Bab 5 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 


Mobil hitam itu meluncur perlahan menyusuri jalanan lengang menjelang senja. Pohon-pohon di pinggir jalan bergoyang ditiup angin petang, sementara suara mesin mobil terdengar lembut dalam kesunyian yang membungkam di antara mereka.


Lydia duduk di kursi belakang sambil memeluk Daniel yang tertidur di pangkuannya. Sesekali dia melirik ke arah Ibu Marini yang duduk di sebelahnya, matanya menerawang keluar jendela. Ada sesuatu yang mengganggu fikiran Lydia sejak tiba di rumah itu — sikap ayahnya yang dingin, diam, dan nyaris tak menyapa mesra seperti yang dia harapkan.


Dengan suara rendah, Lydia memberanikan diri bertanya.

"Bu… boleh saya tanya sesuatu?"


Ibu Marini menoleh pelan, tersenyum tipis.

"Tentu, Nak. Tanya saja."

"Kenapa Ayah… sejak saya datang, Ayah seperti menjauh. Tatapannya dingin, bicaranya pun seadanya. Apakah… apakah Ayah masih marah karena saya menikah dengan Hisham?"


Ibu Marini terdiam sesaat. Nafasnya ditarik perlahan, lalu dilepaskan panjang-panjang seolah kata-kata yang akan keluar perlu disaring betul-betul.

"Sayang… bukan itu. Ayahmu memang begitu akhir-akhir ini. Dia sedang sangat sibuk. Urusan perusahaan makin rumit, dan katanya dia akan membuka satu lagi cabang perusahaan di Surabaya."


"Surabaya?"

"Iya… ayahmu tidak cerita banyak, tapi dari yang Ibu dengar, ini keputusan besar. Dia bekerja siang malam. Banyak hal yang dia simpan sendiri."


Lydia menunduk, menggenggam jari-jarinya sendiri sambil membelai rambut anaknya yang masih lelap. Tapi hatinya belum sepenuhnya tenang. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan — bukan hanya tentang perusahaan, bukan juga hanya tentang Surabaya. Tapi dia memilih diam. Mungkin... belum saatnya bertanya lebih jauh.


Dari kursi depan, Bobby Sugara hanya diam. Tatapannya lurus ke depan, tapi telinganya menangkap jelas percakapan antara Ibu Marini dan Lydia di belakang. Kata demi kata menusuk ke dalam hatinya yang sejak tadi sudah diselubungi rasa bersalah.


Lydia… gadis itu masih tidak tahu apa yang menantinya. Masih belum tahu apa yang telah dirancang oleh ayahnya sendiri. Dan sekarang, dia sedang bertanya-tanya mengapa sang ayah bersikap dingin terhadapnya.


Bobby menarik nafas dalam-dalam, menahan gejolak dalam dadanya. Memang benar, perusahaan Pak Harun akan membuka cawangan baru di Surabaya. Tapi itu hanya sebahagian dari kebenaran… dan bukan alasan sebenar mengapa lelaki itu menjauhkan diri dari anak perempuannya. Ada rahsia yang lebih besar, lebih berat… yang tidak pernah Lydia duga.


“Maafkan aku, Nak Lydia…” bisik Bobby perlahan dalam hati, sambil tangannya menggenggam erat sapu tangan dan botol kecil berisi klorofom. “Andai aku bisa memilih, aku takkan jadi bagian dari semua ini…”


Dia tahu perintah sudah diberikan. Arahan sudah jelas. Dan bila mereka sampai di simpang tiga nanti — tempat yang sudah dipilih untuk menjalankan rencana — dia harus bertindak. Tidak boleh ragu. Tidak boleh lambat.


Hatinya jadi berat malam ini. Terlalu berat dan menyiksa. Ini kali kedua dia mengkhianati kepercayaan Lydia padanya. Gadis yang sejak kecil sudah dianggap sebagai anaknya sendiri bila dia sendiri tidak mempunyai zuriat dengan wanita yang membuat dia menjadi lelaki yang dingin dan beku.


Bobby menggigit bibir bawahnya. Diam-diam, dia melirik melalui cermin pandang belakang. Lydia sedang menatap jendela, wajahnya sayu namun tetap tenang, sementara si kecil masih lena dalam pelukannya. Ibu Marini juga kelihatan termenung, mungkin memikirkan hal yang sama.


Perjalanan belum lagi sampai ke simpang tiga, tapi perasaan Bobby sudah mulai goyah. 


Bobby terasa bahunya ditepuk lembut....


"Bobby... nanti kita mampir di warung simpang tiga ya. Mau beli soto buat Jasmine. Dia sudah pesan dari tadi."


"Baik Mbak ....."


Setelah beberapa ketika, mobil perlahan menghampiri kawasan sunyi. Bobby mengarah supir memperlahankan mobil.  Di tepi jalan kelihatan papan tanda kecil: Simpang Tiga – Warung Soto Mak Siti


“Ibu turun sebentar ya. Mau beli soto buat Tante Jasmine,” kata Marini sambil membuka pintu.


Lydia mengangguk pelan sambil memejamkan mata, mencoba memanfaatkan kesempatan itu untuk membiarkan pikirannya melayang kepada Hisham


"Mbak....minta bergedil yang  lebih ya..." 


Bobby menurunkan kaca jendela mobil dan berkata agak keras karena Marini sudah menjauh dari kendaraan. Marini menoleh, memandang Bobby. Ia tersenyum penuh makna.


> “Ahhh… kamu tahu saja.”


Bobby tersipu malu. Ia buru-buru menaikkan kaca jendela mobil.


Setelah Marini keluar, Bobby menoleh ke arah Lydia.


"Nak Lydia.... perjalanan seharian mu sungguh memenatkan. Berehatlah...." Nada suaranya agak berketar sedikit. Seolah-olah ada sesuatu yang menghalang lelaki itu untuk bernada tulus. 


Bobby melirik jam di pergelangan tangannya. Detak jantungnya ikut berkejaran, seirama dengan detik jarum jam yang terus bergerak. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang diam-diam merayap di dada.


Di sampingnya, supir berwajah tenang yang sedari tadi hanya diam memandang ke depan, tiba-tiba mengangguk ke arahnya. Isyarat itu cukup jelas — waktunya hampir tiba.


Tiba-tiba, sebuah Van berwarna hitam  meluru dari arah hadapan, memotong mereka dengan kasar dan brek mengejut di tengah jalan. Supir menekan brek kuat, menyebabkan Mereka yang berada dalam mobil tersebut  terhuyung ke depan.


“ Ya Allah...Apa ni?!” jerit Lydia dan mendakap erat anaknya

“Astaghfirullah...”


Dua lelaki bertubuh tegap keluar Dari kenderaan itu, menuju ke arah mereka dengan langkah pantas dan agresif. Salah seorang mengetuk cermin pemandu dengan kuat.

 “Keluar! Keluar cepat!”


Bobby keluar sambil berpura-pura terkejut dan marah. “Ada apa ni? Jangan kasar, kami ada anak kecil!”



Seorang lelaki lain membuka pintu belakang. Lydia hanya sempat menjerit, “Daniel!” sebelum lelaki itu menekap kain putih ke wajahnya.


Bau menyengat menusuk ke hidungnya.

Lydia meronta, tangannya cuba menolak kain itu… tapi semuanya kabur. Suara Bobby, suara Daniel, suara jeritan dan bunyi pergelutan... semuanya bergema samar di telinganya.



Dunia menjadi gelap.

Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 2 - Seagung Cinta Ini

Bab 2 - Yang Hilang Bukan Cinta