanya dengan ayahnya. Ia tahu, ia tak seharusnya menanyakan lelaki itu lagi. Tapi saat itu… dia tidak peduli.
“Kenapa dengan Hisham, Om?”
Tante Jasmine menghampiri dan duduk di samping Lydia. Ia memeluk bahu keponakannya itu dengan lembut.
“Sabar ya, Lydia…” bisiknya penuh simpati.
“Tante… kenapa dengan Hisham?” tanya Lydia, air matanya mulai menetes.
“Nanti Om Bobby yang jelaskan,” ujar Jasmine, menatap suaminya tajam.
Bobby mengangguk, kemudian menarik napas panjang.
“Om dapat kabar dari penyiasat pribadi yang Om sewa dulu…”
“Dia bilang apa, Om?” potong Lydia sambil menangis.
“Hisham… hilang.”
“Hilang?” jerit kecil Lydia.
Serentak, Pak Harun dan Ibu Marini turut menyebut kata itu. Lydia terduduk lemas.
Bobby menunduk, lalu menganguk.
“Hilang bagaimana, Om?” isaknya makin keras.
“Dia terseret arus saat menyusur pantai. Sudah setahun… belum ditemukan.”
“Hisham… tidak mungkin, Om… tidak mungkin…!” Lydia menjerit sebelum akhirnya rebah dalam pelukan Tante Jasmine, tak sadarkan diri.
Seperti yang sudah diduga. Mereka membaringkannya di sofa. Tante Jasmine segera memeriksa kondisi tubuh Lydia.
“Dia hanya syok… kita tunggu dia sadar,” ucap Jasmine.
Ibu Marini menangis sambil mendekap tubuh putrinya.
Pak Harun berdiri dan memberi isyarat kepada Bobby agar mengikutinya ke teras luar.
“Kenapa kamu bilang dia hilang?” tanya Pak Harun tajam. “Aku suruh kamu bilang dia sudah mati!”
“Mas… kalau mati, kita perlu surat kematian untuk membuktikannya pada Lydia.”
“Bukankah surat itu bisa kamu buat?”
Bobby menggeleng pelan.
“Tidak semudah itu, Mas. Kalau Lydia curiga, dia bisa laporkan dan pihak berwenang akan menyelidiki.”
Pak Harun terdiam. Ada benarnya.
“Lalu, apa yang kamu lakukan?”
“Aku sudah minta penyiasat itu kirimkan email berisi laporan kehilangan. Dia bisa edit tampilan agar tampak seperti potongan surat kabar.”
Pak Harun mengangguk.
“Apa benar ada berita tentang lelaki itu?”
“Ada, Mas. Hampir dua tahun dia ikut pamannya ke Amerika. Sekarang kerja di sana. Dia sudah menikah… dan punya satu anak.”
Pak Harun tertawa kecil.
“Lelaki sialan… sudah aku duga. Dia pasti tinggalkan Lydia untuk perempuan lain.” Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Lydia telah sadar dan kini menangis keras dalam pelukan ibunya.
Bobby berdiri termangu. Hatinya remuk melihat gadis itu terpuruk. Di sudut ruangan, Jasmine menatapnya — tajam, seakan menyimpan ribuan kata yang tak pernah diucapkan. Bobby menghela napas dalam-dalam.
Hatinya tahu, ruangan itu kini dipenuhi luka… dan kebohongan.
Comments
Post a Comment