Bab 9 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Di halaman belakang rumah itu, suasana tampak damai. Angin pagi berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan dan bunga-bunga yang menghiasi taman rumah. Di sudut taman, berdiri sebuah gazebo kecil berwarna cokelat tua, tempat biasanya Marini duduk menikmati waktu luangnya.
Hari ini, Marini duduk termenung di gazebo itu. Tatapannya kosong, jauh menerawang ke arah halaman. Di sana, terlihat Tika, pembantunya yang masih muda, baru berusia sembilan belas tahun, sedang bermain bersama Daniel, cucu kecilnya.
Tika begitu lincah, wajahnya selalu dihiasi senyum ramah. Dia menggiring bola warna-warni ke sana kemari, sementara Daniel berlari kecil mengejarnya dengan tawa riang yang pecah memenuhi udara.
Kadang-kadang, Tika mengajak bocah kecil itu bermain meniup busa sabun. Gelembung-gelembung bening berterbangan di udara, berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Daniel bertepuk tangan kegirangan, matanya bersinar polos, seolah tak ada beban dalam hidupnya.
Sesekali mereka bermain di buaian. Daniel duduk di atas ayunan kecil, kakinya menggantung, sementara Tika perlahan mendorong ayunan itu, membuat si kecil itu tertawa ceria.
Marini memandang semua itu dengan hati yang hancur, luluh lantak. Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya tercabik melihat cucunya tertawa lepas, tanpa sedikit pun memikirkan ke mana perginya sang ibu.
"Sepatutnya Lydia yang ada di sini..." bisik Marini dalam hati. "Sepatutnya Lydia yang mendampingi anaknya... yang membawanya bermain, yang menyusukannya..." Hatinya berbisik. "Lydia.....kamu dekat dengan ibu nak, dekat dengan putra mu Daniel....tapi ibu tak berdaya membebaskan kamu" Air mata Marini mengalir lagi dengan deras di pipinya.
Air mata mengalir perlahan di pipinya.
Tika yang sedang menggendong Daniel, menyodorkan botol susu ke mulut bocah itu. Daniel langsung mengisap susu dengan lahap, sambil memeluk erat boneka kecilnya.
Pemandangan itu membuat dada Marini terasa sesak. "Bukan begini seharusnya..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.
Tika yang sedang memeluk Daniel, sempat melirik ke arah Marini. Wajah gadis muda itu seketika berubah, raut cemas muncul saat dia melihat air mata di wajah majikannya.
Tika mendekat perlahan, masih menggendong Daniel.
"Ibu..." panggil Tika lembut. "Maaf ya, saya nggak bermaksud..."
Marini cepat menghapus air matanya, memaksakan senyum kecil.
"Nggak apa-apa, Tika..." katanya pelan, suaranya serak menahan tangis. "Kamu baik... kamu jaga Daniel dengan baik..."
Tika mengangguk, wajahnya lega, tapi dia tetap bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam terpancar dari tatapan Ibu Marini.
Daniel yang ada di pelukan Tika tiba-tiba melambaikan tangan ke arah Marini.
"Eyang..." panggilnya polos, senyumnya mengembang.
Hati Marini semakin hancur. Dia mengangguk pelan sambil mengelus dada, mencoba menahan perasaannya yang berkecamuk.
"Ibu janji, Nak... Kamu akan bersatu dengan ibu mu....pasti sayang" bisiknya dalam hati, penuh harap dan duka.
Marini yang sedari tadi hanya memandang dengan mata berkaca-kaca, spontan bangkit dari duduknya. Dia melangkah pelan mendekati cucunya, lalu meraih tangan kecil itu dengan lembut. Bibirnya mengecup pipi mulus Daniel penuh kasih.
"Sayang Eyang..." bisik Marini dengan suara parau, menahan gempuran perasaannya sendiri.
Tangannya tak lepas mengelus kepala cucu kecilnya, sementara matanya menatap wajah polos Daniel dalam-dalam. Di wajah bocah itu, dia melihat bayang-bayang Hisham—lelaki yang telah berjaya merebut hati puteri tunggalnya, Lydia.
Daniel... saling tak tumpah seperti ayahnya. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya menawan dan bersinar seperti milik Hisham. Tapi di saat-saat tertentu, terutama ketika Daniel tertawa atau merengek manja, wajah Lydia juga begitu jelas terpancar dari raut mungil itu.
Marini mengelus rambut ikal berombak milik cucunya, rambut yang sama persis seperti rambutnya dahulu... yang kemudian menurun kepada Lydia, dan kini, mengalir ke cucu kecil yang tak berdosa ini.
Hatinya rawan. Luka dan rindu bercampur jadi satu. Air matanya mengalir perlahan, tapi senyumnya tetap dipaksakan agar bocah kecil itu tak mengerti betapa hancur perasaannya.
"Kamu kuat ya, sayang..." bisiknya dalam hati. "Eyang janji......Eyang bakal bawa Mama kamu bermain dengan kamu di sini."
Tika yang berdiri di samping hanya diam, menatap penuh pengertian. Dia tahu, ada luka besar yang sedang ditanggung perempuan itu. Tapi dia juga yakin, cinta seorang ibu dan nenek... takkan pernah padam.
Comments
Post a Comment