Bab 30 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Andrian membiarkan langkahnya membawa tubuh yang lesu masuk ke dalam rumah. Matanya sembab, hatinya berantakan, dan pikirannya masih belum bisa berdamai dengan kenyataan pahit yang baru saja ditelannya. Di tangan kirinya, tergenggam erat satu tas jinjing kulit gelap; di tangan kanan, bagasi kecil yang digeret perlahan. Bunga segar dalam balutan kertas berwarna krim dibiarkan terselit di antara lengannya — bunga yang awalnya ingin ia berikan untuk Lydia di rumah sakit.
Namun kini, tak ada semangat untuk sekadar tersenyum.
Sesampainya di ruang tamu, Andrian meletakkan bunga itu di atas meja kopi. Ia menatap bunga itu sejenak — putih, segar, harum... tetapi terasa sia-sia. Perlahan-lahan ia menyeret dirinya ke kamar, melemparkan tubuh ke atas kasur tanpa mengganti pakaian. Matanya menatap siling kosong, namun yang muncul dalam benaknya hanyalah bayangan Sophie — wanita yang dulu ia percaya akan menua bersamanya.
“Aku bodoh…” bisiknya lirih, penuh luka.
Dia memejamkan mata, berharap dapat tidur dan melupakan semuanya. Tapi setiap kali kelopak itu tertutup, wajah Sophie muncul — tertawa bahagia dalam pelukan lelaki lain. Gambar di cable car yang dia lihat semalam seakan tertanam dalam ingatannya. Sophie mencuit pipi lelaki itu — suaminya sekarang — dengan manja, sama seperti dulu dia memperlakukan Andrian.
Sophie!!!! Jerit hatinya.
"Aku janji akan jaga kamu," Andrian menirukan kata-katanya sendiri, dulu. Kata-kata yang kini terasa seperti lelucon kejam.
Tangannya mengepal, dadanya sesak. Kecewa bukan kerana Sophie telah memilih lelaki lain, tetapi kerana semua janji mereka dibuang begitu saja. Ia masih ingat malam ketika mereka bersumpah untuk menjaga kehormatan bersama, untuk menunggu hingga tiba waktunya membina rumah tangga sendiri. Tapi semuanya hanya tinggal cerita. Sophie telah memilih jalan yang tak melibatkan dirinya lagi.
"Apa semua itu dusta, Sophie?" suaranya parau, hampir seperti tangisan yang tertahan.
Kau dustai aku!!!
Andrian memalingkan wajah ke sisi kasur, menghadap dinding. Ia ingin menangis, tapi air mata seakan membeku. Jiwanya retak — bukan kerana cinta yang hilang, tapi kerana kepercayaan yang dikhianati.
Di ruang tamu, bunga segar itu masih tergeletak diam di atas meja kopi. Harum, tapi sepi. Sama seperti hatinya kini — wangi oleh kenangan, tapi sunyi tanpa harapan.
----
Pak Andika tergesa-gesa melangkah masuk ke ruang tamu. Baru saja dia pulang dari kantor setelah menziarahi Lydia di rumah sakit. Jalanan Jakarta petang itu sangat macet, membuatkan dia terlambat sampai ke rumah. Di luar, pemandunya memarkir mobil dengan cemas, seolah-olah turut merasai kegelisahan tuannya.
Pak Andika menoleh ke arlojinya. Hampir masuk waktu Isya. Solat Maghrib belum sempat dia tunaikan. Dengan langkah panjang, dia menuju ke kamar tidurnya di lantai bawah.
Namun saat sampai di depan pintu, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu — sejambak bunga segar yang tersusun rapi di atas meja kopi berhampiran sofa. Dia berhenti sejenak.
Bunga? Siapa yang meletakkannya di situ? Kata hati kecilnya bertanya. Tapi tidak mahu melayan rasa ingin tahu yang remeh itu, dia terus membuka pintu kamar dan melangkah masuk.
Pakaian ditanggalkan satu-persatu dan handuk dicapai. Pak Andika menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menunaikan solat. Bunga itu perlahan-lahan hilang dari benaknya.
Selesai solat Isya, dia keluar dari kamar dengan langkah yang sedikit santai. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama: Andrian.
Sebelum menjawab panggilan, dia melangkah ke arah sofa di sudut ruang tamu — tempat yang sama di mana bunga tadi kelihatan. Bunga itu masih di situ. Sekuntum mawar merah dan putih menghiasi vas kristal. Dia memandangnya sambil mengerut dahi.
Ponselnya berdering lagi.
Cepat-cepat dia menjawab.
"Assalamualaikum…"
"Waalaikumussalam…" jawab Pak Andika, agak pelik. Andrian jarang memulakan panggilan dengan salam.
"Ayah… sudah selesai solat, kan?"
"Ya… baru saja selesai."
"Rian tahu… Rian dengar kok," jawab Andrian sambil tertawa kecil.
"Ah, kamu ni ada-ada saja… Gimana khabar kamu di sana? Sudah mulai kerja?"
"Nggak ada yang mau terima Rian lagi… Sekarang Rian pengangguran," balas Andrian dengan tawa ringan.
"Nah, pulanglah ke sini. Banyak kerja yang menanti kamu di sini."
"Kalau sekarang juga Rian mau pulang, Yah…"
"Jadi pulanglah. Buat apa berlama-lama di negeri orang."
"Yah… memang aku mau pulang…"
"Atau… kamu sudah ada kekasih di Manhattan sampai susah mau tinggalkan tempat tu?"
"Nggak ada, Yah…" jawab Andrian perlahan.
"Kalau begitu, segera pulang. Ada orang yang menunggu kamu di sini…" Pak Andika tertawa kecil.
"Siapa?"
"Ayah pun belum tahu. Tapi kalau kamu mau, ayah hadiahkan bunga… ada bunga segar di sini. Tak tahu siapa yang letak di atas meja kopi," katanya sambil memandang vas bunga di depan.
"Oh… itu bunga Rian, Yah… Rian yang letak. Tadi Rian bawa untuk seorang wanita. Tapi pas Rian lihat, ada seorang pria tua sedang memeluk dia…"
Andrian tertawa besar. Saat itu, daun pintu kamar di hujung koridor terbuka.
Pak Andika tersentak. Seperti melihat hantu.
"Rian… kapan kamu sampai, nak?" Dia bangkit dari sofa dan segera mendapatkan anaknya.
Mereka berpelukan erat. Pelukan dua jiwa yang lama terpisah, penuh rindu dan kasih sayang yang tak terucap.
"Pagi tadi, Yah. Memang sengaja Rian nggak beritahu. Mau buat kejutan. Waktu ayah telepon kemarin pagi, Rian sudah di bandara di New York."
"Nasib baik ayah tak sakit jantung," balas Pak Andika sambil ketawa. Andrian turut tertawa bersamanya.
"Bunga itu?" tanya Pak Andika, sambil menunjuk ke vas bunga.
"Buat Lydia. Tadi Rian sempat ke rumah sakit… tapi pas Rian lihat dia nangis dalam pelukan ayah, Rian dengar dia bilang suaminya tinggalkan dia…"
"Jadi kamu ke rumah sakit tadi?"
Andrian mengangguk.
"Iya… tapi nggak jadi masuk. Aku langsung balik dan tidur."
Tiba-tiba suara Bi Tari kedengaran dari arah dapur.
"Pak… makan malam sudah siap. Bibi ada masakkan sup ayam berempah buat Nak Rian."
"Terima kasih, Bi… Aku memang rindu sangat dengan sup ayam berempah Bibi," kata Andrian sambil tersenyum.
"Jadi Bi Tari sudah tahu kamu datang?" tanya Pak Andika, sedikit terkejut.
Andrian mengangguk dan mereka berjalan beriringan ke ruang makan — dua lelaki dari dua generasi, saling menguatkan tanpa banyak kata.
Comments
Post a Comment