Ban 35 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

Yang Hilang Bukan Cinta 


Di ruang tamu rumah Pak Harun, suasananya terasa sedikit tegang. Ibu Marini duduk di sisi suaminya dengan pandangan yang tidak tenang. Bobby dan Jasmine juga ada di situ. Mereka semua menunggu kedatangan seseorang yang dijanjikan akan hadir malam ini—Pak Andika, sepupu Pak Harun yang juga ayah kepada Andrian.


Pak Harun sudah tahu tujuan kedatangan sepupunya. Pak Andika ingin mendengar langsung jawaban Lydia atas lamarannya tempoh hari—lamaran untuk putranya, Andrian.


“Lydia mana, Mbak?” tanya Jasmine perlahan kepada Marini.


“Tadi katanya dia keluar sebentar sama Dani. Katanya mau ajak Dani makan di KFC,” jawab Marini sambil menghela napas.


“Dia tahu, kan, kalau Om Andika mau datang malam ini?” tanya Bobby.


“Tahu. Mbak sudah kasih tahu pagi tadi.”


Jasmine memandang kakak iparnya dengan mata penuh tanya. “Mbak… apa Lydia sudah kasih jawaban tentang lamaran Andrian?”


Marini menunduk. Suaranya perlahan dan berat. “Belum…”


“Dia itu keras kepala,” celah Pak Harun, nada suaranya tajam.


“Mas…” ujar Jasmine lembut tapi tegas. “Berilah dia waktu. Beri dia ruang untuk berfikir sendiri.”


“Yaa, berfikir… Tapi jangan diam terlalu lama sampai—”


“Mas!” potong Jasmine lagi, kali ini dengan suara yang lebih tegas. Pandangannya menembus mata Pak Harun. “Tolong… jangan atur hidup Lydia lagi. Dia sudah dewasa. Dia tahu mana yang baik dan buruk untuk dirinya sendiri.”


Bobby menyentuh lembut lengan isterinya. “Jas…”


Tapi Jasmine teruskan ucapannya, suara mulai bergetar, “Sudah tiba masanya Mas Har tahu… Mas Har sudah banyak melukai hati orang. Menyiksa perasaan Lydia dan suaminya. Menyiksa aku... Mas Bobby... dan juga almahrumah Kak Jen.”


Suasana menjadi hening.


“Sudah, Jas…” Bobby cuba menenangkan, memeluk bahu isterinya yang mulai menitikkan air mata.


“Aku bukan nggak tahu, Mas… Dulu Kak Jen pernah telepon aku waktu aku masih di Rusia. Dia menangis. Katanya dia mau pisah dari Mas Bobby. Katanya dia menyesal ikut rencana Mas Har dan Om Andika. Rencana nikah dengan Bobby hanya karena katanya umur Kak Jen tinggal dua atau tiga tahun saja... Padahal penyakitnya tidak separah itu. Tapi Mas Har malah paksa... malah ancam Bobby kalau sampai cerai, Mas Har akan hapuskan Bobby dari keluarga. Mau buang dia!”


Pak Harun mengangkat suara, “Bobby! Kamu cerita sama Jasmine?!”


“Bukan Mas Har....bukan Mas Bobby… tapi Kak Jen sendiri yang kasih tahu,” kata Jasmine. Syaranya bergetar.“Dia sudah ngak tahan....jadi jangan lagi paksa untuk Lydia buat keputusan terburu-buru. Biar dia bisa berfikir dengan tenang....bisa memilih orang yg dia cintai untuk membina masa depan bersama"


Pak Harun terdiam. Wajahnya keras, tapi matanya menunjukkan riak bersalah.


“Aku tidak akan paksa Lydia kalau dia tak setuju,” ucap Pak Harun akhirnya, nada suaranya berubah. “Terserah padanya… Aku ikut saja. Tapi bagaimana mahu menjelaskan pada Andika? Kita belum tahu apa keputusan Lydia.”


Tiba-tiba, loceng pintu berbunyi.


“Itu pasti Om Andika sudah sampai…” kata Jasmine. Dia bangkit dan berjalan menuju pintu.


Saat pintu dibuka, wajah yang familiar menyapa dari luar.


“Assalamualaikum…” ucap Lydia lembut. Di sisinya, Dani berdiri ceria sambil memegang tangan Andrian.


“Waalaikumussalam…” jawab Jasmine sambil tersenyum.


Dani langsung berlari masuk dan memeluk neneknya. “Tadi makan KFC, Kek! Sama Mama dan Om Rian juga!” Beritahu Dani pada Pak Harun yang mengelus lembut kepala cucunya.


Lydia dan Andrian masuk ke ruang tamu. Semua mata tertuju kepada mereka.


“Kok semuanya ada di sini? Ada apa ini?” tanya Lydia sambil memandang ibunya.


“Ayah Rian mau datang,” jawab Marini.


Andrian hanya mengangguk pelan. Dia sudah tahu tujuan ayahnya malam ini.


Tak lama kemudian, lampu mobil memasuki garasi. Loceng berbunyi lagi. Bobby segera bangkit membuka pintu, mempersilakan Pak Andika masuk.


Pak Andika melangkah masuk dengan senyum lebar. “Hahaha… Kamu sudah duluan ke sini, Rian?”


Wajah Andrian merona. Dia tersenyum dan menunduk sopan.


Setelah Pak Andika mengambil tempat di samping Pak Harun dan menikmati teh panas serta kuih-muih yang disuguhkan, dia menatap sepupunya.


“Mas Har… seperti yang aku katakan tempo hari, tentang lamaran untuk Rian…”


Pak Harun mengangguk perlahan. “Andika… kami belum dapat jawaban dari Lydia. Tapi sekarang dia sudah ada di sini…” Dia menoleh pada Lydia. “Tanyakan langsung padanya.”


Pak Andika menatap lembut ke arah Lydia. “Lydia… kamu setuju?”


Lydia menunduk, senyum malu-malu di bibirnya. Andrian menggenggam perlahan lengan Lydia dan berbisik, “Jawab, Sayang. Dari mulutmu sendiri. Aku ingin mereka dengar langsung darimu.”


Dengan suara yang sedikit bergetar, Lydia berkata, “Ya, Om. Lydia setuju.”


Dia melangkah ke sisi ibunya, dan Dani memeluk ibunya erat. Lydia menarik nafas panjang lalu berkata lantang, “Mama, Papa, Om Andika, Om Bobby, Tante Jasmine… Lydia sudah buat keputusan. Lydia terima Andrian.”


Suasana sunyi sesaat… lalu serentak mereka mengucapkan, “Alhamdulillah…” dan mengangkat tangan mengucap syukur kepada Allah SWT.


Pak Andika tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak baldu berwarna maroon dari saku jaketnya. “Aku bawa ini… untuk putriku yang baru.”


Dia menyerahkannya pada Pak Harun. Lelaki itu menerima dengan senyum damai, lalu menyerahkannya kepada isterinya, Marini.


“Yan… sarungkan cincin ini ke jari Lydia,” kata Marini perlahan, matanya berkaca.


Andrian membuka kotak itu perlahan. Cincin emas bertatahkan batu delima merah tua, warisan ibunya, bersinar dalam cahaya lampu. Dengan tangan yang sedikit menggigil, Andrian menyarungkannya ke jari manis Lydia.


Semua tersenyum, mata berkaca, hati penuh harapan.


Malam itu, mereka beredar ke ruang makan. Hidangan malam yang dimasak sendiri oleh Marini disajikan dalam suasana penuh kehangatan. Gelak tawa kembali memenuhi rumah besar itu. Luka-luka lama perlahan sembuh… dan malam itu menjadi saksi dimulainya kisah baru—kisah tentang cinta, keberanian, dan restu yang akhirnya tiba di waktu paling indah.

-----

Hampir dini hari baru mata Lydia terpejam sejenak. Namun bukan lena yang damai. Ia cuma sekelumit istirahat dari ribuan gelisah yang menyesak dada sejak malam menjelma.


Di atas kasur, dia duduk bersandar pada kepala ranjang, memeluk erat sebuah boneka beruang besar — boneka yang diberi oleh Andrian tak lama setelah mereka mulai semakin dekat. Boneka itu berwarna cokelat lembut, dengan pita satin biru di lehernya. Di balik senyum lucu boneka itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: perhatian, keinginan, dan cinta seorang lelaki yang perlahan masuk dalam hidupnya.


Namun malam ini, boneka itu bukan sekadar teman tidur Dani. Malam ini, boneka itu menjadi tempat Lydia bersandar — untuk mencari kekuatan, atau sekadar tempat mengadu dalam diam.


Dia memeluk boneka itu lebih erat. Lalu bertanya pada dirinya sendiri...


"Apakah keputusanku untuk menerima Andrian... adalah keputusan yang bijak?"


Pertanyaan itu bergema dalam hatinya seperti gema langkah di lorong sunyi. Tidak ada jawapan. Hanya rasa ragu yang membesar dalam diam.


"Adakah aku benar-benar mampu mencintai Andrian?"


"Ataukah... aku hanya ingin Dani punya figur seorang ayah dalam hidupnya?"


Air matanya bergenang. Namun seperti biasa, dia belajar menahannya. Menyimpan luka adalah kebiasaan yang dipelajarinya sejak lama.


Dia tahu... Andrian lelaki baik. Lelaki yang sabar, tulus, dan tidak pernah memaksa. Lelaki yang hadir saat hidupnya berserakan, dan pelan-pelan membantu menyusun kembali serpihan itu. Tapi... cukupkah itu untuk menumbuhkan cinta?


Atau... dirinya sendiri yang belum mampu melepaskan masa lalu?


Matanya terarah pada boneka yang dipeluknya. Hadiah dari Andrian. Bukti kasih sayang seorang lelaki yang ingin menjadi bahagian dalam hidupnya — bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Dani.


Namun... dalam hatinya yang paling dalam, Lydia masih bertanya...


"Andrian... kau begitu baik. Tapi dapatkah aku mencintaimu dengan seluruh hatiku... bila hatiku pernah dimiliki oleh orang lain?"


Malam terus larut. Jam berdetik perlahan, seolah memberi ruang bagi jiwanya yang tak tenang. Sementara dari kamar sebelah, nafas kecil Dani terdengar damai. Tidur lena seorang anak yang belum mengerti betapa rumitnya dunia orang dewasa.


Lydia menghela nafas panjang. Dia rebahkan tubuhnya perlahan, masih memeluk boneka itu — seolah memeluk harapan yang belum sempat tumbuh, dan kenangan yang belum sempat padam.


Di matanya yang perlahan terpejam, hanya ada satu doa.


"Ya Tuhan... tuntun aku. Bila benar ini jalannya, maka tenangkanlah hatiku. Dan jika tidak... jangan biarkan aku melukai hati sesiapa pun yang ikhlas hadir dalam hidupku."




Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini