Bab 28 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Suasana kamar terasa sunyi meski waktu terus berjalan. Tirai tipis melambai perlahan ditiup angin dari jendela yang terbuka separuh. Di atas ranjang, Lydia terduduk sambil memeluk Dani erat dalam pelukannya. Air matanya terus mengalir, membasahi pipi dan rambut anak lelakinya yang selalu setia bertanya dalam polosnya.


“Mama kenapa nangis?” tanya Dani, suaranya lembut, penuh rasa ingin tahu. Anak kecil itu kini sudah menginjak usia empat tahun — cerdas, petah berbicara, dan selalu peka terhadap perasaan ibunya.


Lydia tak menjawab. Hanya tangisan yang terdengar. Hatinya hancur, luluh lantak setelah mendengar berita dari Bobby — bahawa Hisham… suaminya… hilang tanpa jejak.


Di sisi ranjang, Ibu Marini duduk dalam diam. Wajahnya menyiratkan kepedihan yang bukan sekadar simpati terhadap menantunya yang hilang, tetapi juga kerana penyesalan mendalam. Luka yang dilihat pada wajah anaknya adalah luka yang dia turut ciptakan bersama suaminya — Pak Harun. Dia tidak menyangka kebohongan dan perancangan suaminya akan menghancurkan hati anak satu-satunya.


Pintu kamar perlahan terbuka. Tika masuk membawa talam berisi sepiring makanan dan segelas kopi panas. Dia meletakkan talam itu di meja sisi ranjang, lalu memandang Dani yang sedang tertawa lucu bermain mobil-mobilan kecilnya di lantai.


Begitu melihat Tika, Dani langsung berlari dan memeluknya.


“Kak… kita main di taman, yuk!” ajaknya sambil tersenyum riang.


Tika melirik ke arah Ibu Marini, meminta izin dengan tatapan sopan. Ibu Marini mengangguk. Tika lalu menggandeng tangan Dani, dan mereka segera keluar dari kamar sambil tertawa kecil.


Lydia perlahan bangkit dari baringnya, duduk di birai ranjang. Matanya masih sembab, suaranya parau disela tangis yang masih tersisa.


“Ma… Lydia mau ke kantor polisi…”


“Kantor polisi? Untuk apa, Nak?” tanya Ibu Marini dengan nada lembut.


“Aku mau tanya soal Hisham. Minta bantuan polisi untuk hubungi polisi di Malaysia…” jawab Lydia, suaranya serak, matanya menatap nanar.


“Tanya dulu ke Papa… atau ke Om Bobby ya, Nak…” pujuk Ibu Marini sambil mengelus bahu anaknya. Lydia hanya mengangguk perlahan, lesu dan tanpa semangat.


Setelah tangisnya mereda, Lydia berbaring kembali dan menutup wajahnya dengan bantal. Perlahan-lahan tubuhnya terbenam dalam tidur yang gelisah.


Ibu Marini bangkit, melangkah keluar dari kamar dan menuju ke kamar kerja suaminya. Dia mengambil ponsel dan segera mendail nomor Pak Harun. Dengan suara tertahan, dia menyampaikan bahawa Lydia ingin ke kantor polisi untuk meminta bantuan mencari Hisham melalui saluran resmi.


Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Pak Harun memberi arahan tegas agar isterinya tidak membiarkan Lydia keluar rumah. "Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia ke mana-mana," pesannya dengan nada dingin.


Ibu Marini menuruni tangga spiral dengan langkah cepat. Di halaman rumah, dia menghampiri pemandu peribadinya dan membisikkan sesuatu. Sang pemandu menunduk sopan dan menjawab pelan, “Baik, Bu. InsyaAllah saya berjaga di sini.”


Langkah Ibu Marini kemudian beralih ke gazebo. Di sana, dia melihat Dani dan Tika sedang bermain dengan riang. Senyum kecil terukir di wajahnya — senyum yang menyembunyikan ribuan rasa bersalah dan kekhawatiran.


Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam rumah. Ririn, pembantu rumah, berlari keluar dengan wajah panik dan napas tersengal.


“Ibu… Non Lydia… cepat, Bu! Non Lydia jatuh!”


Wajah Ibu Marini berubah pucat. Tanpa menunggu, dia dan pemandu segera bergegas masuk ke rumah.


“Lydiaaa!” jerit Ibu Marini sekuat hati.


Lydia tergeletak di kaki tangga, tak sadarkan diri. Darah mengalir dari pelipisnya, membasahi lantai. Rupanya dia jatuh saat hendak menuruni anak tangga.


Ibu Marini langsung merangkul tubuh anaknya sambil menangis ketakutan.


“Salim! Panggil ambulans dan hubungi Pak Harun!” perintahnya keras.


“Baik, Bu!” jawab sang pemandu sebelum berlari keluar untuk mengambil ponsel dari dalam mobil.


Sebelum pergi, dia menyuruh Tika membawa Dani masuk ke kamar dari arah belakang, agar bocah itu tidak melihat apa yang sedang terjadi.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini