Bab 32 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Sudah hampir tiga bulan sejak berita kehilangan Hisham disampaikan kepada Lydia.


Hari-hari pertama terasa seperti neraka. Setiap detik seperti tikaman, setiap malam seperti kuburan sepi yang menelan suara dan cahaya. Lydia hanyut dalam air mata, tenggelam dalam kegelapan yang tak bisa dijelaskan.


Namun waktu — meski lambat — berjalan juga.


Sedikit demi sedikit, kesedihan yang pekat itu mulai pudar dari wajahnya. Tangis yang dulu menjadi teman setia di malam sunyi, kini hanya datang sesekali… lalu menghilang dalam pelukan bantal.


Kini, Lydia mulai menerima takdir. Tidak lagi memberontak pada kenyataan bahawa Hisham telah pergi — entah ke mana, entah untuk selamanya. Ia belajar untuk reda, kerana di hadapannya ada satu jiwa kecil yang memerlukan cintanya — Muhammad Dani, satu-satunya peninggalan dari cinta mereka.


Setiap pagi, Lydia membuka jendela kamar. Ia hirup udara segar dengan lebih tenang. Langkahnya ringan, senyumannya perlahan-lahan kembali ke wajah.


Walaupun bayangan Hisham masih sering menghantui… Lydia tidak lagi takut. Bahkan kadang, bayangan itu menjadi peneman setia saat sepi. Ketika senja datang dan Dani sudah tertidur, Lydia akan duduk di balkon, membayangkan suara Hisham memanggilnya, membayangkan sentuhannya, senyumannya, caranya tertawa.


Dan untuk sesaat, ia merasa bahagia… walau hanya ditemani kenangan.


Lydia kini mulai keluar rumah bersama Dani. Mereka sering ke Bandung menjenguk Eyang. Kadang-kadang Lydia membawa Dani dan Tika ke Tamani Kids Café, menikmati waktu santai sambil melihat Dani bermain di playground. Mereka juga pernah bermain di Jag’s Kitchen, tertawa di Chipmunk Playland & Café, dan banyak tempat lain yang dulu tak sempat dikunjungi bersama Hisham.


Dan Dani… anak itu tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Pintar, sopan, dan penuh kasih.


Dia adalah cerminan kecil dari Hisham. Wajah putihnya, hidungnya yang mancung, bahkan senyumnya — semuanya mengingatkan Lydia pada lelaki yang pernah menjadi seluruh dunianya.


Tapi lebih dari itu, Lydia mulai melihat jiwa Hisham dalam diri anaknya.


Dani selalu memperhatikan ibunya. Bila Lydia batuk, Dani cepat-cepat mengambilkan tisu.


“Ibu harus minum air hangat, ya...”


Bila Lydia lupa memakai sabuk pengaman, Dani segera bersuara,


“Ibu belum pakai seatbelt, nanti Dani marah…”


Bila es krim meleleh di bibir Lydia, Dani akan mengelapnya dengan hati-hati, seolah dia yang jadi orang tua.


Lydia sering tertawa kecil melihat tingkah anak itu. Kadang, ia menyentuh pipi Dani perlahan, seolah menyentuh Hisham. Kadang pula, kenangan itu menimbulkan genangan di matanya.


“Hisham... kamu masih ada. Kamu hidup dalam anak kita…”


Bila air matanya mulai mengalir, Lydia akan cepat-cepat mengusapnya. Ia tak mahu Dani melihatnya menangis lagi. Ia mahu anak itu terus melihat senyum ibunya — senyum yang dulu dimiliki seorang wanita bernama Lydia, yang kuat, lembut, dan penuh cinta.


Kerana kini, Lydia tahu… dia harus bangkit, demi Dani.


Dan bayangan Hisham, tak lagi menjadi luka, tapi menjadi cahaya — yang diam-diam menemani setiap langkah hidupnya.

-----

Langit senja masih bersisa cahaya lembut ketika Lydia dan Dani melangkah ke kawasan fun fair — tempat yang dulu pernah menjadi lokasi kenangan manis antara dia dan Andrian. Hari ini, tempat itu menjadi pilihan Lydia untuk merayakan ulang tahun Dani yang keempat.

Lydia menggenggam tangan kecil anaknya, senyum tak lekang dari wajahnya melihat keriangan Dani yang melompat ke sana ke mari. Deretan permainan, lampu-lampu berwarna-warni, dan muzik kanak-kanak menciptakan suasana yang hidup — seperti menyingkirkan kesedihan yang telah lama bersarang dalam hatinya.

“Aku mau cotton candy, Bu! Yang besar dan warna biru!” pinta Dani.

Lydia tertawa kecil, bibirnya terangkat sedikit, kenangan tentang seseorang perlahan muncul di benaknya.

> Andrian... cotton candy biru...



Tanpa banyak tanya, Lydia membelikan cotton candy besar warna biru muda dan membawa Dani duduk di bangku kayu panjang yang disediakan untuk pengunjung berehat.

“Ayo... kita lomba makan cotton candy. Dani makan dari sebelah sana, Mama dari sini!” kata Lydia ceria.

“Yeaaay!” Dani bersorak riang.

Mereka pun mulai berlomba. Lydia menggigit cotton candy perlahan, manisnya menyentuh lidah... dan tiba-tiba — kenangan itu datang. Ia memejamkan mata. Saat yang serupa. Wajah itu... senyum itu...

Andrian.

Lydia tersentak. Jantungnya berdetak kencang. Wajah seseorang tampak samar di hadapannya.

“Kenapa, Bu?” tanya Dani heran.

Lydia membuka mata. Hanya Dani yang ada di depannya, bukan siapa-siapa.

Ia menggeleng perlahan, tersenyum.

Mereka kembali berjalan, dan Dani menarik tangan ibunya saat mereka melewati stand permainan lempar panah ke balon.

“Bu, Dani mau main yang itu! Kalau menang, Dani mau kasih boneka besar buat Ibu!”

Lydia tercekat sejenak. Lagi-lagi kenangan Andrian hadir — saat lelaki itu membantu dia memenangkan boneka besar dulu. Kali ini, Lydia mencuba sendiri. Namun tetap gagal. Dani pun mencuba — dan gagal juga.

Mereka melangkah pergi walau kecewa kecil menghias hati.

“Yuk, kita makan!” Dani berseru.

Mereka berhenti di sebuah gerai makanan yang menjual sajian Barat dan lokal. Lydia memesan chicken chop dan jus jeruk. Untuk Dani, nuggets, ayam goreng, dan Milo sejuk.

Saat mereka sedang berbual kecil menunggu makanan, seorang petugas dari stand permainan mendekat membawa boneka besar berwarna kelabu dan sebuah kotak hadiah berbungkus kertas biru bunga-bunga.

“Maaf, Bu. Ini boneka untuk Ibu,” katanya sambil tersenyum.

“Haa? Buat saya?” Lydia tertawa terkejut.

“Dan… mobil ini untuk anak Ibu,” katanya lagi, menyerahkan kotak kepada Dani.

“Dari siapa?” Tanya Lydia, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh kiri kanan. Siapa yang mengikuti mereka?

Dani menoleh ke belakang ibunya dan matanya bersinar gembira.

“Mama... Mamaaa... ada orang di belakang Mama!”

Lelaki itu memberi isyarat pada Dani agar diam.

Kemudian suara yang familiar menyapa dari belakang.

> “Happy birthday, anak Papa...”



Lydia tersentak. Nafasnya tercekat.

> Hisham? Itu suara Hisham...?



Dia berpaling cepat. Seorang lelaki berdiri di belakangnya, membawa sebiji kek ulang tahun dengan empat batang lilin di atasnya.

Lydia hampir jatuh dari kerusinya. Tangannya terpegang meja untuk sokongan. Lelaki itu cepat-cepat memegang bahunya, menstabilkan tubuhnya.

“Om Andrian!!” jerit Dani penuh kegembiraan.

“Rian!!!” suara Lydia nyaris tersekat. “Kok kamu ada di sini?”

Andrian tertawa kecil sambil meletakkan kek di atas meja.

> “Aku pulang karena aku tahu kau pasti mau boneka itu lagi, kan?” katanya, senyum penuh makna.



“Selamat ulang tahun, Dani,” ucapnya sambil mengusap rambut anak itu.

“Terima kasih, Om! Terima kasih juga hadiahnya!”

Wajah Lydia masih penuh tanya.

“Tadi... kamu bilang apa?” tanyanya perlahan pada Andrian.

“Bilang apa?” Andrian menaikkan kening.

“Kamu bilang apa sama Dani?”

“Aku bilang... Selamat ulang tahun, Dani.”

“Bukan... sebelum itu. Sebelum aku hampir jatuh.”

Andrian ketawa kecil, lalu menjawab sambil berseloroh, “Aku bilang ‘Happy birthday, Dani.’ Apa Bahasa Inggrisku kurang baik?” Dia tertawa lagi.

Lydia hanya menggeleng, tak ingin memaksa. Tapi hatinya bergetar… seakan menyimpan rahsia yang belum terucap.

Pesanan makanan pun sampai. Andrian memesan burger dan cola. Sebelum makan, dia mengajak Dani meniup lilin dan memotong kek.

Setelah meniup lilin, Andrian memotong sekeping kek dan menyuapkan ke mulut Dani. Kemudian, dia mengambil satu lagi potong untuk Lydia.

Lydia memandang Andrian yang kini menyuakan kek ke mulutnya… dan seketika, pandangannya kabur — bukan kerana cahaya, tetapi kenangan.

> Dia melihat Hisham… menyuapkan kek di tepi pantai… seperti dulu…



Tangisnya hampir pecah. Tangannya menggigil.

Saat Dani bersorak gembira, Lydia tersedar.

Dani cepat-cepat mengambil tisu.

“Mama, ini buat Mama…”

Namun sebelum Lydia sempat mengambilnya, Andrian sudah mendahului. Dia mengelap air mata Lydia yang hampir jatuh, dan sekali gus menyeka krim di bibirnya.

“Terima kasih,” ucap Lydia lirih, menunduk, menyembunyikan perasaan yang sedang berkecamuk.

“Yuk kita makan. Burger udah sampai,” kata Andrian ceria.

Dan di bawah lampu-lampu fun fair yang bergemerlapan, mereka bertiga duduk menikmati makan malam — seperti sebuah keluarga kecil yang pernah hilang… dan kini perlahan kembali menemukan jalannya.



----

Senja mulai merangkak pergi ketika mereka berjalan menuju kawasan parkir.


Dani menggenggam erat tangan Andrian, seolah tak ingin berpisah. Di tangan kecilnya masih erat boneka besar berwarna kelabu yang tadi diberikan. Wajahnya bersinar ceria, senyum tak pernah lepas sejak kek itu sampai di meja mereka.


Lydia berjalan di sisi mereka, sesekali menoleh ke arah Andrian yang kini seperti bayangan masa lalu yang hadir kembali — nyata, dekat, namun tetap penuh tanda tanya.


Setiba di mobil, Andrian membuka pintu untuk Dani. Lydia berdiri di sisi keretanya, ragu untuk berbicara. Namun sebelum dia sempat berkata apa-apa, Andrian bersuara dahulu.


“Aku akan singgah ke rumah nanti malam. Cuma sebentar. Untuk ulang tahun Dani,” katanya sambil menatap mata Lydia penuh maksud. “Boleh, kan?”


Lydia mengangguk perlahan. “Ya... tentu. Dani pasti senang.”


Andrian tersenyum. “Aku juga.”


Mereka saling menatap sejenak sebelum akhirnya berpamitan. Dua kereta bergerak ke arah berbeza, namun hati mereka — seakan masih di tempat yang sama.


---


Sesampainya di rumah, Lydia sedikit terkejut. Suasana rumah kelihatan sibuk dan riuh dengan persiapan.


Ibu Marini di dapur, berbincang dengan pembantunya, Ririn dan Tika. Meja makan sudah dihias dengan alas berwarna biru langit, dihiasi bunga segar dan taburan confetti berbentuk bintang. Balon-balon putih dan biru muda digantung di dinding ruang tamu. Sebuah banner sederhana bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Dani” tergantung di atas pintu masuk.


“Astaghfirullah... Bu, kenapa ramai sangat ni?” tanya Lydia sambil tersenyum terkejut.


Ibu Marini menoleh dengan tawa kecil. “Lho, katanya ulang tahun Dani? Kita rayakan dong... kecil-kecilan saja. Hanya keluarga.”


Dani menjerit riang dan terus berlari ke dalam rumah, menunjukkan bonekanya pada semua orang. “Nihhh... lihat! Ini hadiah dari Om Andrian! Besar banget, kan?!”


Lydia tersenyum melihat anaknya gembira.


> Dan tiba-tiba, hidupnya kembali terasa penuh. Penuh tawa. Penuh harapan. Dan mungkin... penuh cinta yang perlahan tumbuh kembali......ahhhh adakah mungkin? Bisik hatinya.


Dia melangkah masuk ke rumah, meletakkan begnya, lalu menoleh ke jam dinding.


Masih ada masa. Malam masih panjang. Dan janji Andrian… belum tertunaikan.








Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini