Bab 6 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Perlahan-lahan, Lydia membuka matanya. Kepalanya terasa pening, tubuhnya lemah. Saat kesadarannya mulai kembali, dia mendapati dirinya terbaring di atas sebuah ranjang di dalam kamar sederhana yang asing baginya.
Ruangan itu cukup besar, tapi suram dan sunyi. Hanya ada sebuah ranjang tempat dia berbaring, sebuah meja solek yang juga berfungsi sebagai almari pakaian, satu kerusi kayu, dan sebuah meja bulat kecil. Langsir kelabu menutupi jendela kaca yang sudah tua dan berdebu, di baliknya tergantung renda putih yang tipis dan kusam.
Dinding kamar itu berwarna kekuningan, seperti sudah lama tidak dicat. Di salah satu sudut tergantung cermin muka panjang yang terlihat masih baru. Di tepi cermin itu, ada sebuah pintu berwarna kelabu dengan tombol pintu yang juga terlihat baru. Di sebelah kanan kamar, sebuah pintu kayu berwarna cokelat tua berdiri tegap, kelihatan kokoh dan juga masih baru.
Lydia panik. Jantungnya berdetak keras. Di mana ini? Apa yang terjadi padaku? pikirnya.
Tiba-tiba, bayangan anaknya memenuhi benaknya.
"Daniel! Di mana Daniel?!"
Tangisannya pecah. Dia menjerit, memanggil-manggil nama anaknya dengan penuh kepanikan.
"Daniel! Daniel!! Di mana kamu, Nak?! Mama di sini!"
Air matanya mengalir deras. Tubuhnya menggigil. Dia memaksa pikirannya mengingat apa yang terjadi. Dia ingat... dia tiba di kota ini bersama Daniel... Dia ingat pelukan ibunya... tangan ayahnya yang menggenggam erat bahunya... Bobby... Ya, Bobby ada di sana...
Dan... ada dua lelaki... mereka menghadang mobil... semuanya mulai kabur... Suara Daniel... samar-samar dia masih ingat suara kecil itu...
"Mama... Mama..."
Lydia terlonjak. Dia melompat turun dari ranjang, berlari ke arah pintu cokelat tua itu. Dengan tangan gemetar, dia memutar tombol pintu, tapi pintu itu terkunci dari luar.
"Tolong! Buka pintu ini!! Daniel! Di mana anak saya?!!! Tolong!!!" Jeritanya sekuat hati. "Mama....mama tolong....Om Bobby tolong Om"
Dia menangis sekuat hatinya, memukul-mukul daun pintu itu, berharap ada seseorang yang mendengarnya. Tapi sunyi. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara.
Air matanya belum kering saat matanya terpaku ke pintu kelabu di sudut kamar. Tanpa berpikir panjang, dia melangkah cepat ke sana. Siapa tahu itu jalan keluar? Atau tempat bersembunyi?
Dengan hati-hati, dia mendorong pintu itu. Tidak terkunci.
Saat pintu terbuka, harapannya pupus. Itu ternyata sebuah kamar mandi. Lengkap, bersih, peralatan mandi masih tersusun rapi.
Lydia terdiam. Napasnya memburu. Matanya kembali menyapu kamar itu.
"Kamar siapa ini...?" bisiknya lirih, suaranya serak oleh tangis.
Dia bersandar di dinding kamar mandi, tubuhnya perlahan melorot ke lantai. Ketakutan, kebingungan, dan kekhawatiran tentang anaknya membuat tubuhnya lemas tak berdaya.
"Ya Tuhan... di mana aku... di mana anakku...?"
Jerit Lydia dan dia jatuh terduduk lemah di lantai.
"Daniel.....dimana kamu nak? Dimana kamu sayang..... Daniel!!!" Jeritanya bergema di kamar yang dingin itu
Setelah hampir sejam dia menjerit dan menangis memanggil anaknya, dia rasa keletihan betcampur takut. Harapannya runtuh. Nafasnya memburu, dadanya sesak. Perlahan dia kembali ke ranjang, tubuhnya terhempas lemah di atas kasur.
Tangisnya pecah lagi.
"Daniel... Mama di sini, Nak... Mama di sini..." ucapnya lirih di antara sedu sedan yang tak tertahan.
Tubuhnya menggigil, pikirannya kalut, dan ketakutan itu semakin mencekik dada.
Apa yang sudah berlaku? Mana ibunya? Daniel Dan Om Bobby? Kemana supir itu?
Comments
Post a Comment