Bab 26 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Sudah dua hari Andrian duduk diam di dalam mobil, yang dipinjamnya dari seorang teman. Kereta itu terparkir tepat di seberang kedai bunga milik Chloe — Chloe’s Bloom. Sejak pagi hingga menjelang malam, dia hanya duduk di situ, memerhati setiap orang yang keluar masuk kedai itu. Matanya tak lepas dari pintu kaca berloceng kecil yang berdenting setiap kali dibuka.


Dia mengenakan hoodie hitam dan kaca mata gelap, menyembunyikan identiti — agar Chloe atau sesiapa saja tidak menyedari kehadirannya. Dia tidak mahu dikenali. Dia hanya menunggu. Mungkin… berharap.


Hari ketiga, dia masih di situ.


Dan esok, dia harus kembali ke kantor. Atasannya hanya memberi cuti tiga hari. Hatinya bingung. Nomor telefon yang Chloe berikan pun seperti tidak aktif. Sudah berkali-kali dia cuba menghubungi, tapi tak pernah berjawab.


Andrian tahu… dia tak seharusnya naik ke apartemen keluarga Sophie. Batas itu jelas. Sophie kini seorang isteri, seorang ibu. Tapi rasa di hatinya tetap mendesak.


Apa benar secepat itu Sophie bisa melupakan semuanya? Mereka? Dirinya?


Setahun lebih dia tidak pulang ke New York — dan kini, Sophie telah menikah. Telah punya anak. Kenyataan itu masih sukar untuk diterima.


Tiba-tiba matanya menangkap satu sosok yang familiar.


Seorang lelaki Melayu, bertubuh tinggi, berkulit cerah, mengenakan t-shirt biru dan jeans longgar, sedang menggendong seorang bayi perempuan yang sangat comel. Di sebelahnya berjalan seorang wanita langsing, bertudung pink bunga maroon, mengenakan t-shirt lengan panjang dan jeans — sederhana tapi anggun.


Andrian tercekat.


Itu… Sophie.


Dia mengenal wajah itu. Garis senyumnya. Sorot matanya. Tawa kecilnya ketika lelaki itu membisikkan sesuatu. Wajah itu masih sama… tapi kini kelihatan lebih tenang, dewasa, dan… bahagia.


Mereka berhenti betul-betul di tepi mobil Andrian. Lelaki itu menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pelukan Sophie, dan mereka tertawa perlahan — seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.


Andrian tidak bergerak. Dia hanya memandang, menyimpan luka yang kian dalam. Hatinya remuk, luluh perlahan seperti dedaunan gugur ditimpa hujan sore.


Dan ketika mereka berdua berjalan pergi, tubuh mereka hilang di balik selekoh dinding bangunan, Andrian masih duduk kaku.


Sophie… sudah benar-benar pergi dari hidupnya.


Andrian menarik nafas panjang, menyalakan enjin mobil perlahan. Tapi sebelum dia sempat memutar stereng, bunyi ketukan mengejutkannya dari arah tingkap.


Chloe.


Gadis itu tersenyum lebar, berdiri di tepi mobil dengan tangan bersilang. Andrian menurunkan tingkap.


"Hi, Chloe… what’s up?"


Chloe menyodorkan secarik kertas kecil.


"This is Sophie’s new number. Call her."


Andrian mengambil kertas itu perlahan Dan memasukkan kertas itu ke ssku jaketnya. Matanya memandang Chloe penuh tanya.


"How’d you know I was here?"


Chloe ketawa kecil. "Please… I’ve known since the first day you parked your mysterious car here."


Andrian tersenyum tipis. "Did Sophie know I was here? She was just here, right?"


"She didn’t see you. Thanks God for tinted windows." Chloe mengangkat bahu. "And her husband was with her. You think I’m gonna bring up her ex in front of him? Come on."


Andrian mengangguk perlahan. Chloe menepuk sisi mobil.


"I just asked for her new number. The old one is no longer active, she said."


"Thanks, Chloe…" suara Andrian nyaris berbisik.


Chloe tersenyum lembut sambil membuat isyarat tangan seolah-olah memegang telefon.

"Don’t forget to call her, okay?"


Andrian mengangguk, menutup cermin kereta, dan perlahan-lahan melajukan kenderaannya menjauh dari kedai bunga yang penuh kenangan itu.


Di dalam perjalanan, dia menyeluk saku jaketnya. Kertas kecil yang diberi Chloe masih hangat dalam genggaman.


Tapi dia tidak membuka kertas itu. Tidak membaca nomor yang tertera.


Sebaliknya, dia merenung jauh ke hadapan. Hatinya penuh kesal. Penuh duka.


Tangannya meremas kertas itu perlahan — dan tanpa melihat lagi, dia membuka tingkap… dan membuangnya keluar.


Angin Manhattan membawa kertas itu melayang entah ke mana.


"Goodbye, Sophie…" bisiknya, dan sebutir air mata menuruni pipinya tanpa suara.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini