Bab 7 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 


Kemang Dalam, Jakarta

Pagi itu, mentari bersinar hangat di langit Jakarta, memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru kota. Namun, kehangatan itu sama sekali tidak meresap ke dalam rumah mewah milik Pak Harun di kawasan elit Kemang Dalam. Di dalam rumah itu, suasananya muram, sepi, dan penuh kesedihan.


Di meja makan berbentuk oval yang terbuat dari kayu jati ukiran halus, Ibu Marini duduk termenung. Wajahnya sayu, matanya sembab, dan tubuhnya masih terbalut daster tidur yang semalam belum sempat diganti.


Di atas meja, berbagai hidangan sarapan pagi tersusun rapi—roti bakar, nasi goreng, buah-buahan segar, dan teko kopi hangat. Namun semua itu seolah tak berarti apa-apa. Di hadapan Marini hanya ada segelas jus jeruk yang belum disentuh.


Hatinya remuk. Perasaannya luluh lantak. Harusnya, pagi ini menjadi pagi penuh kebahagiaan. Harusnya, dia duduk di meja itu bersama suaminya, bersama Lydia, putri tunggal kesayangannya, bersama cucu kecilnya, dan... bersama Bobby, pria yang sudah dianggap seperti adik kandung sendiri. Harusnya, pagi ini mereka sudah dalam perjalanan ke Bandung, ke rumah ibunya yang sudah renta tapi selalu menantikan cucu kesayangannya.


Tapi semua rencana itu hancur berantakan. Dia menyesal. Dadanya sesak oleh sebak tangis yang ditahan-tahan.  Menyesal kerana setuju dengan rancangan gila suaminya. Walaupun dia tahu Lydia masih berada di rumah ini tapi lydia terkurung dan dipisahkan dengan anaknya.


Marini memejamkan mata, kenangan semalam kembali berputar di kepalanya. Ia teringat saat menghubungi ibunya di Bandung, mengabarkan bahwa Lydia akan datang dari Malaysia bersama suami dan anaknya. Ibunya begitu bahagia, sampai-sampai berjanji akan memasak ayam betutu kesukaan Lydia dan membuatkan roti pisang Bolen Bandung, kegemaran cucunya sejak kecil.


Jasmine, adik bungsunya, juga tak kalah senang. Ia selalu menantikan kehadiran Lydia, keponakan cantiknya yang sudah lama tak pulang.


Namun semua itu sirna. Harapan mereka dipatahkan oleh satu keputusan suaminya—Pak Harun.


Dua hari sebelum kedatangan Lydia, Marini baru mengetahui rencana suaminya. Mereka bertengkar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hampir 28 tahun pernikahan mereka, Marini merasa takut dan kecewa terhadap pria itu. Selama ini, Pak Harun memang dikenal lemah lembut terhadap istri dan keluarganya, namun jika dia sudah memutuskan sesuatu, tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi atau membantah.


Marini tahu itu. Dan ia juga tahu, kali ini keputusan Pak Harun benar-benar melukai hatinya. Dia terpaksa akur walaupun dia tidak redha anak tunggal kesayangannya diperlakukan sedemikian.


Lebih menyakitkan lagi, ia ikut terlibat dalam kebohongan besar itu. Dialah yang menelepon Lydia di Malaysia, mengatakan bahwa ibunya sakit keras di Bandung. Dia bahkan membohongi ibunya sendiri di Bandung, mengatakan bahwa Lydia batal ke Jakarta karena suaminya kecelakaan. Semua itu atas permintaan Pak Harun.


Kini, semua kebohongan itu menghancurkan dirinya perlahan.


Marini menundukkan kepalanya di atas meja makan. Bahunya terguncang menahan isak. Air mata mengalir deras tanpa henti. Rasa bersalah, kecewa, dan rindu menyatu menjadi satu di dadanya.


"Maafkan mama, Lydia... Maafkan mama..." bisiknya pelan, suaranya tenggelam dalam tangisan yang pecah di pagi yang sepi itu.

Bobby yang sedari tadi tercegat di pintu kamarnya hanya membisu melihat suasana yang merobek hatinya. Dia membetul-betulkan kancing di hujung lengan bajunya. Gerakan itu tampak tenang dan teratur, tapi di matanya menyimpan gelisah yang sulit disembunyikan.


Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 2 - Seagung Cinta Ini

Bab 2 - Yang Hilang Bukan Cinta