Bab 34 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Andrian duduk termenung di atas sebuah batu besar di tepi pantai yang tidak jauh dari rumah ayahnya di Jakarta. Laut pagi itu terlihat tenang, hanya ombak kecil yang perlahan memukul pasir dan membelai kakinya yang masih berbalut kasut sukan.


Semalam, selepas kembali dari Bandung, Andrian langsung ke rumah Pak Andika. Mereka berbincang cukup lama di ruang tamu. Suasana perbualan itu terasa hangat, tapi ada bayang resah di wajah ayahnya.


"Om Harun mu masih belum mendapat jawaban dari Lydia," kata Pak Andika lirih.


Kalimat itu berulang-ulang bermain dalam kepala Andrian. Ia seperti gema yang tak kunjung reda.


Pagi ini, selepas jogging ringan, Andrian memilih untuk menyusuri pantai yang sudah lama tidak dia jejaki. Hanya ada sepasang suami istri yang sedang berjalan santai dengan seorang anak kecil di sisi mereka. Ketika berpapasan, si suami tersenyum dan mengangguk sopan kepadanya. Andrian membalas dengan senyuman kecil, walau hatinya terasa kosong.


Alangkah bahagianya… batinnya lirih, jika aku, Lydia, dan Dani berjalan bersama di sini. Menghirup udara segar, membiarkan pasir membasahi kaki, dan berbicara tentang masa depan...


Namun, seperti sengaja, satu suara kecil dalam dirinya membantah, Ahhh... jangan terlalu berharap, Andrian.


Tangannya memungut batu kecil di sampingnya. Fikirannya terbang jauh… terbang melintasi lautan, melintasi waktu, hingga sampai di depan kedai bunga Chloe di New York.


Dia masih ingat saat melihat Sofia berdiri di sana—dengan suaminya dan anak perempuan mereka yang tampak ceria. Satu keluarga kecil yang terlihat sempurna.


“Ahhhh…” desahnya lirih. Dengan gerakan spontan, dia melontarkan batu kecil itu ke tengah laut. “Lupakan… kau sudah bahagia!” katanya, seolah berbicara kepada kenangan yang belum benar-benar dia relakan.


Andrian kembali duduk di atas batu itu. Angin laut meniup rambutnya pelan, menyentuh wajahnya yang mulai dilapisi kelelahan. Dia menatap jauh ke tengah laut, kosong, hening… tetapi penuh gejolak di dalam hati.


Tiba-tiba, bayangan Lydia hadir di benaknya. Senyumnya. Suaranya. Tatapan lembutnya ketika memandang Dani. Wanita itu… semakin hari semakin menawan di matanya. Ada sesuatu yang membuatnya ingin terus dekat. Bukan sekadar untuk mengenal… tapi untuk memiliki. Untuk melindungi.


Aku ingin dia… batinnya mengakui dengan jujur. Aku ingin menjaga dia. Aku ingin menjaga Dani. Aku ingin menjadi lelaki yang hadir untuk mereka setiap hari, bukan hanya dalam mimpi atau telefon.


Andrian menghela nafas panjang. Hatinya penuh harapan, meski langkahnya masih terikat keraguan.


Andai Dani menjadi Ahmad Dani Andrian Prasetyo... dan Lydia menjadi Ibu Lydia Andrian Satria Prasetyo...


Perlahan, sebuah senyuman merekah di wajahnya. Ada rasa hangat mengalir dalam dada. Dia bangkit dari duduknya, menepuk-nepuk celana yang sedikit basah. Lalu dengan langkah mantap, dia meninggalkan batu itu dan berjalan pulang ke rumah.


Matahari semakin tinggi, tetapi pagi itu... terasa seperti awal dari sesuatu yang baru.

----

Setibanya di rumah, Andrian langsung menuju ke kamarnya. Langkahnya sedikit malas, namun tubuhnya terasa segar setelah angin pantai menyapa wajahnya sejak pagi. Tanpa banyak bicara, dia melepaskan bajunya dan mencapai handuk putih yang tergantung di balik pintu. Dia masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah air pancuran yang mengalir deras, membiarkan air dingin itu menyapu tubuh dan fikirannya.

Beberapa menit dia diam di situ. Hanya bunyi air, dan detak jantungnya yang perlahan-lahan kembali tenang.

Usai mandi, Andrian mengeringkan tubuhnya, lalu menyarung kaos polo warna krem dan celana panjang trek warna abu-abu. Hari ini dia tidak berniat keluar. Dia hanya ingin santai, menikmati waktunya sendiri sambil meminum segelas jus jeruk di teras rumah. Dari situ, dia bisa melihat kembali pantai yang dia lalui tadi.

Ahhh… siapa tahu Lydia dan Dani sedang jalan-jalan di sana sekarang, bisik hati kecilnya, membuat dia tersenyum sendiri.

Dia melangkah ke dapur dan membuka kulkas, mengambil segelas jus jeruk dingin. Aroma harum dari periuk di atas dapur membuatnya menoleh.

"Bi Tari masak apa? Enak betul baunya… Sup ayam berempah?" tanya Andrian sambil tersenyum kepada wanita paruh baya yang sedang khusyuk memasak.

Bi Tari menoleh dan tertawa kecil. "Hari ini Bibi masak spesial. Kari ayam, pajeri nanas, sama nasi biryani."

"Wah… kayak menu dari Malaysia,” kata Andrian sambil tergelak kecil. Otaknya langsung melayang pada satu kenangan—sewaktu dia makan nasi biryani, kari ayam, dan acar timun di Café Spice Lane milik ayah Sofia di New York. Katanya, menu itu dipelajari ibunya Sofia dari seorang sahabat Malaysia.

Dengan gelas jus di tangan, Andrian kembali ke ruang tamu. Dia melangkah ke sudut favoritnya—sebuah sudut kecil di ruang menghadap laut. Dari situ dia sering duduk dan bermain piano sambil memandang ombak yang memukul pantai, seolah-olah alam sedang menyanyi untuknya.

Pianonya masih utuh di situ. Sebuah piano klasik warna hitam mengkilap yang dibelikan Pak Andika sewaktu dia masih di SMA. Sejak kebelakangan ini, setiap kali dia kembali ke Jakarta dari Bandung, Andrian pasti akan menyentuh tuts-tuts piano itu—seperti menyentuh hatinya sendiri.

Andrian adalah jago piano sewaktu kuliah di Binus University, Jakarta Barat. Dia pernah menjadi juara satu dalam pertandingan piano kampus sebelum melanjutkan studi desain dan bisnis di Amerika.

Hari ini, dia duduk perlahan di bangku kayu di hadapan piano itu. Jari-jarinya yang panjang dan kukuh mulai menari lembut di atas tuts. Lagu pertama yang dia pilih: Where Do I Begin—lagu dari filem klasik Love Story tahun 1970. Lagu itu... seolah punya roh tersendiri dalam hatinya.

Nada-nada cinta mengalun syahdu, membawa fikirannya kembali ke momen-momen awal dia bertemu Lydia…

Saat bahu mereka bertemu di lorong rumah sakit, ketika kopi yang ditawarkannya ditolak dingin oleh wanita itu, saat Lydia memeluk Dani dengan panik kerana menyangka Dani hilang, saat mereka berpandangan Dan wajah mereka salung mendekat ketika makan cotton candy, saat mereka bermain panah dan dia memenangi boneka lalu memaksa Lydia memeluknya. Saat dia mencium jari jemari Lydia sewaktu makan di Rooftop. Saat dia menyeka air mata wanita itu. Saat dia menyuapkan sepotong kek ke mulut Lydia dan ada genangan air di matanya.

Setiap kenangan itu kembali, seperti film yang diputar perlahan dalam benaknya. Dan dia terus memainkan lagu itu, berulang-ulang. Tangannya menyentuh tuts dengan lembut, penuh rasa. Setiap nada seperti pengakuan cinta yang belum pernah dia ucapkan dengan kata-kata.

Tanpa disedari, dari balik dinding ruang—di satu sudut rumah itu, Lydia berdiri memandang ke arahnya. Diam-diam dia datang, bersama Dani. Tapi hanya dia seorang yang berdiri di situ sekarang, tak mahu mengganggu permainan Andrian.

Wajahnya terpesona. Dia baru tahu, Andrian bisa bermain piano seindah itu. Dalam, halus, dan menyentuh hati.

Lagu itu mengalun lagi… dan Lydia mulai menyanyikannya perlahan, mengikuti setiap bait liriknya…

"Where do I begin... to tell the story of how great a love can be…"

Suaranya lembut, sedikit bergetar. Tapi penuh rasa.

Andrian terdiam. Tangannya berhenti bermain.

Perlahan dia menoleh.

Dan di sana… di balik tiang putih di ruang tamu, Lydia berdiri. Matanya berkaca. Senyum kecilnya menyimpan rindu yang lama terpendam.

Andrian sempat terdiam. Jemarinya yang tadi menari di atas tuts piano, kini terhenti perlahan. Matanya menatap Lydia—gadis itu berdiri tak jauh darinya, menyanyikan lirik demi lirik dengan nada yang lembut, namun cukup untuk mengguncangkan seluruh ruang hatinya.


Andrian berdiri.

“Lydia…”


Ia tak sangka. Suara itu... bukan hanya nyanyian, tapi pengakuan. Bukan sekadar lagu, tapi sebuah jawapan.

Andrian menatap Lydia dengan mata yang mulai berkaca. Hatinya bergetar hebat. Sesak oleh harapan yang terlalu lama dipendam, oleh cinta yang tak pernah padam. Dia berdiri pelan, menghampiri Lydia tanpa melepaskan pandangan.

"Lydia..." bisiknya, nyaris tak terdengar. "Benarkah... ini semua untukku?"

Lydia tersenyum. Wajahnya tenang, namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa yang mendalam. Dia mengangguk pelan.

"Aku datang... untuk memberitahu mu..... aku sedia jadi sebahagian hidupmu..... Kalau kau inginkan aku...." 

Andrian menghela napas panjang, seperti melepaskan seluruh rindu dan kesakitan yang pernah bersarang di dadanya. Ia meraih tangan Lydia, menggenggamnya erat—seolah takut kehilangan lagi.

"Aku tidak pernah berhenti menginginkan itu, Lydia," katanya. "Hari ini... kamu telah menyembuhkan seluruh bahagianku yang hilang."

Andrian membawa tangan Lydia ke bibirnya Dan Dia mengucup jari jemari itu dengan lembut dan menatap wajah wanita itu seolah takut keindahan ini hanya akan berlalu seperti mimpi.


Dan di saat itu, dunia seolah berhenti berputar. Tak ada yang terdengar selain degup jantung mereka, dan gema cinta yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.


Di satu sudut ruang tamu, tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang memerhatikan adegan itu dengan senyuman yang tak bisa disembunyikan.

Pak Andika duduk bersandar di sofa, matanya berkaca namun bibirnya tersenyum kecil. Di sampingnya, Bi Tari—yang sejak tadi menahan napas bahagia—mengusap pelan sudut matanya yang basah. Aris, pemandu Pak Andika sekaligus suami Bi Tari, berdiri tidak jauh di belakang, menyandarkan tubuh pada dinding sambil menyilangkan tangan di dada. Senyumnya lebar, tulus—bagai menyaksikan akhir dari kisah yang terlalu lama tertunda.

Mereka bertiga tak berkata sepatah kata pun. Tak ingin mengganggu. Hanya saling bertukar pandang dan tersenyum. Ada rasa lega yang menyusup diam-diam di dada mereka—lega karena akhirnya, dua hati yang saling mencinta itu menemukan jalannya pulang.

Pak Andika menghela napas perlahan. “Akhirnya... anak itu kembali juga,” bisiknya lirih, nyaris hanya untuk dirinya sendiri.

Bi Tari mengangguk, “Saya tahu, Pak... sejak pertama kali Lydia datang malam itu, saya bisa lihat di matanya... dia nggak datang untuk pergi lagi.”

Dan di ruang tamu yang senyap itu, saksi-saksi sunyi pun ikut tersenyum—menyambut cinta yang akhirnya berlabuh.





Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini