Bab 14 - Di Bawah Lembayung Merah Jakarta

 Yang Hilang Bukan Cinta 


Petang itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang tamu. Wajah-wajah tegang memenuhi ruangan. Pak Harun, Ibu Marini, Lydia, Tante Jasmine, Bobby Sugara, dan Pak Andika Prasetyo duduk membentuk lingkaran.


Di atas meja, telefon genggam Pak Harun bergetar. Nama si pemanggil tidak dikenali, namun semua sudah tahu… itu pasti dari 'penculik'.


Pak Harun menekan tombol speaker, suaranya tegas namun tetap berusaha tenang.


"Semua dengar baik-baik," ucapnya pelan.


Suara garau lelaki di seberang sana kedengaran jelas di ruangan itu.


"Kami minta uang tebusan… sepuluh miliar rupiah… atau nyawa cucumu hilang."


Ruangan langsung terasa membeku. Lydia menutup mulutnya, tubuhnya bergetar hebat.


Pak Harun menarik napas dalam. "Aku mau bukti… aku mau dengar suara cucuku… baru uang itu kami siapkan."


Terdengar suara lelaki itu tertawa kecil, lalu beberapa detik sunyi.


Tak lama kemudian, suara tangisan seorang anak kecil mengisi ruangan.


"Mama… Mama… tolong… Mama…"


"Daniel…!" Jeritan Lydia memecah suasana. Dengan panik, dia meluru ke arah Pak Harun, hendak merampas telefon di tangan ayahnya.


"Kasih ke aku… aku mau bicara sama anakku…! Daniel…! Mama di sini, Sayang…!"


Tante Jasmine dan Ibu Marini cepat-cepat menahan tubuh Lydia. Mereka memeluknya erat, khuatir tindakan Lydia membuat si penculik memutuskan sambungan.


Lydia terus menangis, tubuhnya terkulai di pelukan ibunya.


"Sabar, Sayang… sabar… kita akan selamatkan Daniel… percayalah…," bisik Ibu Marini dengan suara bergetar.


Bobby yang duduk di sofa memandang semua itu dengan hati yang bergelora. Tatapannya jatuh ke wajah Lydia yang basah oleh air mata. Hatinya diremas rasa bersalah yang teramat.


Dia menundukkan kepala, menahan sesak di dadanya.


Maafkan Om, Lydia… Om harus ikut dalam rencana kejam ini… Om terpaksa…


Bobby bangkit dari sofa. Dia melangkah perlahan keluar dari ruang tamu, tak sanggup melihat dan mendengar tangisan seorang ibu yang dipisahkan dari anaknya.


Bayangan masa kecilnya terlintas — dirinya sendiri… anak yatim piatu… tidak pernah mengenal wajah ibu dan ayah kandung.


Bobby memejamkan matanya rapat-rapat.

Tidak… Daniel tidak boleh alami nasib seperti aku… bisik hatinya.


--------

Bobby Sugara duduk termenung di gazebo di halaman bungalow dua tingkat itu. Pandangannya kosong, menatap ke arah langit petang yang gelap, seolah mencari jawapan yang tak kunjung datang.


Suara langkah perlahan terdengar mendekat.


Tante Jasmine muncul dari balik lorong taman, menghampiri Bobby dengan wajah tenang, meski sorot matanya masih menyimpan luka.


"Mas… Papa panggil kamu ke ruang tamu. Ada yang mau dibicarakan," ucap Jasmine pelan.


Bobby menoleh, sorot matanya penuh penyesalan.


"Jasmine… aku minta maaf…" suaranya serak.


Jasmine menggeleng kecil, senyuman pahit tersungging di bibirnya.

"Aku tahu, Mas… Mas Bobby nggak salah. Aku juga terpaksa terlibat dalam rencana Papa. Kita semua… terpaksa."


Bobby menarik napas berat, menundukkan kepala.


"Ya, Jas… kita semua ditekan. Kalau kita ingkar… kamu tahu kan akibatnya?"


Jasmine mengangguk perlahan. Tak perlu penjelasan panjang. Dia sudah terlalu faham apa yang dimaksudkan. Tanpa sepatah kata lagi, mereka melangkah bersama menuju ruang tamu.


---


Di ruang tamu, suasana jauh lebih hening namun penuh ketegangan.


Lydia terduduk berlutut di lantai, kedua tangannya memegang lutut Pak Harun sambil menangis teresak-esak. Tubuhnya bergetar, suara tangisannya mengharukan siapa saja yang melihat.


Melihat itu, Jasmine segera melangkah cepat ke arah Lydia, lalu memeluknya erat.


"Kenapa Lydia? Apa yang terjadi?" tanya Jasmine cemas.


Lydia membalas pelukan tante-nya, air matanya tak henti mengalir.

"Tolong, Tante… tolong… selamatkan Daniel…" suaranya bergetar, penuh luka.


Jasmine menoleh ke arah Pak Harun. Wajahnya serius, sorot matanya penuh tanya.


"Apa-apaan ini, Mas?"


Pak Harun duduk bersandar, wajahnya tegang.


"Penculik minta uang tebusan… hari ini juga… sebelum jam lapan malam ini. Kalau tidak… Daniel…" suara Pak Harun terhenti, nadanya berat.


Tangisan Lydia semakin keras memenuhi ruangan. Bobby hanya berdiri di sudut, memandang semua itu tanpa kata.


Pak Andika yang sedari tadi diam, maju mendekat ke arah Pak Harun.

"Bayarkan saja uang itu, Har… demi cucumu."


Pak Harun menggeleng perlahan, wajahnya keras.


"Jumlah itu terlalu besar. Akan aku fikirkan dulu…"


Lydia merangkak, tubuhnya lemah namun rasa cemasnya mengalahkan segalanya. Dia menundukkan kepala di kaki ayahnya, air mata membasahi lantai.


"Tolong, Ayah… tolong… selamatkan Daniel… kumohon…" Lydia merayu lirih.


Wajah Pak Harun tetap tegang, namun di balik ketegasan itu, hatinya tertawa puas. Melihat Lydia berlutut di kakinya adalah momen yang sudah lama ia tunggu. Ini adalah caranya untuk menguasai anak perempuan keras kepala itu.


Pak Harun berdiri, menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam, suaranya berat dan berkuasa.


"Bisa… aku bisa selamatkan Daniel. Tapi ada syaratnya." Matanya melirik ke arah Lydia yang terkulai menangis di lantai. "Kamu harus janji… tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Hisham. Jangan ingat lagi lelaki itu… lupakan dia selamanya. Kalau tidak… kamu nggak akan lihat anakmu lagi."


Tangisan Lydia makin pecah. Tubuhnya berguncang hebat, isakannya memenuhi ruangan.


Jasmine memejamkan mata. Hatinya bagai ditusuk sembilu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut abang kandungnya sendiri.


Kata-kata itu… terlalu familiar… terlalu menyakitkan.


Ingatan lama menyergap Jasmine… dua dekade yang lalu… di hari pernikahan Bobby dengan Jennisa, suara tegas Pak Harun terngiang jelas di telinganya.


"Jasmine… lupakan Bobby. Jangan hubungi dia lagi. Lupakan dia dari hidupmu. Sekarang dia sudah punya istri. Jauhi dia. Kalau Mas tahu kamu masih berhubungan… kamu tahu akibatnya buat Bobby."


Saat itu, dia hanya terdiam. Luka di hatinya tergores dalam. Dia memilih pergi, melanjutkan studi ke Rusia, meninggalkan semua… meninggalkan Bobby… meninggalkan cinta yang tak pernah padam… hanya untuk berubah menjadi luka yang diam-diam terus membusuk di hatinya.


Kini, kata-kata itu diulang kembali… tapi ditujukan kepada Lydia.


Hatinya bergetar. Jasmine memeluk Lydia lebih erat, seolah ingin melindungi keponakannya dari luka yang pernah ia rasakan sendiri.


Sementara di sudut ruangan, Bobby menunduk, kedua tangannya mengepal kuat. Luka lama, penyesalan, dan rasa bersalah membebani dadanya… terlalu berat untuk ditanggung… tapi dia tak punya pilihan.









Comments

Popular posts from this blog

Bab 1 - Yang Hilang Bukan Cinta

Bab 7 - Cinta Yang Tak Pernah Pergi

Bab 2 - Seagung Cinta Ini