Bab 31 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Sejak dibawa pulang dari rumah sakit, Lydia lebih banyak diam. Ia hanya duduk termenung di dekat jendela kamarnya, memandangi pohon flamboyan yang sedang bersemi di halaman depan. Tubuhnya telah pulih — begitulah kata doktor. Tangan dan kaki yang patah telah menyatu. Namun jiwanya... masih retak.


Setiap hari air mata mengalir dari kelopak matanya yang letih. Setiap malam, suara rintihannya mengisi kamar. Kadang-kadang, ia memanggil nama Hisham dalam mimpi. Ada saat-saat Lydia menangis tanpa suara, menatap kosong ke arah bayangannya di cermin.


Kadang, bila tangisnya tak terkendali, dokter terpaksa memberi suntikan penenang. Ibu Marini dan Pak Harun bergantian menjaganya. Namun hanya satu sosok yang mampu membuat Lydia bergerak — meski hanya sedikit.


Muhammad Dani.


Anak kecil itu seperti tak pernah lelah. Tiap pagi, dia akan mengetuk pintu kamar ibunya, membawa nampan kecil berisi bubur, roti, atau jus yang disiapkan oleh Tika.


“Bu… makan ya…” katanya lembut, sambil duduk di tepi ranjang.


Kalau Lydia menggeleng atau berpaling, Dani akan menundukkan wajahnya dan berkata,


> “Kalo Ibu nggak makan… Dani juga nggak mau makan. Nanti Dani bisa jatuh dari tangga kayak Ibu…”




Kata-kata polos itu membuat hati Lydia retak setiap kali. Tangisnya pecah, dan ia memeluk anak itu erat-erat.


Hari itu, seperti biasa, Dani masuk membawa secawan susu hangat dan semangkuk sup ayam. Ia meletakkan semuanya di meja kecil dekat ranjang. Ia naik ke ranjang dan duduk di sisi ibunya.


“Bu... kenapa Ibu nangis terus?” tanyanya perlahan.


Lydia tak menjawab.


“Kenapa Ibu nggak pake baju cantik lagi kayak dulu?” suara Dani semakin lembut, nyaris berbisik.


Lydia menggenggam tangan kecil itu, membawanya ke pipinya. Ia mencium jari-jemari anaknya dan membisikkan,


> “Dani… Ayah Dani sudah nggak ada, Nak…”




Dani menatap mata ibunya.


> “Kemana Ayah pergi, Bu?”




> “Ayahmu hilang… di laut…”




Dani terdiam sejenak. “Siapa ayah Dani, Bu?”


> “Nama Ayah Dani... Hisham...”




Dani memiringkan kepala kecilnya. “Dia kayak Om Rian?”


Lydia menggeleng sambil menangis, memeluk Dani lebih erat.


> “Ayah Dani baik... Dia sayang sama Dani... sayang sama Ibu…”




Dani mengangguk pelan. “Om Rian juga baik. Om Rian juga sayang sama Dani dan Ibu…”


Suara langkah terdengar dari pintu. Ibu Marini masuk perlahan, membawa selimut tambahan. Ia berhenti ketika mendengar perbualan itu.


“Om Rian sayang sama Dani?” tanyanya sambil duduk di sofa kecil dekat pintu.


Dani mengangguk, matanya bersinar.


> “Om Rian kasih Dani permen… sama cokelat. Sama mobil mainan…”




Ibu Marini tersenyum kecil. “Kalau untuk Ibu? Om Rian kasih apa?”


Dani bangkit dari duduknya, mengambil boneka putih besar di sudut kamar. Ia memeluk boneka itu dan memicit-micitnya sambil berkata bangga,


> “Om Rian kasih ini buat Ibu… Boneka besar warna putih. Ibu seneng banget sama boneka ini…”


Ibu Marini menatap Lydia


Dani memeluk boneka putih besar itu erat-erat. Ia duduk di sisi ranjang, menatap wajah ibunya yang masih terisak.


“Ibu bilang... Ibu suka boneka ini,” katanya perlahan sambil mengusap lembut kepala boneka. “Ini katanya... Om Rian. Ibu bilang, kalau tidur malam... Dani peluk boneka ini... kayak Dani peluk Om Rian.”


Ibu Marini yang duduk tak jauh dari mereka menoleh, memandang cucunya dengan mata sedikit berkaca.


“Kalau tidur malam... Dani yang peluk boneka ini?” tanyanya perlahan, penuh rasa ingin tahu. Anak kecil itu terlalu petah berkata-kata untuk usianya.


Dani menggeleng cepat. “Nggak… Ibu yang peluk…”


Marini terdiam. Matanya menoleh ke arah puterinya — Lydia — yang masih teresak dalam diam, memeluk lututnya di atas ranjang. Bahunya berguncang kecil. Tangis yang dalam, tak lagi bisa disembunyikan.


Setelah beberapa saat, Marini bangkit perlahan. Ia menepuk bahu Dani dengan lembut.


“Ayo, kita turun. Ibu mau istirahat,” katanya perlahan.


Dani menoleh ke arah ibunya sekali lagi. Dengan langkah kecil, ia digandeng neneknya menuju pintu.


Sebelum keluar, Dani berpaling. Ia memandang ibunya yang masih duduk terdiam dalam pelukan boneka.


“Bu… jaga Om Rian ya…”


Lalu mereka melangkah keluar perlahan, menuruni tangga spiral yang sunyi, meninggalkan Lydia sendirian dengan kenangan yang tak mampu dilupakan.



Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini