Bab 36 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Langit Jakarta kelabu, seperti tahu perasaan yang bersarang di dada Lydia. Di luar gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan, dia berdiri diam di anak tangga, memeluk tubuh sendiri walaupun tidak dingin. Di tangannya masih tergenggam erat dokumen perceraian — gugatan yang akhirnya dikabulkan setelah setahun penuh dia menunggu, berharap, dan berdoa.
Di sisinya, Ibu Marini memandang wajah anaknya dengan penuh simpati. Hari ini Lydia resmi bukan lagi isteri kepada Hisham — lelaki yang pernah berjanji akan menjaganya seumur hidup, tetapi hilang dibawa arus deras ketika dia sedang menyusur pantai setahun lalu.
Jasadnya tidak pernah ditemui. Tiada kubur. Tiada penanda. Hanya sepotong berita dan sekeping doa yang tinggal.
“Dia pergi tanpa pamit, Bu… tanpa sempat aku minta maaf, tanpa sempat dia mencium Dani…” bisik Lydia, suaranya retak oleh duka yang belum sembuh.
“Sudah takdirnya begitu, Nak,” jawab Ibu Marini perlahan, memeluk bahu Lydia. “Yang hidup harus terus berjalan. Kamu sudah lakukan segalanya sebagai isteri. Sekarang, kamu harus menjadi ibu yang kuat.”
Lydia memandang ke langit. Awan pekat mula menangis. Rintik hujan turun perlahan, menyapu pipinya yang basah — entah oleh air langit atau air mata sendiri.
“Aku tak pernah benci dia, Bu,” ucap Lydia lagi. “Hisham lelaki yang baik… Tapi aku tak boleh hidup dalam bayang-bayang kehilangan. Fasakh ini bukan kerana aku tak cinta lagi… tapi kerana aku harus belajar menerima yang tiada.”
Ibu Marini tersenyum sendu. “Dan kamu sudah sangat kuat, Lydia…”
Mereka melangkah ke mobil di tepi jalan. Bobby turun memayungi mereka. Di dalam kereta, Lydia menoleh sekali lagi ke arah bangunan besar itu. Dalam hatinya, dia berbisik: “Andai abang masih hidup di mana pun, ketahuilah... aku tak pernah berhenti menyayangimu. Tapi aku harus pergi dari penantian ini sebelum ia membunuhku perlahan-lahan.”
Lydia menatap kantor agama yang baru saja mereka tinggalkan. "Aku tidak akan biarkan kesedihan dan kenangan buruk terus menghantui hidupku. Aku harus maju... untuk diriku sendiri, untuk Dani."
Ibu Marini memeluk Lydia dengan erat, seolah ingin memberikan kekuatan terakhir kepada anak perempuannya. "Kami akan selalu mendukungmu, Nak. Kami akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih, Ibu," jawab Lydia, suara lembut penuh haru. "Aku tidak akan bisa melaluinya tanpa kalian."
Bobby menatap mereka berdua, dan dengan penuh keyakinan, dia berkata, "Sekarang, mari kita fokus pada kehidupan yang baru. Dani sudah punya masa depan yang cerah dengan cinta yang tak pernah berhenti dari orang-orang di sekelilingnya."
Lydia mengangguk dan merangkul Dani yang sudah ada di sisinya. "Kita akan baik-baik saja, Nak. Aku janji."
Dan di luar kantor agama, dengan langit yang mulai cerah kembali, Lydia merasa sedikit lebih ringan. Langkah-langkahnya yang dulu terasa terikat kini mulai terasa lebih bebas. Meskipun proses ini masih panjang, keputusan ini adalah langkah pertama untuk menuju kehidupan baru yang lebih baik.
-----
Pagi itu, langit Jakarta cerah seolah ikut merestui sebuah ikatan yang akan dimeterai dengan lafaz suci. Di rumah mewah Pak Harun yang terletak di kawasan elit Pondok Indah, suasana meriah namun tetap tertib. Para pekerja sibuk menyiapkan dekorasi taman belakang rumah yang akan menjadi tempat berlangsungnya akad nikah Lydia dan Andrian — dua insan yang telah melewati badai kehilangan, dan kini dipertemukan dalam damai yang penuh harapan.
Lydia mengenakan kebaya putih lembut berhiaskan sulaman benang emas di pergelangan tangan dan kerah. Rias wajahnya sederhana, namun cukup untuk menonjolkan sinar bahagia yang memancar dari matanya. Di sisi lain, Andrian tampak gagah dengan beskap berwarna krim yang dipadankan dengan batik tenun halus khas Jepara — warisan keluarga Pak Andika yang dibawa khas untuk momen istimewa ini.
Akad nikah berlangsung dengan lancar. Suara ijab kabul Andrian terdengar tegas, penuh keyakinan, di hadapan penghulu dan saksi-saksi yang hadir. Lydia menunduk, matanya basah. Ketika namanya disebut sebagai isteri yang sah, dia menatap Andrian — lelaki yang telah mengisi kekosongan yang dulu ditinggalkan Hisham dengan penuh kesabaran dan kasih yang tidak tergesa.
Pak Harun, yang duduk di sisi Lydia, mengangguk perlahan. Matanya juga berkaca. Ibu Marini tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya. Hari itu, mereka resmi menyerahkan puteri tunggal mereka kepada lelaki yang diyakini mampu menjaga dan mencintainya dengan penuh hormat.
---
Malamnya, suasana berubah gemerlap. Resepsi diadakan di sebuah hotel terkemuka di jantung kota Jakarta, dihias mewah dengan tema klasik modern berwarna emas dan putih. Lampu gantung kristal berkilau, bunga mawar segar menghiasi setiap sudut, dan lantunan muzik lembut dari live string quartet menciptakan suasana yang begitu anggun dan intim.
Lydia dan Andrian melangkah masuk ke ballroom sambil bergandengan tangan. Para tamu berdiri memberi tepuk tangan, sebahagiannya dari kalangan diplomat, tokoh bisnis, dan kerabat dari dalam serta luar negeri. Flash kamera menyala silih berganti. Namun di antara segala kemewahan itu, pandangan mereka hanya saling tertuju satu sama lain.
Saat Andrian berbisik di telinga isterinya, “Hari ini, kamu bukan hanya istriku. Kamu adalah anugerah yang tak pernah aku pinta, tapi Allah hadiahkan dengan penuh kasih,” Lydia tersenyum dan membalas, “Terima kasih kerana sabar menungguku belajar mencintaimu.”
Dan malam itu, di bawah cahaya temaram dan langit kota Jakarta yang bertabur bintang, dua hati yang dahulu pernah patah kini bersatu — bukan kerana ingin melupakan masa lalu, tetapi kerana memilih untuk memulai masa depan, bersama.
Malam turun perlahan di langit Jakarta, menyelimuti kota yang tak pernah benar-benar tidur. Tetapi di kamar pengantin di tingkat atas sebuah hotel mewah itu, waktu seolah melambat. Hening, hanya terdengar deru lembut pendingin ruangan dan bunyi samar nyanyian dari taman kota jauh di bawah sana.
Andrian membuka pintu kamar dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang erat jemari isterinya — isterinya yang sah, yang kini akan menemaninya mengarungi sisa usia.
Lydia melangkah masuk lebih dahulu, perlahan dan ragu. Gaun resepsi panjangnya telah ditukar dengan jubah tidur satin warna champagne yang sederhana, namun begitu anggun di tubuhnya. Rias wajahnya telah dibersihkan, menyisakan wajah asli Diyana — nama yang akan dipilihnya malam ini, untuk memulai segalanya dari awal.
Andrian memandanginya dalam diam. Dia tidak berkata apa-apa, hanya mengambil nafas perlahan, seakan tidak ingin membuat langkah yang salah.
Lydia menoleh. Pandangannya lembut, matanya tidak lagi merah seperti tadi. Dia mengatur duduk di birai ranjang, lalu menatap Andrian dengan tenang.
“Mas…” suaranya bergetar, namun tetap jernih, “Mulai malam ini… panggil aku Dian. Bukan Lydia.”
Andrian mendekat perlahan, lalu duduk di sisinya.
“Dian?” ulangnya, seolah ingin mencicip rasa nama itu di lidahnya. “Itu cantik… seperti pemiliknya.”
Lydia tersenyum malu. “Itu nama singkatan dari Diyana. Aku ingin… memulakan hidup baru, Mas. Aku ingin kau kenal aku bukan sebagai Lydia… tapi sebagai Dian, isteri yang hanya milikmu.”
Andrian menggenggam tangannya. “Kalau begitu, mulai malam ini… aku suami Dian. Dan Dian… milikku yang halal.”
Lydia menarik nafas dalam, lalu menyambung, “Dani juga bukan Dani lagi. Aku ingin namanya menjadi Ahmad Dani Andrian Prasetyo. Dia anak kita sekarang, Mas… bukan lagi anak dari masa lalu.”
Andrian menunduk. Air matanya hampir tumpah, tapi dia tahan.
“Terima kasih… kerana mempercayakan hidupmu dan anakmu padaku. Aku akan menjaga kalian. Selamanya.”
Lydia mengangguk. Kemudian dia bersandar perlahan ke dada suaminya — dada yang kini menjadi pelindungnya, bukan hanya dari dunia luar, tapi juga dari luka yang selama ini dia sembunyikan sendiri.
Dalam pelukan hangat itu, Dian melepaskan seluruh kenangan pahitnya satu persatu. Nama ‘Lydia’ yang dahulu dibisikkan oleh seseorang dari masa silam, kini menghilang bersama hembusan nafas terakhirnya malam itu. Yang tinggal hanyalah Diyana — seorang isteri, seorang ibu, dan seorang wanita yang akhirnya memilih untuk hidup… sepenuhnya.
Di luar jendela, langit malam cerah bertabur bintang. Seakan seluruh semesta turut menyaksikan kebahagiaan yang lahir dari keberanian seorang perempuan untuk membuang masa lalu, dan membina hidup baru bersama cinta yang sabar menunggunya.
Comments
Post a Comment