Bab 29 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 

Sudah dua hari Lydia dirawat di rumah sakit. Ruangan VIP itu sunyi, hanya suara mesin pemantau denyut jantung yang sesekali berbunyi lembut, seakan berbisik bahawa harapan masih ada.


Seorang doktor dan seorang jururawat wanita masuk ke dalam kamar. Doktor memeriksa catatan pada clipboardnya sementara jururawat membetulkan selimut yang menutupi tubuh Lydia. Gerakannya lembut, penuh perhatian, seperti menyentuh bunga yang hampir layu.


Tiba-tiba, jemari Lydia yang terkulai di sisi katil bergerak perlahan. Jururawat itu tersentak kecil, lalu segera menoleh ke arah doktor.


“Doktor… jarinya bergerak,” katanya, setengah berbisik namun jelas.


Doktor segera mendekat, memeriksa keadaan Lydia dengan teliti. Tangannya cekap memeriksa denyut nadi, tekanan darah dan respons mata, lalu mencatat kemajuan itu dalam nota khas untuk pesakit tersebut.


Beberapa minit kemudian, mata Lydia perlahan terbuka.


Pandangan kabur dan tubuhnya terasa berat. Nafasnya pendek-pendek.

“Di mana aku…?” bisiknya, suaranya serak dan lemah.


Doktor mendekat dengan senyum menenangkan.

“Kamu ada di rumah sakit, Ibu Lydia. Kamu mengalami kecelakaan — jatuh dari tangga rumah. Kaki dan tanganmu patah, tapi syukurlah, tidak ada luka dalam yang membahayakan.”


Dada Lydia terasa sesak. Berita itu seperti menampar seluruh kesedarannya. Air matanya mula mengalir, tanpa mampu ditahan.


Dia cuba mengangkat tubuhnya sedikit. “Tolong… boleh bantu saya duduk bersandar? Saya sesak…” pintanya perlahan.


Jururawat segera menyesuaikan posisi katil dengan butang kawalan elektrik. Doktor membantu menata bantal di belakangnya agar Lydia lebih selesa bersandar.


“Kami akan segera menghubungi keluargamu untuk memberitahu mereka kamu sudah sedar,” kata doktor lembut sebelum bersiap untuk keluar dari kamar.


Saat itu, pintu terbuka dan seorang lelaki berusia lewat lima puluhan melangkah masuk. Sosoknya tinggi, berwibawa — Pak Andika.


Doktor menghentikan langkah.

“Anda siapa, Pak?” tanyanya dengan sopan.


“Saya pamannya. Nama saya Andika… Lydia keponakan saya,” jawabnya tegas namun ramah.


Doktor mengangguk. “Baik, Pak. Kondisi Ibu Lydia cukup stabil sekarang. Luka di kepala tidak menyebabkan gegar otak atau kerusakan serius. Namun patah di kaki dan tangan masih perlu pemantauan. Kami sarankan beliau dirawat di sini hingga benar-benar pulih.”


Jururawat memberi isyarat pamit dan keluar bersama doktor.


Pak Andika menghampiri katil Lydia perlahan-lahan.

Dia melihat gadis itu… keponakan yang dulu dia timang sewaktu kecil, kini menangis teresak-esak seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.


Dia letakkan tangannya di bahu Lydia, membelai dengan penuh kasih.


“Jangan menangis, Lydia… Doktor tadi bilang kamu akan sembuh. Kamu kuat, Nak.” katanya perlahan. Dia tahu anak keponakannya ini sudah banyak menanggung derita.


Lydia memandang ke arah lelaki itu. Matanya sembab, wajahnya sayu.


“Om… Hisham sudah  nggak ada…” suaranya pecah.


Tangisnya meledak. Bahunya terguncang menahan pedih yang tak terucap.


“Sabar, Nak… sabar… Allah lebih sayang sama dia…” Pak Andika duduk di birai kasur, mengelus bahu Lydia, berusaha menenangkan walau hatinya sendiri remuk.


“Om… Hisham tinggalkan kami. Dia tinggalin aku dan Dani…”


Hati Pak Andika seperti diremas. Kata-kata itu… begitu dalam… terlalu menyakitkan.

Dia menarik Lydia ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis dalam dekapannya.


Dia tahu… ini semua permainan Harun. Dia sudah melihat betapa lukanya hati anak tunggalnya dia perlakukan dengan kejam. 


Matanya berkaca. Dia cuba menahan air matanya agar Lydia tidak melihat, namun pandangannya sudah kabur oleh genangan.


Ini kali kedua — ya, kali kedua perempuan dari keluarga Harun menangis di pelukannya kerana tipu muslihat lelaki itu.


Dua puluh tahun lalu, Jasmine juga menangis dalam pelukannya…

Ketika Bobby, lelaki yang dicintainya, menikahi Jennisa.


Waktu itu, Jasmine menggenggam bahunya sambil menangis dan berkata:

“Om… Bobby sudah tinggalkan aku. Dia nggak cinta aku lagi…”


Dan saat itu, Pak Andika pun tidak kuasa menahan tangis.

Mereka menangis bersama.

Dan kini…

Tangisan yang sama, luka yang sama…

Datang lagi. Kali ini, dari Lydia.


-----


Andrian berdiri sendiri di tengah keramaian lapangan terbang JFK, New York. Suasana bising di sekelilingnya terasa jauh… tenggelam oleh bunyi dering dari ponselnya yang bergetar di genggaman.


Nama di layar itu membuat jantungnya terhenti sejenak.

Ayah.


Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab.


“Halo, Ayah…”


“Andrian… kamu di mana sekarang?” suara Pak Andika kedengaran tenang, tapi Andrian dapat menangkap ada sesuatu yang berat di balik nada itu.


“Masih di New York, Yah…” jawabnya, singkat. Dia tidak mahu memberitahu yang sebenarnya — bahawa dia kini sedang berdiri di bandara, menunggu penerbangan pulang ke Jakarta.


Ayahnya menghela nafas panjang dari seberang.

“Baik. Ayah cuma mahu tahu keadaan kamu. Kamu nggak kirim kabar sudah beberapa hari.”


Andrian terdiam sejenak. Ada banyak yang ingin dia ceritakan — tentang keputusan berhenti kerja, tentang luka hatinya, tentang kerinduan yang tak kunjung reda. Tapi semuanya terasa terlalu berat untuk diucapkan saat itu.


Kemudian, suara Pak Andika kembali terdengar, kali ini lebih pelan… lebih hati-hati.


“Yan… Lydia mengalami kecelakaan.”


Andrian terpaku. Jantungnya berdentum kencang.


“Apa…?” bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak keluar.


“Iya. Dia jatuh dari tangga di rumah. Sekarang dia dirawat di rumah sakit. Sudah dua hari… tapi dia masih belum sadar.”


Andrian menelan ludah, menahan gelombang panik yang tiba-tiba menerpa.

Namun dia berusaha terdengar tenang. “Dia di rumah sakit mana?”


“Rumah sakit swasta dekat Pondok Indah. Ayah baru saja balik dari sana,” jawab Pak Andika.


Andrian mengangguk pelan walau ayahnya tak dapat melihat.

“Baik, Yah. Terima kasih sudah beritahu.”


“Jaga diri kamu di sana, Yan…” pesan ayahnya sebelum panggilan berakhir.


Andrian menggenggam ponselnya erat. Dadanya sesak.

Tanpa berkata apa-apa pada siapa pun, dia berjalan menuju pintu keberangkatan. Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.

---

Beberapa belas jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Langit Jakarta mendung, seperti mencerminkan isi hati Andrian yang kelam.


Setelah urusan imigrasi dan pengambilan bagasi selesai, dia tidak pulang ke rumah… tidak juga menghubungi sesiapa.


Langkahnya terus menuju rumah sakit.

Dia hanya ingin melihat Lydia.

Dia hanya ingin tahu… apakah perempuan itu baik-baik saja.

Atau… apakah hatinya masih mampu memaafkan.

----+


Andrian berdiri di lorong rumah sakit yang sepi. Suasana petang mulai suram, dengan cahaya matahari petang yang menembus tingkap panjang di hujung koridor, menyapu lantai marmar dengan bayang keemasan.


Langkahnya perlahan, namun pasti. Dadanya berdebar hebat saat dia menghampiri sebuah kamar — kamar tempat Lydia dirawat. Bunga segar yang dia beli di toko bunga tadi di pegang dengan cermat.  Dia berdiri kaku di depan kamar bernombor 215 itu.  Tangannya yang memegang bunga kitu hampir bergetar. Di hujung pintu putih itu, terlekat papan nama kecil bertulis "Lydia Diyana Harun – Ruang Rawat Intensif".


Dengan nafas yang ditahan, Andrian mengangkat tangan dan mengetuk perlahan. Tok... tok...


Tiada sahutan.


Perlahan-lahan, dia menolak daun pintu. Bunyi engsel yang berkeriut halus menyelinap masuk ke dalam ruang sunyi itu. Cahaya dari lampu dinding membias lembut ke wajah dua insan yang sedang duduk saling berpelukan di tepi katil pesakit.


Pak Andika memeluk bahu Lydia erat, sementara Lydia membenamkan wajahnya ke dada lelaki tua itu. Suara tangisnya lirih, hampir tidak terucap namun cukup jelas menusuk dada Andrian.


"Om… Hisham sudah pergi tinggalkan aku…” suara Lydia bergetar, penuh luka. “Hisham sudah pergi Om....Hisham tinggalkan aku….Dia tinggalkan aku Dan Dani."

Andrian tercegat. Dunia seolah berhenti berputar. Matanya berkaca saat menyaksikan adegan itu. Tangisan Lydia… ratapan yang lahir dari luka yang dalam… menyentuh lubuk hatinya yang paling rawan.


Dia tidak bergerak. Tidak menyela. Hanya berdiri diam dalam bayang pintu yang terbuka separuh — menjadi saksi kepada kepedihan yang tidak mampu ditebus oleh kata-kata mahupun kehadiran sesiapa.

Andrian terpaku.

Seluruh tubuhnya membeku.

Kepalanya berdengung.

Kata-kata itu… menusuk dadanya lebih dalam dari pisau mana pun.


“Hisham sudah pergi…”

“Dia tinggalkan aku dan Dani…”


Lelaki itu…

Lelaki yang pernah menjadi bayangan dalam hati Lydia…

Apakah dia telah pergi… atau memilih wanita lain?


Andrian menggenggam erat gagang pintu yang dingin, menahan segala badai dalam dadanya. Matanya berkaca, namun dia tidak mampu menjerit, tidak mampu menangis.

Dia hanya menunduk — tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Digagahkan tangannya menarik tombol pintu dan pintu tertutup perlahan.

Dengan perlahan, tanpa suara, dia melangkah pergi dari situ.

Langkahnya berat, seakan setiap tapak menarik seluruh beban dunia bersamanya.

Dia ingin masuk, ingin mendekap Lydia seperti yang dilakukan oleh ayahnya.

Namun dia tahu, dia tak bisa melakukannya. 

Dan sekarang… dia lebih takut pada satu kenyataan:

Bahawa dalam kesedihan Lydia, masih ada ruang yang tidak dapat dihapuskan buat lelaki itu — Hisham.


Andrian menuruni tangga rumah sakit tanpa menoleh.

Namun di dalam dadanya, ada retakan baru yang tidak kelihatan.

Retakan yang muncul hanya kerana satu nama… dan satu cinta… yang belum benar-benar pergi.



Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini