Ban 8 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta
Yang Hilang Bukan Cinta
Pintu geser menuju ruang makan perlahan terbuka. Sosok Pak Harun muncul di ambang pintu, langkahnya tenang dan berwibawa. Di belakangnya, Ririn, si pembantu rumah yang bertubuh gempal dan berwajah ramah, mengekor dengan cepat, membawa teko kopi di tangannya.
Pak Harun langsung menuju meja makan tanpa berkata sepatah kata pun. Wajahnya seperti biasa, tenang, sukar ditebak perasaannya. Hanya saja, matanya sedikit menyipit saat melihat Marini duduk di meja itu dengan wajah tertunduk, bahunya terguncang perlahan menahan tangis.
Ririn yang berada di belakang Pak Harun turut terkejut. Dahinya berkerut, tatapannya penuh tanda tanya. Dia kenal betul dengan keluarga ini. Meski mereka orang berada, sikap mereka selalu sopan dan penuh kehangatan. Tapi pagi ini... ada sesuatu yang jelas tidak beres.
Tanpa banyak bicara, Ririn meletakkan teko kopi di atas meja, lalu segera menuangkan secangkir kopi panas seperti kebiasaan Pak Harun setiap pagi. Tangannya cekatan, walau matanya terus mencuri pandang ke arah Marini yang masih terisak.
Pak Harun duduk, mengangguk kecil sebagai ucapan terima kasih pada Ririn.
"Terima kasih, Rin," ucapnya singkat, suaranya tetap lembut tapi berisi.
Ririn tersenyum tipis, kemudian dengan cekatan mengambil piring dan meletakkan beberapa potong roti bakar kegemaran tuannya ke atas meja.
Selesai tugasnya, Ririn segera mundur, berdiri di sudut ruang makan seperti biasa. Diam, namun matanya tetap awas memperhatikan.
Pak Harun meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas meja. Tatapannya tajam, namun tenang, menyapu ke sekeliling ruang makan. Pandangannya berhenti pada sosok Ririn yang berdiri di sudut ruangan, seperti biasa menanti arahan.
"Ririn..." suara Pak Harun memanggil perlahan, tapi cukup jelas.
Ririn yang bertubuh gempal itu segera melangkah mendekat. Wajahnya yang ramah tiba-tiba berubah cemas saat matanya melihat Nyonya Marini masih menunduk di meja makan, menangis tersedu-sedu. Tapi dia tahu, itu bukan urusannya untuk bertanya.
"Iya, Pak?"
"Panggil Bobby ke sini. Mungkin dia masih di kamar," ujar Pak Harun singkat. Dia tahu semalam Bobby tidak kembali ke rumahnya selepas mereka selesai membawa Lydia yang tidak sedarkan diri ke kamar di ruang bawah tanah. Bobby kata dia akan tidur di kamar yang dekat sekali dengan kamar di bawah tanah itu untuk mendengar atau berjaga-jaga sekiranya ada perkara yang buruk berlaku pada Lydia.
"Baik, Pak." Ririn segera bergegas ke arah ruang yang menempatkan beberapa buah kamar.
Langkah Ririn terdengar cepat menuju ke kamar Bobby tetapi dia terhenti bila dia melihat Bobby yang sudah rapi dengan pakaian kantornya berjalan pelan menuju ke ruang makan.
"Selamat pagi Mas...mbak" ucap Bobby sebaik saja dia sampai di meja makan. Dia menarik kerusi dan langsung duduk.
"Selamat pagi" jawab Pak Harun dan matanya memandang kepada Bobby kemudian melirik kepada isterinya yang masih tunduk menangis teresak-esak.
Bobby faham maksud pandangan itu. Dia tahu Pak Harun terpaksa meneruskan rancangan ini walaupun tanpa kerelaan isterinya.
Ririn melangkah cepat ke meja makan, membawa teko kopi di tangannya. Dia tahu betul rutinitas di rumah itu, terutama bila ada Bobby, tangan kanan Pak Harun, yang biasanya akan disuguhkan kopi hangat seperti tuannya.
Tanpa banyak bicara, Ririn meraih cangkir tambahan untuk Bobby dan mulai menuang kopi panas ke dalamnya.
Namun sebelum kopi itu mengisi separuh cangkir, suara Bobby menghentikannya.
"Jus jeruk saja, Rin." Ucap Bobby tenang, suaranya datar tapi jelas. Sambil berbicara, dia mengulurkan gelas kaca kristal bening miliknya ke arah Ririn.
Ririn sedikit terkejut, namun cepat-cepat mengangguk sopan.
"Baik, Pak."
Dengan cekatan, dia meletakkan teko kopi kembali ke atas meja, lalu mengambil pitcher berisi jus jeruk dingin yang tersedia di atas meja. Tangannya sigap menuangkan jus jeruk ke dalam gelas kristal Bobby hingga hampir penuh.
Setelah itu, dia meletakkan pitcher kembali, mengambil langkah mundur, lalu berdiri di sudut ruang makan seperti biasa—diam, tenang, namun matanya tetap awas memperhatikan suasana yang penuh ketegangan itu.
"Ma....sudah lah. Lydia baik-baik saja. Pergilah kembali ke kamar dan istirahat" kata Pak Harun kepada isterinya.
Ibu Marini mengangkat kepalanya dan duduk tegak di kerusi. Dia menyeka sisa air mata yang bergenang di kelopak matanya. Wajahnya kelihatan pucat dan bibirnya kelihatan bergetar menahan tangis.
"Malam tadi saya ada di sini, mbak....saya tidak lagi mendengar Lydia teriak-teriak" Kata Bobby sambil mencicip jus jeruknya.
"Tapi kamu tidak tahu apa yang terjadi pada dia kan? Dia pengsan atau melukai dirinya lagi." Kata Ibu Marini diselangi suara tangisnya. Dia memandang Suaminya dengan mata yang penuh kecewa "Pa....jangan lupa Pa ....dia pernah cuba bunuh diri gara-gara bapak mengancam mau habisin Hisham".
"Kali ini pasti tidak. Dia perlu fikir seribu kali kalau mau bunuh diri. Dia pasti fikirkan anaknya". Kata Pak Harun tegas. Dia meneguk sisa kopi yang ada dalam gelas dan cepat-cepat bangun dari kerusinya.
Bobby turut ikut bangun tapi Pak Harun menahannya.
"Kamu bicara pelan-pelan pada kakak mu. Yakinkan dia Lydia baik-baik saja" katanya separuh berbisik dan menepuk bahu Bobby lembut.
Bobby hanya mengangguk.
Comments
Post a Comment