Bab 33 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 

Sejak kembali ke Bandung, Andrian tak pernah lalai menelefon Lydia. Panggilan telefon itu menjadi rutin harian yang dinanti-nantikan Lydia—walau hanya untuk bertanya, “Apa kamu sudah makan?” atau “Bagaimana Dani hari ini?”


Di balik suara tenangnya, Andrian menyimpan debar. Di sebalik tawa kecil Lydia, tersembunyi perasaan yang mulai mekar kembali. Hubungan mereka kian erat, walaupun jarak masih memisahkan.


Kadang-kadang, ketika Dani sedang bersama ibunya, Andrian akan meminta Lydia menyerahkan telefon kepada anak kecil itu.

“Dani, boleh panggil Om dengan sebutan Papa?”

Sejenak Dani terdiam. Kemudian dia menjawab, “Boleh... Papa!”


Andrian menahan sebak. Hatinya dipenuhi haru. Sejak hari itu, Dani selalu menyebutnya Papa dengan penuh manja dan bahagia.


Andrian tahu... Lydia sudah menjadi sebahagian penting dalam hidupnya. Dia tidak ingin menunggu lebih lama. Pada suatu malam, ketika duduk berdua bersama Pak Andika di teras rumah sambil menikmati udara malam Bandung, Andrian membuka hati.


 “Ayah... aku rasa aku jatuh cinta pada Lydia.”


Pak Andika menoleh dan menatap wajah anaknya.


> “Sudah lama Ayah duga. Kamu kelihatan lain kalau berbicara tentang dia. Kamu benar-benar yakin?”




Andrian mengangguk, matanya bersinar yakin.


> “Aku ingin menjadikan Lydia isteri yang sah. Aku tak mau menunda. Ayah tolong sampaikan pada Pak Harun.”




Pak Andika memeluk bahu anak lelakinya.


> “Ayah bangga padamu, Yan. Esok Ayah akan temui Pak Harun.”





---


Berita itu disampaikan dengan penuh senyum oleh Pak Andika kepada Pak Harun, dan sambutannya begitu hangat.


> “Alhamdulillah,” ucap Pak Harun. “Andrian lelaki yang baik. Saya percaya dia akan membahagiakan anak saya.”




Ibu Marini turut bahagia. Pada keesokan harinya, dia dan suaminya mendekati Lydia yang sedang duduk di beranda bersama Dani.


> “Nak,” ucap Pak Harun lembut. “Kami ada berita gembira. Andrian ingin melamarmu... menjadikanmu isterinya yang sah.”




Lydia mendongak, memandang wajah kedua orang tuanya. Tiada rasa terkejut di wajahnya. Sebaliknya, senyuman kecil menghias bibirnya—senyuman yang menyimpan seribu rasa.


> “Saya sudah menduga, Ayah... Dari caranya memandang saya, dari tutur katanya... saya bisa merasakan niatnya.”




Ibu Marini menggenggam tangan puterinya.


> “Jadi bagaimana, Nak?”




Lydia menarik nafas panjang.


> “Beri saya waktu... bukan kerana saya ragu... tapi kerana saya ingin memastikan keputusan ini bukan hanya kerana luka semalam. Saya ingin pastikan hati saya benar-benar siap membuka lembaran baru.”


Mereka mengangguk, mengerti. Cinta tak bisa dipaksa, tapi bila waktunya tepat... ia akan tumbuh dengan indah.






Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini